Sinetron Tiruan Rusak Moral Anak Bangsa

Komisi Penyiaran Indonesia harus memperkuat perannya dalam memberikan izin penyiaran di Indonesia. Khususnya sinetron tiruan luar negeri yang sarat akan keromantisan, kesadisan, dan perkelahian, agar tidak merusak moral anak bangsa.

tv1

Siang itu saya sedang asyik memainkan laptob  di kelas, tanpa sengaja saya dikejutkan dengan suara teman yang sedang memperdebatkan tokoh paling ganteng dalam sebuah sinetron. Sinetron Indonesia yang meniru film terkenal yang dibintangi oleh Kristen Jaymes Stewart, Robert Pattinson, dan Taylor Daniel Launter. Ialah Twilight, film yang mengisahkan cinta segitiga antara serigala, manusia, dan vampir.

Mereka asyik sendiri, tanpa memedulikan lingkungan sekitar. Suara mereka begitu kencang, mungkin terlalu bersemangat membahas salah satu episode sinetron tersebut. Bahkan mereka menjerit-jerit histeris berharap menjadi kekasih tokoh prianya. Sungguh berlebihan.

Saya sempat bertanya-tanya, apa yang membuat mereka histeris. Pantas saja mereka histeris, ternyata sinetron tersebut diperankan oleh tokoh yang lumayan ganteng-ganteng dan cantik-cantik.

Tiru meniru bukanlah hal yang mudah. Sutradara harus bisa membuat sinetron layak tayang di Indonesia. Sebab, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dan dikaji secara mendalam untuk memenuhi syarat penyiaran sebuah acara, yang ditanggungjawabi oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Sebagian orang beranggapan berhasilnya sebuah sinetron tiruan jika sutradara sanggup meniru seluruh adegan dalam film aslinya. Dalam hal ini meniru keromantisan, kesadisan, bahkan laga perkelahian.

Tentu saja anggapan ini salah, sebab hal tersebut tidak sesuai dengan kebudayaan di Indonesia. Dimana Indonesia sangat menjunjung kesopanan dan kekeluargaan. Pun, dalam pasal 36 ayat 1 UU Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran berisi “Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia.”

Jadi, tidak semua isi film dapat ditiru kembali dalam sinetron. Mengapa? Karena sudah ada kebijakan yang mengaturnya. Kebijakan ini dibuat untuk menayangkan hal positif sehingga mempertahankan moral bangsa Indonesia.

Sayangnya kebijakan ini tak diperhatikan oleh sang sutradara. Ia lebih fokus menjual hiburan demi tercapainya rating tertinggi. Bagaimana mungkin, sudah dua kali mendapat teguran oleh KPI tak ada tindakan nyata untuk menjawab teguran ini. Teguran pertama, terkait adegan salah satu karakter memakan kelinci hidup, dan teguran kedua tentang adegan laki-laki dan perempuan berpelukan mengenakan seragam sekolah.

Teguran kedua, tanpa kita sadari berbuntut panjang. Masyarakat seperti menjadi murid saat menonton sinetron ini. Aktor-aktor menjadi ‘guru’ yang ‘baik’ bagi mereka. Latar sekolahan membuat cara belajar mengajar lebih sempurna.

Jesica Mila, Kevin Julio, dan Ricky Harun tampak apik memainkan perannya. Mereka mencontohkan tidak memasukkan baju pada rok/celana, tidak memakai ikat pinggang, memakai kaos kaki warna-warni, memakai aksesoris berlebihan, memakai rok sepaha serta mengendarai kendaraan mewah ke sekolah dengan rambut diwarnai dan bergaya seperti model.

Sebagai orang berpendidikan kita akan bertanya sekolah gila mana yang mengizinkan muridnya seperti ini? Bagaimana bisa sekolah tidak mengajarkan sopan santun serta kedisiplinan kepada seorang murid? Orang tua mana yang mengizinkan anaknya pakai rok sepaha ke sekolah? Tentu masih banyak lagi pertanyaan yang akan terlintas dalam benak kita.

Belum selesai masalah pertama, muncul masalah berikutnya. Sang ‘guru’ kembali memberikan contoh baru, yaitu adegan mesra-mesraan di lingkungan sekolah. Berpelukan, berpegangan tangan, bahkan mencium kening lawan jenis, dilakukan saat berpakaian seragam sekolah. Padahal dalam kehidupan nyata, sekolah tidak mengizinkan pelajar berpelukan atau bahkan mencium kening lawan jenis di lingkungan sekolah.

Maksud hati ingin menghibur masyarakat dengan suguhan sinetron kekinian. Tapi yang terjadi sebaliknya, sinetron ini justru merusak moral bangsa. Bagaimana tidak? Kini remaja Indonesia khususnya pelajar merasa bangga ketika datang ke sekolah menggunakan kendaraan pribadi, bangga mengenakan seragam yang tidak rapi, bahkan bangga melanggar peraturan sekolah.

Tak hanya pada pelajar, dampak negatif juga dirasakan oleh anak-anak. Setiap malam selesai sinetron ini ditayangkan, anak-anak di sekitar rumah saya berkejar-kejaran, berkelahi, dan berteriak menirukan suara lolongan serigala. Dengan bangga mereka mereka ulang sinetron yang baru selesai ditonton. Hal ini sungguh memperihatinkan, perlahan moral mereka terkikis. Mengapa? Sebab mereka bangga mencontoh hal-hal yang tak patut dicontoh.

Namun tetap saja sinetron ini ditayangkan di Indonesia, bahkan ada lanjutannya. Meskipun akhirnya mereka menyerah tetapi tetap saja pikiran masyarakat Indonesia khususnya moral anak bangsa sudah dikotori dengan adegan dalam sinetron tersebut.

Saya bertanya-tanya keheranan apakah sutradaranya bodoh atau memang sengaja membuat bodoh penonton dengan sinetron tiruan yang dibuatnya? Atau masyarakat Indonesia kurang hiburan sehingga sinetron ini menjadi tontonan keluarga? Seharusnya sutradara menciptakan tayangan sesuai dengan kebijakan yang berlaku di Indonesia, sehingga tidak membodohi dan merusak moral penonton.

Indonesia harus terbebas dari sinetron yang tidak bermoral, sebab sinetron diatas hanyalah salah satu contoh. Kalau kita perhatikan masih banyak sinetron lain yang menayangkan hal serupa. Hal-hal yang tak patut ditonton dan ditiru penonton.

Peran keluarga sangat diperlukan dalam hal ini. Orang tua harus mendampingi anaknya ketika menonton dan memberitahu saat ada adegan yang tidak pantas ditiru. Terkhusus dalam sinetron yang berkatagori bimbingan orang tua. Hal ini bertujuan agar anak tidak meniru adegan yang tak patut.

Selain itu, KPI perlu menguatkan kembali perannya sebagai penyelenggara izin penyiaran di Indonesia. Teguran-teguran yang sudah diberikan seyogyanya terus diikuti dengan kepastian pelanggaran yang terjadi tidak akan terulang kembali oleh sutradara. Hal ini harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh demi kebaikan masyarakat Indonesia.

Pun, harus ada hubungan timbal balik yang erat dalam mengatasi masalah ini, baik dari sisi penyiar dan penonton. Jadi, sebagai masyarakat kita tidak hanya menikmati sinetron yang disuguhkan oleh sutradara namun harus memilah sinetron yang layak ditonton dengan mengandung unsur edukatif, informatif, dan entertain. Jika bertentangan, kita berhak melaporkannya ke KPI untuk segara ditindaklanjuti.

Ini merupakan tugas bersama untuk memastikan sinetron yang ditayangkan layak ditonton. Sehingga sutradara tersebut dapat meninggkatkan kualitas karyanya dan menataati peraturan. Pun, tujuan KPI tercapai untuk menampilkan tayangan yang layak dalam dunia penyiaran Indonesia.

Penulis adalah mahasiswa sisiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(beto)

Malas Gerak, Keberlanjutan Moral Subsisten yang Perlu Dilawan

Mager (malas gerak) atau secara psikologis disebut procrastinatingsedang populer di kalangan anak muda, tidak terkecuali mahasiswa. Kata mager kerap kali digunakan kawula muda untuk mengekspresikan kemalasan dalam berbagai konteks, seperti menunda atau kilah untuk enggan melakukan sesuatu.

Mager dalam konteks tugas akademik maupun organisasi seringkali berujung pada kata deadliner. Tugas yang diembankan kepada mahasiswa pun tidak jarang ditunda, santai-santai di awal; sibuk menghabiskan waktu bersama teman, menonton film, bermain gawai, baru kemudian menggeliat memburu waktu saat mendekati batas akhir.Toh pada akhirnya kelar juga.

Mager dan deadliner pun menjadi dua perpaduan serasi, yang bila dibiarkan, dapat menggerus sisi idealis dan ambisi perfeksionis mahasiswa.

Secara historis, mager memiliki keterkaitan erat dengan perilaku subsisten. Seorang sejarawan, James C. Scott dalam bukunya The Moral Economy of The Peasant, Rebellion, and Subsistence in Southeast Asia mengemukakan bahwa etika subsistensi membawa masyarakat, di Asia Tenggara umumnya, untuk bertahan hidup dalam kondisi minimal.

Asia Tenggara memang seolah-olah dianugerahi Tuhan daerah yang subur. Karena itu, banyak masyarakatnya yang menggantungkan hidup pada alam, seperti bertani. Anthony Reid dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah di Bawah Angin menyatakan, iklim Asia Tenggara lunak dan makanan pokoknya, seperti beras, ikan, serta buah-buahan juga tersedia secara lebih pasti dibandingkan dengan sebagian besar wilayah lain di dunia.

Karenanya, orang Asia Tenggara mempunyai keuntungan alamiah untuk bebas dari perjuangan terus-menerus dalam mempertahankan kehidupan.

Perilaku subsisten muncul sebagai respon atas kemudahan yang ada tersebut. Keuntungan alamiah yang diterima oleh orang Asia Tenggara membuat masyarakatnya cenderung menggantungkan diri pada kemudahan yang dari dulu ada dan cukup puas dengan pencapaian minimum; yang penting hidup hingga esok hari.

Kini, saat kondisi sosial-budaya sudah berbeda, perilaku subsisten masih langgeng diterapkan dalam bentuk keinginan untuk tetap berada di zona nyaman, cenderung malas bergerak, dan menantang arus. Mager bisa jadi merupakan jelmaan dari perilaku subsisten yang sudah bercokol di masyarakat kita sedari dulu.

Melanggengkan perilaku subsisten semacam itu mengandung risiko. Anthony Reid, dalam karyanya, pernah mengingatkan: masyarakat di Asia Tenggara menjadi komunitas yang pasif.

Menurutnya, bukan tidak mungkin, motif utama kedatangan bangsa lain ke Asia Tenggara awalnya untuk mendapatkan sumber pangan yang melimpah.

Pada fase kemudian, bangsa-bangsa Eropa ingin mendapatkan tenaga masyarakat Asia Tenggara yang sebagian besar tidak terpakai karena iklim yang sudah memanjakannya dengan limpahan sumber bahan makanan.

Jika manusia kita, terutama generasi muda tetap mempertahankan pola berperilaku subsisten yang dibawa oleh nenek moyang dalam bentuk mager dan deadliner, bukan tidak mustahil, ancaman dari bangsa luar akan berdampak buruk bagi bangsa kita.

Belajar dari Eropa

Bicara soal mengantisipasi mager, kita harus terinspirasi oleh Max Weber, yang melalui Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, ia mencoba menjabarkan bagaimana semangat bekerja membawa bangsa Eropa menuju kemakmuran.

Etika protestan yang dikembangkan oleh Calvin tumbuh subur di Eropa kala itu, dan memunculkan ajaran: jika seseorang berhasil dalam kerjanya, hampir dapat dipastikan ia ditakdirkan menjadi penghuni surga, namun jika sebaliknya, dapat diperkirakan seseorang itu ditakdirkan untuk masuk neraka.

Doktrin Protestan tersebut telah berimplikasi serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan, yaitu etos yang berkaitan langsung dengan semangat bekerja keras untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan.

Semangat bekerja yang dipaparkan oleh Weber itu bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda kita. Betapa tidak, pada Bab V, “Askese dan Spirit Kapitalisme”, Weber dengan jelas memberikan gambaran mengenai bagaimana masyarakat Eropa saat itu memegang prinsip yang baik dalam kaitannya dengan alokasi waktu.

Mereka menganggap membuang-buang waktu merupakan dosa pertama dan secara prinsip sebagai dosa paling mematikan. Kehilangan waktu melalui sosialitas, pembicaraan tidak menentu, kemewahan, bahkan tidur terlalu banyak dari yang semestinya bagi kesehatan, merupakan kesalahan-kesalahan moral yang absolut.

Karya Weber tersebut bisa jadi merupakan tamparan keras bagi masyarakat Asia Tenggara, termasuk kita, yang menurut Scoott cenderung santai dan puas dengan hasil yang minimum.

Apalagi, jika kita kembali melongok istilah mager yang akhir-akhir ini digaungkan oleh anak muda. Anak muda kita terkesan menggampangkan sesuatu. Seolah-olah tidak perlu berupaya maksimal karena sudah barang tentu dapat meraih keadaan minimal yang kita harapkan.

Hal itu sungguh sangatlah berbanding terbalik dengan penjelasan Weber yang menyatakan, “mereka yang tidak bekerja tidak berhak mendapatkan makan, berlaku tak terkecuali bagi seluruh manusia”. Artinya, tidak ada pencapaian yang pantas diterima oleh para pemalas dan tukang mager.
(beto)

Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi yang Ternodai

 

kebebasan-pers-620x330Secara prinsip, penyelenggaraan Pendidikan Tinggi adalah sebagai pencarian kebenaran ilmiah oleh Sivitas Akademika. Pendidikan Tinggi didirikan juga sebagai pengembangan budaya akademik dan pembudayaan kegiatan baca tulis bagi Sivitas Akademika. Jika salah satu oknum (Termasuk juga birokrasi kampus) membatasi kegiatan akademik, maka sama halnya ia menodai prinsip penyelenggaraan pendidikan tinggi, menodai Undang-Undang Pendidikan Tinggi yang menjadi pedoman berdirinya kampus.

16 Oktober 2015, Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) beserta jajarannya menarik majalah yang dihasilkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lentera dengan judul “Salatiga Kota Merah”. Brirokrasi kampus menarik majalah Lentera tanpa melalui kajian yang mendalam terlebih dahulu. Melainkan mereka hanya melakukan justifikasi semata, yaitu dengan menganggap bahwa informasi dari narasumber majalah kurang valid tanpa adanya narasi ilmiah. Birokrasi kampus UKSW juga menyampaikan melalui lisan, bahwa majalah Lentera harus ditarik agar menjaga masyarakat tetap kondusif.

Majalah Lentera ditarik oleh birokrasi kampus, bahkan krunya diintrograsi oleh polisi karena mereka mengangkat peristiwa berdarah 1965. Kajian tentang peristiwa 1965 tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) di kampus dipersoalkan, bukan pertama kali di Salatiga. 11 Maret 2015, Fron Perjuangan Demokrasi Yogyakarta yang terdiri dari organisasi gerakan mahasiswa yang difasilitasi oleh LPM Rhetor UIN Sunan Kalijaga, kegiatan diskusi dan pemutaran film senyap (The Look of Silence) dihentikan oleh Rektor saat itu, Ahmad Minhaji dan berusaha dihentikan oleh organisasi masyarakat yang menamakan Forum Umat Islam (FUI), namun acara tetap berjalan hingga selesai.

Penarikan karya tulis mahasiswa yang berupa buletin juga sempat dialami oleh LPM Ekpresi UNY. Tepatnya pada 24 Agustus 2014, 150 buletin Expedisi Lpm Ekspresi yang mau didistribusikan ke GOR UNY ditarik langsung oleh Rektor UNY, Rochmad Wahab dengan melalui tangan Wakil Rektor III UNY. Apa yang dilakukan oleh Rektor UNY tentu tidak melakukan kajian terlebih dahulu tentang isi buletinnya, dan serta merta menarik buletin Expedisi.

Lain lagi dengan kasus yang dialami oleh LPM Ideas. Salah satu krunya, Rosy Dewi Arianti Saptoyo mendapatkan ancaman dan intimidasi dari Pembantu Dekan (PD) III Fakultas Sastra Universitas Jember (FS UJ), Wisasongko. Dia diancam oleh PD III, beasiswanya bidik misi akan di bekukan sambil menghina Dewi. “Kamu itu miskin gak usah macam-macam.” Kata wisasongko. Dewi diintimidasi oleh PD III karena ia anggota dari LPM Ideas. Wisasongko tanpa melakukan hak koreksi, dia menyatakan kepada Dewi bahwa buletin Partikelir edisi Mafia Dana Praktikum Mahasiswa ini tidak berimbang dalam pemberitaan.

Berkali-kali birokrasi kampus telah menodai prinsip penyelenggaraan Pendidikan Tinggi, yaitu dengan membatasi bahkan tidak melindungi kegiatan mahasiswa hingga membredel karya tulis mahasiswa. Karya tulis yang menggunakan metode yang jelas untuk mengungkap kebenaran suatu fakta tidak bisa serta merta diberedel atau ditarik oleh birokrasi kampus dan oknum mana pun. Apalagi menarik karya tulis mahasiswa tanpa ada kajian terlebih dahulu secara tertulis, merupakan sebuah kemunduran dalam budaya akademik. Mengingat jika karya tulis mahasiswa mendapatkan kesalahan, birokrasi kampus harus melakukan kajian ataupun sanggahan melalui tulisan. Jika birokrasi kampus atau oknum mana pun yang menarik karya mahasiswa dari peredaran, tanpa ada kajian ilmiah, maka mereka menodai prinsip penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berlaku kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan otonomi keilmuan. Hal itu sudah diatur dalam Undang-Undang Pendidikan Tinggi Nomor 12 Tahun 2012. Pada bagian kedua pasal 9 (3) dijelaskan, otonomi keilmuan merupakan otonomi Sivitas Akademika pada suatu cabang Ilmu Pengetahuan dalam menemukan, mengembangkan, mengungkapkan mempertahankan kebenaran ilmiah menurut kaidah, metode keilmuan, dan budaya akademik. Aktivitas pers mahasiswa termasuk juga otonomi keilmuan, mempunyai kaidah dan budaya akademik yang jelas, yaitu melakukan aktivitas jurnalistik

BJ Habibie 80 tahun: semangat tetap menyala

20150130213
Presiden RI ke-3 BJ Habibie

Jakarta (ANTARA News) – Tidak banyak orang dikaruniai usia panjang sampai 80 tahun dalam keadaan sehat dan bersemangat, tetap bermakna bagi sesama. Di antara yang sedikit itu adalah Prof. Dr. Bacharuddin Jusuf Habibie, presiden ketiga Republik Indonesia. Sabtu, 25 Juni, 2016, ia genap berusia 80 tahun, dirayakan dengan acara buka bersama anak, cucu, menantu, kerabat dan teman-teman dekatnya.

Di antara tamu dalam acara bukber (buka puasa bersama) itu adalah Presiden Jokowi (Joko Widodo) dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla, ekonom senior dan mantan menteri jaman Orba, Prof. Dr. Emil Salim dan ustadz terkenal dan mantan menteri agama, KH Prof. Dr. Quraish Shihab.

Pak Habibie atau Pak BJH, begitu ia biasa dipanggil oleh anak buahnya, atau Mas Rudy (atau Rudy saja) oleh kerabat dan teman-teman dekatnya tampak ceria dan seperti biasanya: semangatnya menyala-menyala.

Bukber itu diawali oleh sholat Magrib bersama di ruang perpustakaan pribadi BJ Habibie yang dipenuhi buku-buku yang ditata rapi di rak-rak tinggi, menempel di dinding. Pak Habibie, sholat dengan disediakan kursi untuk duduk, menempati shaf pertama di belakang imam bersama Pak Jokowi, Pak JK, Pak Emil Salim dan Pak Quarish Sihab.

Makmum sholat itu termasuk Ical Bakrie, pengusaha dan mantan Ketum Golkar, Prof. Dr. Jimly Assidiqi, Ketum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia), para mantan pejabat teras Kemenristek/BPPT, IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia atau DI) dan sejumlah mantan pengurus dan aktivis ICMI.

Ribuan orang (atau minimal ratusan-jumlah persisnya perlu dicek lagi) hadir, baik yang diundang maupun hadir sendiri secara suka rela, memenuhi kompleks rumah pribadi Pak Habibie yang besar, meluber sampai ke halaman dan Jalan Patra Jasa, kompleks Pertamina, Kuningan, Jakarta Selatan.

Singkat kata: suasana khidmat di ruang sholat dan meriah di beberapa ruangan dan halaman di mana tersaji aneka macam makanan dan minuman untuk berbuka, di sela-sela karangan bunga ucapan ulang tahun.

Karena banyaknya hadirin, sholat berjamaah dilakukan secara bergantian di ruang perpustakaan, yang pada hari-hari biasa dipakai untuk menerima tamu dan berdiskusi, itu dengan berbagai maket bermacam jenis pesawat terbang tertata rapi di atas meja. Maklum, Pak Habibie adalah seorang perancang pesawat terbang kelas dunia.

Hadirin sore itu adalah tokoh-tokoh dan anggota masyarakat biasa multi lintas: usia, jender, suku/etnis, budaya, agama, politik dan profesi, baik dari dalam dan luar negeri. Di antaranya, tampak Sukmawati Sukarnoputeri, putri Bung Karno, Mien Uno, Romo Frans Magnis Suseno, Dubes Jerman, Georg Witschel.

Banyak orang muda hadir. Maklum, mereka juga diundang bersama para penonton film “Rudy Habibie” produksi Manoj Punjabi (MD) Picture, yang sebelumnya memproduksi “Habibie-Ainun”, film terlaris Indonesia. Habis “nobar” (nonton bareng) mereka diajak berbuka puasa di rumah.


Selalu berprasangka baik

Apa rahasia Pak Habibie tetap tampak sehat dan bersemangat menyala pada usia 80? Tentu, itu berkat dijaga oleh sejumlah dokter, termasuk tim dokter kepresidenan, dan (dulu) diawasi ketat oleh dokter pribadi, yakni istrinya sendiri Dr. Hasri Ainun Habibie. Ia juga rajin olah raga, terutama berenang di kolam renang rumahnya. Masih kuat berenang satu jam non stop.

Tetapi, yang tak kalah penting, menurut pengamatan saya, adalah sikap hidup Pak Habibie yang selalu optimistis, berpikir positif, berprasangka baik terhadap semua orang dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritualnya, yakni dengan rajin beribadah, sholat tahajud, dzikir, mengaji, berpuasa dan berdoa.

Pak Quraish Sihab waktu memimpin doa pada acara HUT itu memohon kepada Allah agar Pak Habibie dikaruniai panjang usia dan kesehatan agar dapat terus berkarya untuk bangsa Indonesia. Pak Quraish juga mengungkapkan bahwa orang yang bisa mencapai usia 80 tahun, semua dosanya diampuni Allah dan jika bisa sampai berusia 90 tahun, ia diberi karunia untuk memintakan ampun atas dosa anggota keluarganya. Serentak hadirin menyahut: “Amiieen”.

Habibie yang didoakan itu tampak bahagia, penuh syukur. Ia segera memotong tumpeng. Potongan pertama diberikan kepada Pak Jokowi dan yang kedua untuk Pak JK.

Habibie bukan hanya berpikir positif, berprasangka baik dan rajin berdoa. Tetapi, ia juga terus membaca, menulis, bekerja dan berkarya yang bermakna untuk orang banyak, terutama Indonesia. Salah satu contohnya, adalah rancangan pesawat terbang baru, R 80.

Memang sepeninggal istri yang sangat dicintainya (tahun 2010), kesehatan Pak Habibie tampak menurun. Agar tidak larut dalam suasana sendu-rindu, ia menulis sejumlah buku, termasuk yang kemudian difilmkan itu. Menurunnya kondisi kesehatan itu normal, alamiah, sejalan dengan bertambahnya usia.

Tentang kesehatannya, ia sering bilang dengan semangat tinggi: “Saya ini sudah 80 tahun”. Itu diucapkannya sejak beberapa tahun sebelumnya seraya menambahkan; “80 kurang satu, dua, tiga”. Ia pun lebih senang dipanggil “eyang” (kakek) oleh generasi muda, termasuk oleh Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari, masing-masing pemain Habibie dan Ainun dalam film.

Ketika sejumlah media sosial mengunggah hasil penelitian bahwa BJH orang ber-IQ tertinggi di dunia, yakni 200, di atas Albert Einstein, ia tampak tidak begitu peduli. “Bagaimana tahu, IQ saya di atas Einstein? Saya sendiri tidak pernah diukur untuk itu?,” komentarnya singkat. Ia tidak berkomentar atas penilaian banyak orang yang menyayangkan Indonesia tidak memanfaatkan dirinya, yang diakui oleh dunia.

Juga waktu diberitakan bahwa penghasilannnya bertambah belasan miliar rupiah setiap bulan berkat royalti hak paten atas puluhan temuannya di bidang iptek di dunia, ia hanya mengangkat bahu. “Bagaimana mereka tahu, saya tidak pernah ditanya? Kalau itu betul, saya tidak perlu kesana-kemari mencari dukungan finansial untuk biayai program R 80,” katanya.

Yang terjadi adalah: sejak diberitakan penghasilannya terus naik, ia kebanjiran proposal minta sumbangan, termasuk untuk renovasi rumah. Atas kritik (dan sebagian fitnah) terhadap dirinya selama ini, Habibie hanya berkomentar: “Terima kasih telah sudi memikirkan saya”.

“Quatsch, Quatsch” (non sense, omong kosong), tukas Habibie ringkas, dalam bahasa Jerman seraya tertawa tergelak dengan sinar mata menyala seperti biasa.

Bahasa Indonesia layak di Prioritaskan untuk Kawasan ASEAN

13308715_1756373734641917_6254894949759588955_o-1024x682Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji, Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc. (f. istimewa)

Bahasa Indonesia layak diusulkan menjadi Bahasa Internasional. Pasalnya, di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) sendiri, Bahasa Indonesia sudah memenuhi persyaratan sebagai bahasa pengantar untuk kawasan ASEAN, menanggapi hal itu, Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc. mengatakan Bahasa Indonesia kedepan bakal menjadi Bahasa Internasional.

“Setahu saya yang diwacanakan menjadi bahasa Internasional adalah Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Melayu,” kata Prof yang menyukai pantun ini. Syafsir Akhlus juga mengatakan untuk menggolkan bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional perlu pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Selasa (14/06/2016).

“Yang perlu diperkuat adalah pengembangan ukuran kemampuan berbahasa Indonesia bagi penutur asing (semacam TOEFL). Saat ini sudah ada Program BIPA, yaitu, Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing, tetapi masih belum lengkap instrumen pengukurnya,” katanya.

Sementara upaya yang bisa dilakukan agar Bahasa Indonesia bisa menjadi Bahasa Internasional, ia menambahkan pertama pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan RI harus memperkuat standar Berbahasa untuk Bahasa Indonesia, kedua diwajibkan seluruh mahasiswa asing yang berstudi di Indonesia untuk berbahasa Indonesia pada komunikasi formalnya dan yang ketiga menggunakan ungkapan-ungkapan berbahasa Indonesia pada forum internasional serta yang keempat mewajibkan seluruh tenaga kerja yang akan bekerja di Indonesia memiliki kemampuan berbahasa Indonesia minimal tingkat dasar, ungkap Syafsir Akhlus yang juga Ketua Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS PTN) wilayah barat ini. (inforakyat.KEPRI)13308715_1756373734641917_6254894949759588955_o-1024x682

 

UMRAH kehilangan sosok sumber daya yang handal

Mantan-Wakil-Rektor-UMRAH-Prof-31po39ycehz2vnd3ibttze

Tanjungpinang – Prof. Firdaus setelah tidak menjabat kembali menjadi Wakil Rektor (Warek) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, Rabu (22/06) siang, diketahui bakal menjadi dosen biasa di Universitas Riau (UNRI) Pekanbaru.

Hal ini juga diucapkan Firdaus saat  usai Pelantikan Pejabat Struktural UMRAH di Lantai II Kampus UMRAH Dompak  Tanjungpinang.

“Saya besok (red, Kamis) akan balik ke UNRI sebagai dosen biasa. Semoga UMRAH bisa lebih maju lagi,” ucapnya dengan sedikit sedih.

Selain itu, Firdaus berpesan, agar seluruh pimpinan dan staf bekerja keras lagi untuk membangun UMRAH lebih baik. “Paling penting harus bisa merubah pola pikir civitas akedemik. Jangan menggunakan pola pikir lama,” pesannya.

Sementara, Rektor UMRAH Prof. Syafsir Akhlus mengatakan, sebenarnya UMRAH merasa kehilangan dengan Sumber Daya Manusia (SDM) seperti Prof. Firdaus.

Apalagi, kata Syafsir Akhlus, UMRAH saat ini masih membutuhkan SDM yang handal agar lebih baik kedepan. Bahkan, Syafsir juga telah mendata SDM yang handal dari Kepri tetapi bekerja di Universitas lain didaerah Indonesia.

“UMRAH memang merasakan kehilangan SDM handal seperti Pak Firdaus. Tapi kami tidak bisa menariknya dari UNRI begitu saja. Jadi saya harapkan SDM handal yang ada di Kepri, bisa balik untuk membangun UMRAH,” ucap Syafsir Akhlus.
sumber: Kepriday.com

Menristekdikti akan Evaluasi Penerimaan Mahasiswa Baru

mnbmv

jakarta-  Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D, Ak.mengatakan akan mengevaluasi penerimaan mahasiswa baru.

“Sistem penerimaan mahasiswa ke depan akan dievaluasi. Banyak anak Indonesia pada Desember atau November sudah ada penjaringan perguruan tinggi asing. Sehingga anak kita yang pintar-pintar sudah punya kepastian diterima di perguruan tinggi asing,” ujar M. Nasir, Selasa (28/6).

Dia menambahkan pihaknya juga akan memperpendek penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri.

“Kami mau seleksi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Jadi tidak terbatas waktu, tujuannya agar proses lebih sederhana seperti di perguruan tinggi asing. Contohnya seperti perguruan tinggi asing yang hanya mensyaratkan TOEFL dan GMAT,” tambah dia.

Selain itu, evaluasi tersebut dimaksudkan agar dapat menjaring calon-calon mahasiswa yang berprestasi.

“Kalau berdasarkan waktu, bisa tidak kalau sebelum lulus SMA dilakukan seleksi.”

Kemristekdikti akan membuat formulasi agar calon mahasiswa bisa ikut tes masuk PTN lebih dari sekali.

“Kalaupun tes ini dipertahankan maka akan dikembangkan dengan sistem berbasis komputer. Kalau tahun ini hanya 2.500 peserta, tahun depan diusahakan jadi 20.000 peserta untuk tes berbasis komputer,” terang Mantan Rektor Universitas Diponegoro itu.

Ketua Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Rochmat Wahab, mengatakan perubahan jadwal seleksi mungkin saja bisa dilakukan.

“Tapi yang mungkin bisa diubah yang SBMPTN karena kalau yang SNMPTN dilakukan harus menunggu nilai UN dulu,” kata Rochmat

Sumber: Antaranews.com

Mengenal Berbagai Rupa Kekerasan dalam Sejarah Indonesia

gambra

Judul                     : Jurnal Sejarah histma: Wajah Kekerasan Masa Lalu

Penulis Konten       : Iqbal Rizaldin, Dhimas Difka S., Satrio Dwicahyo, Siti Utami Dewi Ningrum,  D                                                   imas Fadillah Putra, Iqbal Awal, Adhi Pandoyo
Penerbit                   : Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah FIB UGM, Jl. Nusantara 1 Bulaksumur                                                      Yogyakarta.
Tahun Terbit           : 2013
Tebal                       : iv+79 halaman
Harga                      : Rp 15.000

 

Dalam proses mempelajari sejarah, kisah-kisah yang paling menarik untuk ditelisik adalah yang melibatkan tragedi. Kebiadaban manusia yang telah menjadi cerita masa lalu bisa menjelma momok sekaligus candu dalam pikiran. Membuat setiap orang ingin mengetahui sebab-sebab hal itu terjadi, sambil berharap di masa kini tak terjadi lagi. Namun nyatanya kekerasan ada dari masa ke masa. Dalam berbagai bentuk. Dan sering hal itu menjadi benang merah antara pendahulu kita dengan masyarakat masa kini. Ide tentang kekerasan mengendap dalam pikiran, kemudian berevolusi menjadi beragam sistem yang mungkin kini kita kenal dengan nama berbeda, namun sejatinya hal tersebut telah ada berabad lalu.

Sangat menarik untuk mempelajari sedikit sejarah mengenai kekerasan dalam berbagai bentuknya di Indonesia. Jurnal sejarah histma terbitan Badan Keluarga Sejarah FIB UGM Vol.3/Desember 2013 lalu khusus mengulas mengenai topik ini dalam beberapa artikel. Terdiri dari 4 jurnal, 2 artikel opini, dialog dan resensi buku, terbitan ini mencoba menguak wajah-wajah kekerasan di Indonesia di berbagai masa.

Masa kolonial dan revolusi masih mendapat porsi kajian yang cukup banyak mengingat waktu itu kekerasan yang dilancarkan terhadap kaum pribumi telah menjadi keseharian. Sisi lain kolonialisme menunjukkan kekerasan berbasis budaya patriarki yang sangat merugikan kaum wanita (Sarina dan Tentara Kolonial: Kekerasan Terhadap Nyai Tangsi pada Masa Kolonial Hindia Belanda di Jawa). Selain itu, di sela-sela revolusi ternyata ditemukan kisah kelam dari kaum minoritas Tionghoa yang (masih saja) menanggung stigma negatif hingga mendorong terbentuknya organisasi paramiliter untuk melindungi mereka (Pao An Tui di Dua Kota dalam Kancah Revolusi Indonesia).

Kekerasan rupanya tak hanya mewariskan kisah yang dituturkan maupun dituliskan, namun juga terekam dalam karya seni. Seni rupa dan sastra tak bisa dimungkiri pernah menjadi salah satu wadah aspirasi saat suara kaum bawah dibungkam. Hingga kini, getaran rasa dari beberapa karya estetis seniman Indonesia tersebut seolah rekaman luka dari masa lalu. (Ketika Seni Merekam Luka: Seniman Indonesia Pasca Kolonial dan Konteks Karyanya).

Dan siapa tahu kalau Indonesia telah akrab dengan terorisme atas nama agama jauh sebelum peristiwa Bom Bali? Terorisme atas nama agama di Indonesia agaknya dipicu oleh kebangkitan organisasi sayap kanan kala mereka diberi ruang untuk menjadi attack dog dalam pemberantasan komunis. (Teror di Masa Aman: Terorisme di Indonesia 1978-1985)

Karya-karya ilmiah dengan sudut pandang yang cukup menarik tersebut dibangun dengan kerangka referensi dari beragam karya tulis. Sumber sekunder memang menjadi alternatif utama dalam penyusunan fakta sejarah yang terjadi puluhan bahkan ratusan tahun lampau. Namun penggunaan tutur dari aktor yang terlibat akan menghasilkan kisah yang lebih mengena. Hanya satu jurnal yang menggunakan data wawancara dengan pelaku yang masih hidup. Tak terlalu jadi soal, menyusun sejarah yang terpenting adalah akurasi fakta-fakta sosial berdasar sumber yang terpercaya.

Usai menyelami empat kisah sejarah, jurnal ini masih menawarkan tulisan-tulisan yang menggelitik pemikiran lewat opini dan dialog. Bagaimana militerisme di masa lalu menjelma premanisme di masa kini. Bagaimana seorang pahlawan republik harus tamat riwayatnya dengan terhina akibat satu pemberontakan atas nama ideologi. Dan akhirnya tetap ada pertanyaan besar yang terus menghantui setiap orang yang memiliki nurani. Mengapa kekerasan selalu menampakkan wajahnya yang paling kejam pada rakyat kecil yang tak berdaya?

Terlepas dari segala kekurangannya, termasuk tampilan yang menurut saya kurang menarik, jurnal histma ini patut menjadi bacaan bagi para peminat ilmu-ilmu sejarah, sosial, dan politik.

(Beto)

Tentang Kegelisahan

 

Hidup baru menjemputku selepas dari Buru. Nyala terang dunia gemilang sesekali menyilaukan pandang. Sepagi ini ada nyata yang menyemat perih; geliat dari mereka yang berkontestasi diatas panggung merah putih. Sesiang ini ada yang membuatku tersadar; ingatan tentang sejarah berlumur darah yang semakin memudar. Sesore ini ada harapan yang kemudian putus terbakar realita; kesejahteraan yang hanya menjadi utopia.

Tentang kegelisahan. Tentang kegelisahan.

Aku manusia bebas, namun mengapa serasa ada batas? Antara aku dan mereka, hanya predikat manusia yang membuatku ada walau bias terasa. Inikah hidup yang dijanjikan Tuhan? Benarkah aku seorang yang tidak bersih lingkungan? Berkawan pun menjadi hal yang sangat sulit aku wujudkan. Apalagi keharmonisan dalam bermasyarakat, hingga berkarat tak akan pernah aku dapat.

Tentang kegelisahan. Tentang kegelisahan.

Palu tak lagi menyatu dengan arit yang berbentuk bulan sabit. Bintang merah pun tak lagi bersinar ditengah hingar bingar yang gelisah ditawan saudagar. Sejarah yang berlumur darah seakan enggan untuk dijamah. Bicara hak asasi manusia, hanya akan mengundang gelak tawa dari mereka yang menelan konstruksi sejarah dari Paman Gober. Waktu hanya dapat membatu, membisu hingga tubuh ini kaku.

Tentang kegelisahan. Tentang kegelisahan.

Apa yang aku cari di dunia yang kian hari kian tak berperi? Apa yang aku dapat dari dunia yang pekatnya semakin menjerat? Apa yang dapat aku harapkan dari pemerintah?
Aku hanya ingin hidup, seperti manusia tanpa perlu meredup.
Aku hanya ingin bebas, dari konstruksi sejarah yang tidak pernah jelas

 

PERS MAHASISWA UMRAH