Kondisi kampus UMRAH menurut pandangan saya

IMG_20160213_143454

Fisip umrah mempunyai letak yang cukup strategis berada dipusat provinsi kepri. Berada di pesisir laut dompak. Namun saya bingung apakah letak di pesisir pantai dikatakan Kampus maritim ?

Infrastruktur, Umrah universitas yang masih dalam proses meunuju kedewasan, kampus yang masih baru sekitar 8 tahun, sehingga masih banyak yang perlu dibenahi, dilakukan dalam peningkatan infrastruktur pendukung kemajuan kampus. Namun sepertinya progress berjalannya tidak significant, bergerak melambat. Saya berfikir hal yang sangat perlu dibangun di kampus yaitu fasilitas Perpustakaan yang lengkap, bebas akses( free wifi) ,  kondusif, nyaman untuk belajar, berdiskusi. Infrastruktur memang fasilitas pendukung, namun bukan berarti tidak perlu.

Pelayanan Birokrasi ya, Birokrasi fisip sedikit membaik dibandingkan kemarin, mungkin karena rotasi pegawai kali ya. Wah dulu pelayanan fisip begitu lelet dan berbelit, apalagi dalam pembuatan surat selalu salah dalam penegetikan dll. Tindakan bijak ada media pers umrah kali ini peduli sama umrah. sangat disayangkan tidak adanya kotak komentar masalah pelayanan sehingga kami tidak bisa komentar atas pelayanan tak tidak prima.

Umrah mempunyai visi menjadi Universitas Maritim  terkemuka di Indonesia dan dunia, ya mungkin saja, saya optimis para pemimpin kampus dan pendiri kampus maritime tentunya mempunyai strategi dalam pembangunan kampus maritime, ya kita lihat saja nanti….

Kalo sekarang ya, menurut saya kampus berbasis maritim memang sangat langka dan jarang sekali. Pihak akademisi dan pihak pemerintah menurut saya harus sama bersinergi dalam hal pembangunan kampus kemaritiman ini. Beberapa hal yang perlu ada dalam kampus maritim yaitu harus jelasnya arah maritim dalam skema kampus maritim, pengenalan dan fokus maritim seperti apakah saja, Penajaman ilmu dan teknologi tentang kemaritiman, jadi didalam mata kuliah harus mengekplorasi tentang kemaritim, namun bukan berarti semua harus maritim, Besar harapan saya kedepannya UMRAH mempuyai fakultas ataupun program studi Kemaritiman dan menajdi terkemuka di Indoensia..

Oleh : Allimin

GADIS MADIHIN

 

 

bahan cerpen

Oleh  : Uci Misdawati

Malam dibawah rintikan hujan terdengar suara alunan gendang dan syair dari kakekku yang sedang bermadihin di pondok samping kanan rumahku. Perutku terasa menggelitik dan tak hentinya aku tertawa karena syair syairnya yang sangat lucu namun penuh dengan nasehat yang dirangkai dalam pantun jenaka yang membuatku terhibur jikamendengar kakekku bermadihin. Konon ceritanya, Madihin adalah merupakan genre atau jenis puisi rakyat berbahasa banjar yang bersifat hiburan. Madihin dituturkan dengan cara dihapalkan (tidak boleh membaca teks). Didalam bahasa banjar itu disebut “Bemadihinan”. Bemadihinan ini sudah ada sejak masuknya agama islam kewilayah kerajaan Banjar pada tahun 1526 Ujar kakekku. Kesenian bermadihin biasanya di tampilkan masyarakat pada acara pernikahan dan saat pentas hiburan rakyat. Namun sekarang ini Bermadihin sudah jarang di temui karena kesenian itu kalah hebohnya dengan orgen tunggal yang sekarang ini sering di minati masyarakat.  Kakek sangat terampil dalam mengolah kata sesuai dengan tema dan acara Bermadihin yang ia laksanakan. Tiap malamnya kakek selalu berlatih di pondok ini tua ini bersama sahabatnya yaitu kakek ujang. Walaupun bermadihin sudah kurang diminati, namun dua kakek bersahabat ini sangat optimis, Madihin akan selalu ada pencintanya dan tak akan hilang di kikis Moderenisasi.  Kakek Ujang dan kakekku sangat cocok dalam bermadihin,Kakek ujang adalah seniman musik yang mengiringi syair kakekku dengan gendangnya. Aku pun sepertinya sudah ketularan kakekku karena aku jugaberbakat dalam bermadihin dan membuat cerita lucu.

Adzan subuh telah membangunkan tidurku yang lelap, kemudian terdengar juga suara nenek yang memanggi namaku mengingatkan untuk shoat subuh. Aku kemudian langsung mandi dan berwudhu untuk melaksanakan sholat. Setelah sholat subuh seperti biasa aku membantu nenek menyiapkan sarapan didapur dan kemudian  bersiap-siap untuk pergi kekampus. Aku tinggal bersama kakek dan nenek ku karena ayah dan ibuku sudah dua tahun menghilang akibat kecelakaan pesawat. Sampai sekarang aku tidak tau apakah mereka masih hidup di dunia ataupun sudah tiada,. Namun, yang jelas mereka tiada disisi ku saat ini. Sunggu rasa tersayat hati dan menyedihkan jika mengingat mereka. Jujur dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat merindukan mereka. Jika memang mereka telah meninggal dunia, lalu dimanakah jasadnya ? dan jika mereka masih hidup, kenapa tidak pernah mencari dan menemuiku ?.. Pertanyaan ini yang selalu ada di benakku saat aku merindukan kedua orang tuaku.

“Mutia cucuku, sepatlah bergegas. Itu teman kampusmu sudah menunggu diluar”. Nenek memanggilku.” Iyaaa ini masih bersiap-siap nek, sebentar lagi Mutia keluar”. Sahutku. Setelah bersiap terlihat seorang gadis dengan pakaian yang rapi dan juga mengenakan hijab duduk diatas motor maticnya sepertinya sudah siap untuk pergi bersamaku menuju kampus yang bukan lain adalah sahabatku Syifa. Syifa adalah cucu dari kakek Ujang sahabat sekaligus rekan kakekku dalam bermadihin. Hari ini syifa menjemputku karena motorku akan dipakai oleh kakek untuk pergi bermadihin di desa sebelah bersama kakek ujang.

Sesampainya dikampus, aku dan Syifa berlari menuju kelas karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.15, untungnya dosen belum masuk karena toleransinya hanya 15 menit. Bersyukurlah aku pagi ini.  Setelah keluar kelas, perut kami terasa lapar akibat sama-sama belum sarapan dirumah. Aku dan Syifa pun langsung menuju kantin untuk mengisi perut kami yang keroncongan. Saat berjalan menuju kantin, aku melihat papan mading kampus dan yang menarik perhatianku adalah di situ ada pengumuman bahwa telah dibuka pendaftaran untuk Festival Budaya Nasional yang diadakan oleh Balai Bahasa kota Pekanbaru. Terlintas di pikiranku untuk mengikuti festival ini. bukan hanya untuk menguji dan mengadu bakat tapi tujuan utamaku adalah untuk memperkenalkan dan menghidupkan lagi kesenian budaya Bermadihin bagi masyarakat banjar  yang ada di Riau.  Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung mencatat kontak yang bisa dihubungi untuk pendaftaran festival budaya nasional ini. dan kemudian kami melanjutkan acara sarapan kami yang tertunda dikantin kampus akibat pengumuman yang mengalihkan perhatianku.

Siang pun berganti dengan indahnya malam dengan rembulan yang terang menderang dilangit. Kakek dan enek pun duduk diteras sambil menyantap teh dan pisang goreng hangat buatanku dan nenek.  Aku pun ikut duduk bersama bersama mereka. Perbincangan hangat bersama mereka membuatku teringat akan Festival budaya yang tadi ku baca di papan mading kampus. “Kek, nek, aku ingin membicarakan suatu hal. Ucapku memuka pembahasan”. “Apa itu cu ? apakah kamu bermasalah dikampus ?, jawab nenek. Oh tidak nek, mana mungkin cucu nenek yang sebaik ini bermasalah dikampus” Celetukku. Kakek kemudian bertanya” Lalu apa yang ingin kamu bicarakan, sepertinya penting sekali ?”. Ia kek ini penting, tadi aku melihat pengumuman di papan mading kampus, ada acara Festival budaya nasional kek, aku ingin sekali mengajak kakek untuk ikut festival ini. Awalnya kakek ragu, Namun akhirnya ia setuju untuk ikut karena melihat cucu nya ini sangat antusias untuk mengikuti acara ini dan aku pun langsung menghubungi panitia penyelenggara dan mendaftarkan grup madihin kami. “Tapi ingat tanyakan dahulu pada Kakek ujang, apakah dia mau untuk maju bersama dalam festival ini, kau liat sendiri kami ini sudah tua begini cucu ku”. Ucap kakek. “Fisik kakek memang terlihat tua, tapi jiwa muda dan jenaka kakek masih ada, baiklah kek, besok akan aku tanyakan kepada kakek ujang”. Kakek dan nenek ku pun tertawa mendengar celotehanku itu.

Keesokan harinya, di pagi minggu yang cerah aku, kakek dan nenek berjalan santai bersama mengelilingi kampung. Namun saat kami melewati rumah kakek ujang terlihat Syifa sedang termenung di depan rumah. Lalu ku hampiri ia dan bertanya “ Kenapa syifa ? wajahmu murung sekali, kamu sendirian dirumah ?”. “Mutia kakekku baru saja dibawa kerumah sakit, kakekku terkena serangan jantung tadi setelah sholat subuh. Deggg!! Aku, kakek dan nenek sontak terkejut mendengar kabar ini. setelah mengetahui ini kami bertiga pun berpamitan pulang dan ingin langsungpergi ke Rumah sakit untuk menjenguk kakek ujang yang terbaring lemah di rumah sakit. Padahal hari ini aku ingin mengajak kakek ujang mengikuti Festival budaya, namun sepertinya ada halangan seperti ini. Padahal grup madihin kami sudah aku daftarkan di Festival.

Sesampainya di Rumah sakit aku melihat kakek Ujang memang terbaring lemah di ruangan perawatan. Setelah dua minggu kkakek ujang dirawat, kakek ujang tidak sadarkan diri selama itu, kami pun menjenguk kerumah sakit lagi. Ku lihat raut wajah kakekku yang sangat bersedih karena sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri itu lemas tidak berdaya dan tak sadarkan diri. Kemudian kakekku duduk disebelah kakek ujang dan berbisik “Semangatlah jang, bangun dan lawan penyakitmu, kami disini selalu mendoakanmu, ingatkah kau kita selalu bermadihin bersama sama”. Dan tidak terasa air mata kakek ku menetes. Aku pun ikut bersedih melihat persahabatn dua kakek kakek ini. mereka dipertemukan karena sebuah kesenian madihin yang menjadi profesi mereka berdua yaitu Seniman madihin.

Festival Budaya Nasional Tinggal  dua minggu lagi, aku dan kakek selalu berlatih berbalas pantun dan bersyair dalam bahas banjar, namun iringan gendang yang seharusnya dilakukan oleh kakek ujang tiada terdengar. Lagi lagi kakekku bersedih mengingat kakek ujang. Lalu kakekku bercerita bahwa mereka sudah lama ingin mengikuti Festival Budaya ini, karena kami rasa bermadihin ini memang sudah hampir punah dan langka di Riau ini, kami berdua hanya ingin memperkenalkan dan menghidupkan lagi kesenian yang dulu menjadi hiburan para masyarakat banjar yang ada di Riau. Mendengar semua itu aku makin bersemangat untuk terus berjuang dalam festival ini.

Tok tok tok” Assalamualaikum. “ Walaikumsalam. Sahutku. Setelah mebukakan pintu kulihat Syifa dan Ayahnya yang ingin bertamu lalu langsung kupersilahkan mereka duduk dan tak lupa pula ku panggilkan kakek dan nenek. “Wah, nak Bagas apa kabarnya ini? bagaimana keadaan bapakmu sekarang?” Ujar kakek ku. “Alhamdulillah saya baik pak, kalau Bapak saya masih belum sadarkan diri pak. Maksud saya kesini, saya ingin menanyakan kepada bapak, apa benar bapak dan cucu bapak Mutia ingin mengikuti Festival budaya nasional minggu depan ?” ucap pak Bagas.  Ia om Bagas, aku dan kakek mengikuti festival itu, namun kami tidak ada pengiring gendang dalam madihin. “Nah itu dia, saya bersedia membantu untuk itu, karena saya juga lumayan mahir memainkan gendang madihin, karena ini juga berkat ajaran bapak saya, Dan saya juga ingat, kalau festival seperti ini adalah salah satu impian bapak saya, namun mengingat keadaannya sekarang, saya akan berusaha menampilkan yang terbaik untuk bapak saya”. “Alhamdulillah”. Terucap dari mulutku dan kakek secara bersamaan. Akhirnya seniman dalam madihin kami sudah lengkap. Dengan waktu yang kurang dari seminggu kami terus berlatih untuk menampilkan yang terbaik.

Akhirnya hari yang dinanti nanti pun tiba, aku, kakek, dan om Bagas memakai baju adat Banjar, diantara mereka memang aku yang paling muda, inilah yang mebuat beda, karena biasanya penampilan bermadihin hanya ditampilkan oleh orang orang yang sudah lanjut usia. Namun sebelum berangkat ke festival, kakekku ingin menemui sahabat karibnya yang masih terbaring di Rumah Sakit. Sesampainya dirumah sakit kami membiarkan kakek berbincang dengan kakek ujang, walaupun kenyataannya kakek ujang tidak bisa merespon. Kami hanya memperhatikan dari luar, kakekku memohon restu kepada kakek ujang supaya kami bisa menang dalam festival, karena kemenangan ini di hadiahkan uang sekian juta dan yang paling penting adalah Program Tv yang akan menayangkan kesenian budaya yang di miliki oleh pemenang dalam festival ini yang akan ditayangkan pada setiap malam sabtu. Dengan berlinang air mata kakekku berbincang dengan kakek ujang. Karena waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi, akhirnya kami harus bergegas menuju festival karena 30 menit lagi giliran kami yang menampilkan kesenian budaya madihin. Namun, kami terkejut, saat kakekku beranjak pergi, tangannya terasa di genggam da ternyata kakek Ujang sadarkan diri, kemudian Ia tersenyum mengangguk seolah menyemangati kami untuk bisa memenangkan festival ini.kemudian kami langsung berangkat ke Festival dengan semangat ditambah lagi kakek ujang yang sudah sadarkan diri dari komanya.

Sesampainya disana, kami langsung dipanggil naik ketas panggung untuk menampilkan kesenian budaya banjar yaitu “Bermadihin”. Semua orang yang menonton terasa selalu tertawa dan merasa terhibur dengan syair jenaka dan bernasehat yang kami tampilkan. Kemudian tepuk tangan mereka lah yang membuat kami sedikit lega untuk menampilkan bermadihin kami ini. Setelah semua peserta tampil, tiba lah pengumuman pemenang dalam festival ini. Dan ternyata kami memenangkan Festival Budaya Nasional yang diadakan oleh balai bahasa kota Pekanbaru,. Kami sangat bersyukur dan sangat bahagia, akhirnya apa yang kami semua harapkan tercapai. Setelah pengumuman pemenang tiba –tiba nenek dan syifa datang dengan tergesa-gesa, dan pada akhirnya kami mendapatkan kabar duka, bahwa kakek ujang telah Meninggal Dunia.

 

 

Selesai ..

Partisipasi mahasiswa umrah dalam lokakarya direktorat jenderal bina pemerintahan desa

 

vgjfj

photo bersama prof. Dr. Andi gani, M.Si merupakan Guru besar UB malang seusai acara lokakarya pada hari pertama ( ,f.istimewah )

Bintan(Kreatif) – Demi kelancaran program direkoktorat jenderal bina pemerintahan desa kementrian dalam negeri melaksanakan lokakarya pemerintahan desa bertempat di hotel Sahid Bintan pantai Trikora Kabupaten Bintan, kamis (19/05/2016)

Kegiatan lokakarya ini dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 19 – 21 mei 2016 dengan di ikuti oleh berkisar 50 peserta yang di hadiri oleh beberapa instansi  yaitu biro tata kelolah provinsi, Dpm Kota, Inspektorat kepri, 5 perwakilan camat dari tiap kota,dan para akademisi Mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji, Universitas Riau kepulauan, tampak hadir rektor umrah dalam pembukaan acara lokakarya tersebut.

ada pun bentuk kegiatan ini yaitu lokakarya pemerintahan desa , tujuan kegiatan ini yaitu untuk melihat dua regulasi yang selama ini mengatur perangkat desa yakni UU 6/2014 tentang Desa dan peraturan pemerintah (PP) ternyata tidak banyak menyentuh aparatur desa. Aparat desa bahkan cenderung dilupakan.

”Bahwa perangkat desa membantu kepala desa, sekilas dilihat memang tidak terlihat. Seolah-olah terbitnya uu no.6/2014 belum bisa dilaksanakan dalam penerapan nya secara efektif ,” ujar Imran direktur jenderal dalam kegiatan lokakarya.

Sehingga acara lokakarya ini dapat menghasilkan sebuah rekomendasi kebijakan untuk membantu direktorat jenderal bina pemerintahan desa dalam membuat kebijakan kebijakan.(beto)

Menristekdikti Lantik Rektor dan Direktur Perguruan Tinggi Negeri

3-1200x800

Berdasarkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Nomor 1 tahun 2016 Tentang pengangkatan dan pemberhentian rektor/ketua/direktur pada Perguruan tinggi negeri, Kemenristekdikti menggelar upacara pelantikan dan serah terima jabatan rektor perguruan tinggi negeri dan direktur politeknik negeri, di Auditorium Gedung D, Kemristekdikti (17/05/2016)

Upacara pelantikan dimulai dengan pembacaan keputusan menteri ristekdikti, pengambilan sumpah jabatan, dan pembacaan pernyataan pelantikan kepada rektor dan direktur perguruan tinggi, yaitu Prof. Dr. H. Husain Syam, M.T.P sebagai Rektor Universitas Makassar  (UNM), Prof. Syafsir Akhlus, M.Sc sebagai rector Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Dr. Ir. Jacob Manusawai, M.H sebagai rektor Universitas Papua (Unipa) dan Dr. Ir. Muhamad Ali Yahya, M.Si, sebagai Direktur Politeknik Pertanian Pangkajene Kepulauan. Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan serah terima jabatan serta pemasangan kalung jabatan yang dilakukan oleh Menristekdikti, M. Nasir.

Dalam sambutannya, M. Nasir menyampaikan harapannya pada rector dan direktur perguruan tinggi yang telah dilantik agar dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya karena tugas yang diberikan merupakan amanah dan tanggung jawab dalam rangka mencerdaskan anak bangsa.

“tantangan kita di masa yang akan datang jauh lebih berat. Oleh karena itu, mari bekerja dnegan baik, salah satunya adalah tata kelola universitas yang baik. Dimana ciri-cirinya adalah masalah transparansi, jujur, bertanggung jawab, dan bisa dipertanggung jawabkan.”

Apalagi memasuki era kompetisi, lanjutnya, untuk memenangkannya kita harus memiliki kompetensi. Untuk itu, tugas rektor dan direktur kedepan adalah untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran di masing-masing kampus, serta mampu mengkoordinasikan sumber daya yang ada.

Upacara pelantikan ditutup dengan pemberian ucapan selamat kepada para pejabat yang baru dilantik oleh Menristekdikti, para pejabat dan tamu undangan. (ifa/bkkp)

sumber : ristekdikti.go.id