Arsip Kategori: Tak Berkategori

Mengenal Berbagai Rupa Kekerasan dalam Sejarah Indonesia

gambra

Judul                     : Jurnal Sejarah histma: Wajah Kekerasan Masa Lalu

Penulis Konten       : Iqbal Rizaldin, Dhimas Difka S., Satrio Dwicahyo, Siti Utami Dewi Ningrum,  D                                                   imas Fadillah Putra, Iqbal Awal, Adhi Pandoyo
Penerbit                   : Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah FIB UGM, Jl. Nusantara 1 Bulaksumur                                                      Yogyakarta.
Tahun Terbit           : 2013
Tebal                       : iv+79 halaman
Harga                      : Rp 15.000

 

Dalam proses mempelajari sejarah, kisah-kisah yang paling menarik untuk ditelisik adalah yang melibatkan tragedi. Kebiadaban manusia yang telah menjadi cerita masa lalu bisa menjelma momok sekaligus candu dalam pikiran. Membuat setiap orang ingin mengetahui sebab-sebab hal itu terjadi, sambil berharap di masa kini tak terjadi lagi. Namun nyatanya kekerasan ada dari masa ke masa. Dalam berbagai bentuk. Dan sering hal itu menjadi benang merah antara pendahulu kita dengan masyarakat masa kini. Ide tentang kekerasan mengendap dalam pikiran, kemudian berevolusi menjadi beragam sistem yang mungkin kini kita kenal dengan nama berbeda, namun sejatinya hal tersebut telah ada berabad lalu.

Sangat menarik untuk mempelajari sedikit sejarah mengenai kekerasan dalam berbagai bentuknya di Indonesia. Jurnal sejarah histma terbitan Badan Keluarga Sejarah FIB UGM Vol.3/Desember 2013 lalu khusus mengulas mengenai topik ini dalam beberapa artikel. Terdiri dari 4 jurnal, 2 artikel opini, dialog dan resensi buku, terbitan ini mencoba menguak wajah-wajah kekerasan di Indonesia di berbagai masa.

Masa kolonial dan revolusi masih mendapat porsi kajian yang cukup banyak mengingat waktu itu kekerasan yang dilancarkan terhadap kaum pribumi telah menjadi keseharian. Sisi lain kolonialisme menunjukkan kekerasan berbasis budaya patriarki yang sangat merugikan kaum wanita (Sarina dan Tentara Kolonial: Kekerasan Terhadap Nyai Tangsi pada Masa Kolonial Hindia Belanda di Jawa). Selain itu, di sela-sela revolusi ternyata ditemukan kisah kelam dari kaum minoritas Tionghoa yang (masih saja) menanggung stigma negatif hingga mendorong terbentuknya organisasi paramiliter untuk melindungi mereka (Pao An Tui di Dua Kota dalam Kancah Revolusi Indonesia).

Kekerasan rupanya tak hanya mewariskan kisah yang dituturkan maupun dituliskan, namun juga terekam dalam karya seni. Seni rupa dan sastra tak bisa dimungkiri pernah menjadi salah satu wadah aspirasi saat suara kaum bawah dibungkam. Hingga kini, getaran rasa dari beberapa karya estetis seniman Indonesia tersebut seolah rekaman luka dari masa lalu. (Ketika Seni Merekam Luka: Seniman Indonesia Pasca Kolonial dan Konteks Karyanya).

Dan siapa tahu kalau Indonesia telah akrab dengan terorisme atas nama agama jauh sebelum peristiwa Bom Bali? Terorisme atas nama agama di Indonesia agaknya dipicu oleh kebangkitan organisasi sayap kanan kala mereka diberi ruang untuk menjadi attack dog dalam pemberantasan komunis. (Teror di Masa Aman: Terorisme di Indonesia 1978-1985)

Karya-karya ilmiah dengan sudut pandang yang cukup menarik tersebut dibangun dengan kerangka referensi dari beragam karya tulis. Sumber sekunder memang menjadi alternatif utama dalam penyusunan fakta sejarah yang terjadi puluhan bahkan ratusan tahun lampau. Namun penggunaan tutur dari aktor yang terlibat akan menghasilkan kisah yang lebih mengena. Hanya satu jurnal yang menggunakan data wawancara dengan pelaku yang masih hidup. Tak terlalu jadi soal, menyusun sejarah yang terpenting adalah akurasi fakta-fakta sosial berdasar sumber yang terpercaya.

Usai menyelami empat kisah sejarah, jurnal ini masih menawarkan tulisan-tulisan yang menggelitik pemikiran lewat opini dan dialog. Bagaimana militerisme di masa lalu menjelma premanisme di masa kini. Bagaimana seorang pahlawan republik harus tamat riwayatnya dengan terhina akibat satu pemberontakan atas nama ideologi. Dan akhirnya tetap ada pertanyaan besar yang terus menghantui setiap orang yang memiliki nurani. Mengapa kekerasan selalu menampakkan wajahnya yang paling kejam pada rakyat kecil yang tak berdaya?

Terlepas dari segala kekurangannya, termasuk tampilan yang menurut saya kurang menarik, jurnal histma ini patut menjadi bacaan bagi para peminat ilmu-ilmu sejarah, sosial, dan politik.

(Beto)

Tentang Kegelisahan

 

Hidup baru menjemputku selepas dari Buru. Nyala terang dunia gemilang sesekali menyilaukan pandang. Sepagi ini ada nyata yang menyemat perih; geliat dari mereka yang berkontestasi diatas panggung merah putih. Sesiang ini ada yang membuatku tersadar; ingatan tentang sejarah berlumur darah yang semakin memudar. Sesore ini ada harapan yang kemudian putus terbakar realita; kesejahteraan yang hanya menjadi utopia.

Tentang kegelisahan. Tentang kegelisahan.

Aku manusia bebas, namun mengapa serasa ada batas? Antara aku dan mereka, hanya predikat manusia yang membuatku ada walau bias terasa. Inikah hidup yang dijanjikan Tuhan? Benarkah aku seorang yang tidak bersih lingkungan? Berkawan pun menjadi hal yang sangat sulit aku wujudkan. Apalagi keharmonisan dalam bermasyarakat, hingga berkarat tak akan pernah aku dapat.

Tentang kegelisahan. Tentang kegelisahan.

Palu tak lagi menyatu dengan arit yang berbentuk bulan sabit. Bintang merah pun tak lagi bersinar ditengah hingar bingar yang gelisah ditawan saudagar. Sejarah yang berlumur darah seakan enggan untuk dijamah. Bicara hak asasi manusia, hanya akan mengundang gelak tawa dari mereka yang menelan konstruksi sejarah dari Paman Gober. Waktu hanya dapat membatu, membisu hingga tubuh ini kaku.

Tentang kegelisahan. Tentang kegelisahan.

Apa yang aku cari di dunia yang kian hari kian tak berperi? Apa yang aku dapat dari dunia yang pekatnya semakin menjerat? Apa yang dapat aku harapkan dari pemerintah?
Aku hanya ingin hidup, seperti manusia tanpa perlu meredup.
Aku hanya ingin bebas, dari konstruksi sejarah yang tidak pernah jelas

 

KISAH PILU SEORANG PEJUANG BERSAMA ‘MAP KUNING NYA’

 

 

Sebuah karya curahan hati, yang kutujukan kepada para ‘kaum pengajar’ yang terhormat . Tanpa ada unsur SARA, menjelekkan pihak tertentu, apalagi sampai menyinggung. Ini hanya celotehan dari seorang yang sedang dalam proses penyelesaian studinya, yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan, yang banyak kekurangannya. Mohon segala kritik dan sarannya demi menunjang terciptanya masyarakat yang aman, damai, sejahtera, dan bisa tidur dengan nyenyak bersama seluruh tugas akhirnya. Selamat menikmati bagi yang menghargai, dan selamat sakit hati bagi yang tidak paham makna ini. Hehe  (Somewhere in this earth, 26 Oct ’14 ; 11pm)
SenandungSenja~

Hari ini, ternyata masih sama seperti hari kemarin. Langkahku masih gontai, masih malas rasanya menjejakkan kaki ini ke tanah. Pemandangan indah di kiri dan kanan diri pun seolah tak menarik buatku. Padahal begitu banyak keindahan yang cukup bisa membuatku tersenyum simpul atau sekedar membuat mataku segar.

Masih jelas terbayang, dua hari yang lalu semangatku begitu berapi-api menyelesaikan ini. Dengan sejumlah dopping (roti, kerupuk beras, kopi susu, teh hangat, serta semangkuk mie instant), mata ini tak lepas dari layar laptop kreditanku. Konsentrasi begitu penuh rasanya kutuangkan saat aku melakukan ini. Sesekali kulirik BB dan handphone senterku, apakah ada pesan penyemangat dari orang terdekatku. Ya, karena selain doa dan semangat dari orangtuaku, support dari sang pacar juga menjadi salah satu hal yang paling berpengaruh dari proses ini.

“Latar belakang, Rumusan masalah, Kajian teori, blablabla…” Oke, selesai. Tinggal di ajukan saja esok. Ah, rasanya begitu tidak sabar menunggu hari esok. Menunggu keputusan dari hasil jerih payahku.

 

Apapun hasil keputusannya, mentalku sudah harus siap menerimanya. Revisian judul sudah jadi ‘kunyahan’, penggunaan teori yang diluruskan sudah jadi ‘cemilan’, dan data yang lengkap juga mutlak harus jadi ‘main course’ didalam proses penyakralan benda ini.

Hari yang ditunggu tiba. Dengan kemeja biru, jeans panjang, dan sepatu ketsku, aku terlihat percaya diri. Ditambah lagi dengan ‘Map Kuning’ yang kupeluk. Kuakui, agak sedikit gemetaran langkahku saat menyusuri anak tangga fakultasku. Ditambah lagi keringat dingin yang sudah mulai berdatangan saat kubuka pintu ruangan jurusanku.

“Permisi,”..  Ujarku.

“Eh iya, silahkan masuk”. Sahut ‘Petinggiku’

“Ini tugas saya. Sudah saya revisi sesuai arahan. Mohon bimbingannya” Ujarku lagi.

“Oke kamu tinggalkan saja dulu disini, nanti saya baca. Karena saya sekarang sedang ada urusan jadi mungkin tidak bisa saya periksa sekarang.” Tegasnya dengan wajah yang flat dan acuh tak acuh.

“……. (speechless beberapa saat ). Oh, baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak. Saya permisi dulu.” Kataku dengan intonasi kecewa yang tak bisa lagi kututupi.

Akupun keluar ruangan dengan wajah yang tertunduk lemas, bak sehabis digantungkan perasaannya terhadap manusia yang dicintainya. (Loh ?! PHP Maksudnya ?! Zzzzzzz)

Dua hari telah berlalu, aku kembali ke Gedung megah ber-genre Negeri yang bermacam ragam pemandangan disekelilingku. Sesekali aku tersenyum kepada teman-temanku, dan kembali memasang wajah flat plus bimbang karena masih shock akibat tragedi eksekusi ‘map kuning’ku…

Tok..tok..tok.. Kembali aku mengetuk pintu ruangan ‘suci’ itu.

 

“Permisi, saya mau bertanya. Tugas saya yang tempo hari bagaimana ya kelanjutannya ? Apakah sudah dibaca lalu dikoreksi ?” Tanyaku pada salah satu petugas jurusanku.

“Tugas yang mana ya ? Atas nama siapa ? Kamu ? Emang yakin kamu punya bakalan dibaca ? Yakin kamu bakalan lulus ?” Jawab petugas tersebut sembari melempar senyum sinis.

Jlebb! Seolah ada kapak 212-nya wiro sableng yang menancap direlung dada ini. Nyerinya Tuhan !!!!  Kali ini aku kembali dibuat speechless (lagi).

“Hehehe, ya yakin dong. Ini kan sedang dalam proses menuju kelulusan. Pelan-pelan dong biar hasilnya maksimal. Ya kalopun saya ndak lulus, urusan saya sama hidup saya dan Tuhan, toh ?!” Ujarku sembari menahan kesal.

“Hahaha, baiklah. Oh ini punyamu. Belum dibaca kelihatannya. Beliau sedang banyak kerjaan. Jadi kamu mesti sabar ya.” Kata si petugas tesebut sembari memilah-milah ‘map kuning’ yang berbaris panjang dalam laci filling cabinetnya.

“Baik. Terimakasih banyak.” Ujarku sambil membuka pintu lalu keluar dari ruangan.

Rasanya cepat sekali 1 minggu berlalu. Dengan tak bosan-bosannya, aku kembali lagi ke tempat bersejarah ini.

Tok..tok..tok.. Kuketuk lagi pintu ruangan itu.

“Permisi, saya balik lagi nih. Gimana, sudah ada perkembangan dari tugas saya ? Sudah hamper 2 minggu saya tinggalkan soalnya.” Tanyaku pada petugas yang sama tempo hari.

 

 

“Oh, kamu lagi. Sebentar saya cek.”Jawabnya sambil mengobrak abrik isi dalam tumpukan ‘map kuning’ yang berjejer diatas mejanya.

Berjejer, ya bertumpuk juga lebih tepatnya. Aku curiga, jangan-jangan malah ada yang sampai berdebu atau bersarang laba-laba. Hahaha 😀

“Ini punyamu. Sudah diperiksa, sudah diberi pembimbing tetap juga, dan sudah ada revisiannya lagi ya. Hahaha” Ujarnya sambil kembali duduk ke mejanya.

“Alhamdulillah, setidaknya mulai ada titik terang dari ini semua. Ya, paling tidak melihat coretannya saja aku sudah bahagia. Bagaimana lagi jika kulihat tanda tangannya yang meng-acc untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Bisa sujud syukur aku diatas atap gedungku. Se-excited itu kah ? YA !

Singkat cerita, hari sakral itu akan segera  tiba. Rekan-rekan yang berjuang sepertiku, lebih dulu menjadi A Lucky Person. Sudah mulai persiapan fitting kebaya, membeli jas, menyewa toga, dan hal-hal yang membuatku menangis di pojokan kamarku. Aku lihat ada rona bahagia diwajah mereka. Aku fikir, mereka adalah rekan ‘Satu Ibu’ku. Rupanya tidak, mereka adalah anak ‘Ibu sebelah’. Setelah kutelisik, anak-anak ‘Satu Ibu’ku , yang menyewa kebaya dan jas, bisa dihitung menggunakan jari jumlahnya, dan dari ‘Bapak’ yang berbeda pula. Se-miris itukah ?! YA ! Ckckckckc…

“Belum barengan kita tahun ini ?!” Teriak satu rekanku disaat H-2 menuju prosesi ‘penyakralan’ mereka.

“Belum nih. Masih proses penyelesaian.” Jawabku sembari menggenggam erat ‘Map Kuning’ku.

“Oh oke deh. Eike duluan lah ya cyiiinn.” Ujarnya sambil tertawa girang riang gembira ala mak lampir agaknya.

 

Aku tak menjawab, aku teruskan langkahku menuju tangga gedung sambil terus mengepit dan memandang miris ‘map kuning’ku.

“Heh, kamu napain disini ?! Belum sama mereka disana ?!” Kata seorang ‘Petinggi’ yang belum kulihat wajahnya dan baru kedua kakinya yang bersepatu yang kupandang.

“Eh anu…itu.. belum sekarang !!!!” Teriakku kencang dengan nada terkejut hingga terjatuhlah ‘Map Kuning’ bagian dari hidupku itu………

 

 

To be continued…..

 

Penulis :  Irma sari mahasiswa sosiologi

UMRAH Nilai Pernyataan Kadisdik Kepri Tidak Berdasar

dosen-umrah

 

Persma Kreatif Fisip Umrah, Tanjungpinang- Pihak Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Tanjungpinang menegaskan dana hibah yang bersumber dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dipergunakan untuk kegiatan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Jadi klaim Kepala Dinas Pendidikan yang menyatakan bahwa penggunaan dana hibah tidak jelas, merupakan pernyataan yang tidak berdasarkan fakta yang sebenarnya,” katanya.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Biro Umum Perencanaan dan Keuangan (BUPK) UMRAH Edison, di Tanjungpinang, Selasa, menanggapi komentar Kepala Dinas Pendidikan Kepri Yatim Mustafa yang hingga saat ini bersikeras tidak memberi surat rekomendasi pencairan dana hibah.

“Sesuai dengan salah satu klausul dalam Peraturan Presiden pendirian Umrah, pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berkewajiban membantu membiayai Umrah selama minimal lima tahun sejak bantuan diberikan. Karena bantuan dalam bentuk hibah diberikan mulai tahun 2012, maka akan berakhir tahun 2016 ini,” ujarnya yang juga Deputi Polsoskam BPKP.

Dia menjelaskan hibah yang diterima selama kepemimpinan Rektor Umrah Prof Syafsir Akhlus sejak Juni 2014-2015 sebesar Rp18 miliar, masing-masing sebesar Rp8 miliar tahun 2014 dan Rp10 miliar tahun 2015.

Hibah tersebut digunakan untuk membayar gaji pokok, tunjangan keluarga, dan tunjangan prestasi kerja pegawai dan dosen non PNS serta honor kelebihan jam mengajar dosen non PNS.

Hibah sebesar Rp103 miliar untuk pembangunan fisik serta Rp50 miliar dalam bentuk uang tunai diterima dan digunakan dalam periode rektor sebelumnya yang diturunkan di tengah jalan. Hibah untuk pembangunan fisik sebesar Rp103 miliar juga langsung dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau.

“Hibah yang diterima dari Pemerintah Kepri sesuai dengan peraturan yang berlaku, diregistrasi ke Kementerian Keuangan RI dan dimasukkan ke dalam DIPA Umrah,” katanya.

Di awal kepemimpinan Prof Syafsir Akhlus, kata dia hal pertama yang dilakukan memperbaiki kesejahteraan pegawai dan dosen non pns yang sebelumnya digaji tidak layak dengan menaikkan gaji pokok setara dengan pns dan memberikan tunjangan perbaikan penghasilan. “Sumber pembiayaannya berasal dari hibah yang diberikan Pemerintah Kepri,” katanya.

Pada akhir tahun 2015, mulai bulan November, gaji pokok pegawai dan dosen non PNS dibebankan ke DIPA UMRAH dengan konsekwensi banyak kegiatan yang dikorbankan. Dalam tahun 2016, gaji pokok dan tunjangan keluarga pegawai dan dosen non pns sebesar Rp7 miliar dibebankan ke DIPA UMRAH pada komponen BOPTN.

Akibatnya dana untuk kegiatan kemahasiswaan, penelitian dosen, pengembangan dosen sangat tidak memadai.

Jika hibah dari Pemerintah Kepri sebesar Rp15 miliar tersebut dicairkan, maka hanya cukup digunakan untuk membayar tunjangan pegawai dan dosen non PNS serta untuk membayar dana talangan yang digunakan untuk membayar gaji dan tunjangan pegawai dan dosen non PNS bulan September dan Oktober 2015.
Sumber : Metrobatam

ALIANSI MAHASISWA KOTA TANJUNGPINANG GELAR AKSI HARI PANCASILA

20160601_204806[1]

Persma Kreatif Fisip Umrah-  Memperingati Hari Lahirnya Pancasila yang jatuh 1 Juni hari ini, Rabu (31/5) malam ini puluhan pemuda pemudi/mahasiswa kota Tanjungpinang menggelar aksi simpatik dilapangan Pamedan dan sekitarnya . Aksi ini cukup menyita perhatian masyarakat, terutama para pengguna jalan yang melewati lapangan simpang lampu merah pamedan.

Dalam rangka peringatan hari pancasila ini, pemuda pemudi/mahasiswa mengutarakan beberapa aksi yang sebelumnya dimulai dari pukul 7.30  digelar dengan berbagai kegiatan mulai dari menyanyikan lagu indonesia raya , monolog, pembacaan puisi dan teatrikal oleh para mahasiswa dengan suasana yang membangkitan kembali jiwa jiwa semangat kesatuan pancasila

Lahirnya jiwa jiwa mudah anak bangsa mengubah suasana dalam peringatan hari lahirnya pancasila yang di wujudkan dengan berjalan kaki mengitari sepanjang jalan pamedan dengan membawa Pawai Obor yang di ikuti oleh 55 orang  dengan rute mulai dari gerbang lapangan hingga tugu pancasila dengan menyanyikan lagu-lagu nuansa kebangsaan yang dikawal langsung oleh pihak kepolisian Polres Tanjungpinang.

Menurut Nina  aksi ini sebagai penggugah untuk  membakar semangat  kebangkitan pemuda pemudi kepri dan khususnya Tanjungpinang pada semangat pancasila dan untuk mengingatkan kepada masyarakat luas , pemerintah bahwa pada hari ini adalah hari pancasila yang dimana masyarakat kepri lebih memaknai, mengingat dan mengimplementasikan dari nilai-nilai pancasila itu sendiri. Ujarnya selaku korlap

Dalam hal ini Gebri Mulyadi melontarkan pandanganya “Pancasila yang dijadikan dasar dari segala dasar negara indonesia sebagai pengatur tatanan hidup berbangsa dan bernegara kini seolah hanya sebuah tulisan yang dibaca pada saat upacara pengibaran bendera , nilai nilai yang terkandung di dalamnya tak lagi di terapkan, bahkan banyak dari masyarakat yang belum mengetahui makna sebenarnya dari pancasila itu sendiri.
sebenarnya apa yang menyebabkan masyarakat lupa sehingga pancasila itu seakan akan hilang dari tatanan hidup bermasyarakat? Apakah pemerintah yang terlalu sibuk dengan politik yang tak ada habisnya ? mulai dari politik propaganda, politik mata dua, sampai politik cinta dan melupakan tugas dan pungsinya, menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia seperti yang tertera dalam sila kelima . ataukah masyarakat yang dengan sengaaja melupakan sila ketiga “ persatuan indonesia “.

Untuk itu kami segelintir kecil pemuda dan mahasiswa mencoba membangkitkan kembali jiwa jiwa persatuan dan kesatuan itu dengar menggelar aksi damai, dengan harapan mampuh menggugah hati dari semua elemn bahwa betapa pentingnya pancasila dikehidupan .

(Redaksi)

 

 

 

 

 

 

 

 

MANUSIA SERIBU WAJAH

Oliver-Twist

 

Judul Buku      : Oliver Twist

Pengarang       : Charles Dickens

Penerbit           : Laksana

Tahun Terbit : 2013

 

 

 

 

Beberapa kisah pilu seorang anak manusia yang senantiasa dianiaya, disiksa, dan disia-sia tentu sering kita temui di sinetron-sinetron tanah air. Mungkin, alur cerita dalam sinetron-sinetron ini akan sangat mudah ditebak. Terlebih lagi ide cerita tersebut juga seakan terlalu “pasaran” dan membosankan. Mungkin, seringkali di kalangan para akademisi, menonton sinetron akan dianggap sebagai kegiatan yang “memalukan”. Tidak jarang ejekan-ejekan akan menghampiri orang-orang yang doyan menonton sinetron. Namun, di sini tentunya kita tidak akan membahas lebih lanjut mengenai sinetron. Ide cerita dalam sinetron tentang tokoh protagonis yang selalu teraniaya rupanya cukup menyita perhatian penulis. Apalagi ide cerita seperti ini ternyata juga terdapat dalam sebuah novel yang berjudul “Oliver Twist”.

Novel “Oliver Twist” ini merupakan sebuah karya yang disebut-sebut sebaga karya emas dari Charles Dickens. Charles sendiri merupakan salah satu penulis lawas asal Inggris. Novel asli “Oliver Twist” ditulis dalam bahasa Inggris. Namun, saat ini novel ini telah dapat dinikmati dalam terbitan berbahasa Indonesia.

Jika dilihat dari ide cerita, mungkin sebagian atau bahkan kebanyakan orang akan beranggapan bahwa novel ini sama pasarannya dengan sinetron-sinetron yang ada saat ini. Mungkin orang akan mengira bahwa novel ini akan sangat membosankan. Namun, tahukah bahwa “Oliver Twist” ini tidak hanya sekedar menjual kisah menye-menye yang hanya bermodal mampu membuat orang menangis dan trenyuh?

“Oliver Twist” sendiri berkisah tentang lika-liku perjalanan hidup seorang anak yatim piatu bernama Oliver Twist. Ia menjadi yatm piatu sejak ia dilahirkan. Masa hidupnya ia habiskan di panti sosial hingga jalanan. Semasa hidupnya di panti sosial, ia seringkali mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari atasan panti. Perlakuan kasar, caci maki, dan sumpah serapah menjadi santapan sehari-hari di panti sosial. Tidak berhenti sampai di situ, perlakuan tidak manusiawi lainnya yang Oliver alami adalah dijual kepada pembuat peti mati.

Namun, hidup dengan “majikan” baru rupanya tidak serta merta mengubah kehidupan pahitnya di panti sosial. Di sana ia juga ditindas oleh istri tukang peti dan salah satu anak buahnya. Begitulah hidup Oliver senantiasa dikelilingi oleh orang-orang yang menindasnya. Bahkan saat ia kabur dari rumah tukang peti dan memutuskan kabur ke London, ia masih saja bertemu dengan orang-orang jahat lainnya. Namun, perjalanan ini pada akhirnya membawanya menemukan orang-orang tulus, serta latar beakang keluarganya dulu yang tak pernah ia kenal.

Novel ini bisa jadi pilihan bagi Anda yang ingin menikmati hiburan ringan serta menyegakan bahkan di sela-sela kesibukan Anda. “Oliver Twist” membantu membuka mata kita akan berbagai macam karakter terdalam manusia. Kita akan dikenalkan dengan banyak tokoh yang mampu memerlihatkan pada kita tentang karakter manusia yang kadang tidak terlihat secara gamblang dan blak-blakan.

Di sini kita disadarkan pada realita yang memang ada di dunia nyata manusia bahwa terkadang watak dasar manusia seringkali tertutupi oleh hal-hal lain yang sifatnya duniawi seperti martabat dan kekuasaan. Novel ini akan membawa pembaca untuk terhanyut dalam jalinan kisah yang menggambarkan ketekunan, kesabaran, ketabahan, belas kasih, dan kepolosan dari seorang Oliver. Di samping itu pembaca juga mendapatkan gambaran tentang kekejian, ketamakan, hingga rasa pengecut seorang manusia.

Dalam novel ini sendiri, penulis merasa tertarik oleh penggambaran rasa pengecut yang diwujudkan sang novelis. Hal ini terwujud dalam sosok tokoh Noah Claypole yaitu salah satu pekerja dari si tukang peti. Noah digambarkan selalu menindas Oliver yang ia anggap sebagai bawahannya. Sebenarnya ia sendiri adalah seorang anak yang melarat dan sering sering dijahili oleh anak-anak lainyya. Keberadaan Oliver membuatnya senang karena ia dapat melampiaskan dendamnyaan yaitu dengan menjaili Oliver. Nah, kutipan yang menarik dalam bagian ini adalah:”Orang-orang yang berjiwa pengecut biasanya memang suka menyakiti orang lan yang lebih lemah darinya”. Masih menurut novel ini, salah satu sifat gelap manusia adalah ketika ia tidak bisa membalas dendam pada orang-orang yang menyakitinya, seringkali ia melampiaskannya kepada orang yang lebih lemah darinya. Akhirnya dari cerita inilah terlihat bahwa novelis sangat apik dalam menggambarkan watak terdalam dari seorang manusia dan dengan ide penceritaan yang cerdas. Begitulah Charles akan menceritakan bagaimana watak dasar manusia yang terdalama itu sangat beragam dan menarik untuk dikupas. Ya, ibarat kata adalah manusia dengan seribu wajah…

Hal tersebut menjadi kelebihan novel yang ditulis oleh Charles ini. Mungkin, Anda akan menemukan hal-hal menarik lainnya dari cara Charles mengungkapkan watak terdalam dari manusia yang lainnya. Oleh karena itu, novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca meskipun sepintas terlihat sebagai novel menye-menye dan sinetron banget. Selamat menikmati karya besar Charlesyang mengagumkan dan sarat akan nilai-nilai kehidupan ini!
(Beto)

Tipe Pemimpin Seperti Apakah Dirimu?

 

 

Tanjungpinang – Kreatif.com- “If your emotional abilities aren’t in hand, if you don’t have self-awareness, if you are not able to manage your distressing emotions, if you can’t have empathy and have effective relationships, then no matter how smart you are, you are not going to get very far.” –Daniel Goleman-

Banyak sekali teori kepemimpinan yang ada. Daniel Goleman seorang psikolog dan penulis buku terkenal “Emotional Intelligence” membaginya menjadi 6 tipe. Yuk, simak dan lihatlah tipe seperti apa yang saat ini ada padamu dan teman-teman dekatmu.

  1. KOERSIF
    “Lakukan saja.”
    “Jangan banyak tanya.”
    “Jelas!”
    Titahnya mutlak, baginya orang lain cukup mengerjakan apa yang diminta. Apa yang dilakukan adalah suatu kewajiban sehingga terkadang kita merasa kurang dihargai. Mungkin sekali tipe seperti ini menimbulkan rasa takut, benci dan situasi tidak kondusif namun, kemampuan pemimpin koersif akan sangat berguna ketika menghadapi situasi gawat yang membutuhkan keputusan cepat.
  2. OTORITATIF
    Senang, semangat, penuh percaya diri adalah ciri pemimpin otoritatif. Penghargaan juga ciri kepemimpinannya. Namun, terkadang otoritatif akan kesulitan bergerak dengan tim yang orang-orangnya mempunyai kemampuan yang sama dengannya. Ia akan cenderung pendiam bahkan angkuh karena merasa tidak ada yang seperti dirinya.
  3. AFILIATIF
    Memikirkan kepentingan semua orang dan menciptakan suasana nyaman adalah ciri khas pemimpin afiliatif. Ia juga menyukai kegiatan diskusi dan menyemangati orang-orang untuk berpendapat sebebas-bebasnya tanpa takut dicemooh. Pemimpin afiliatif lebih cenderung melihat pada proses ketimbang hasil.
  4. DEMOKRATIS
    Senang melibatkan orang lain dalam membuat keputusan. Ia lebih menekankan pada kondisi saling mengerti antar sesama kelompok daripada kesenangan semata. Pemimpin demokratis akan cemerlang dikalangan tim yang memiliki visi yang sama. Namun, ia cenderung lemah dalam memutuskan sesuatu sehingga terkadang memicu emosi dari rekannya.
  5. PACESETTING
    Merasa tertekan, tidak mampu, malas adalah aura yang yang dirasakan orang disekitar pemimpin pacesetting ini. Ia bertipe perfeksionis, artinya orang lain harus melakukan segalanya sebaik dirinya. Pemimpin pacesetting cocok bekerja dengan orang-orang yang mampu memotivasi diri sendiri, apabila tidak, mungkin ia akan ditinggalkan begitu saja.
  6. COACHING
    Pernahkan kamu merasa dihargai, diarahkan, diajari tanpa merasa digurui?
    Pemimpin berciri coaching mampu menggali potensi yang dimiliki anggotanya serta mengasah kemampuan mereka sehingga dengan kekuatan bersama, organisasi dapat berkembang. Ia memperhatikan individu dan menunjukkan kelebihan anggota serta membantu mengatasi kelemahan mereka. Menjadi pemimpi bersifat coaching menyita waktu karena tidak mudah mengarahkan banyak orang, namun hasilnya? Tidak perlu diragukan.

Nah, bagaimana? Untuk menjadi pemimpin di masa depan sebaiknya melakukan kombinasi beberapa tipe diatas, karena setiap tipe memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mengetahui, memperkaya, dan mengasah kemampuan memimpin akan membuat kamu mampu memilih tipe yang sesuai dengan situasi. Selain itu, perbanyaklah membaca buku sebagai referensi dan jangan takut melangkah apabila keyakinan melekat kuat dalam hatimu.

 

 

Kondisi kampus UMRAH menurut pandangan saya

IMG_20160213_143454

Fisip umrah mempunyai letak yang cukup strategis berada dipusat provinsi kepri. Berada di pesisir laut dompak. Namun saya bingung apakah letak di pesisir pantai dikatakan Kampus maritim ?

Infrastruktur, Umrah universitas yang masih dalam proses meunuju kedewasan, kampus yang masih baru sekitar 8 tahun, sehingga masih banyak yang perlu dibenahi, dilakukan dalam peningkatan infrastruktur pendukung kemajuan kampus. Namun sepertinya progress berjalannya tidak significant, bergerak melambat. Saya berfikir hal yang sangat perlu dibangun di kampus yaitu fasilitas Perpustakaan yang lengkap, bebas akses( free wifi) ,  kondusif, nyaman untuk belajar, berdiskusi. Infrastruktur memang fasilitas pendukung, namun bukan berarti tidak perlu.

Pelayanan Birokrasi ya, Birokrasi fisip sedikit membaik dibandingkan kemarin, mungkin karena rotasi pegawai kali ya. Wah dulu pelayanan fisip begitu lelet dan berbelit, apalagi dalam pembuatan surat selalu salah dalam penegetikan dll. Tindakan bijak ada media pers umrah kali ini peduli sama umrah. sangat disayangkan tidak adanya kotak komentar masalah pelayanan sehingga kami tidak bisa komentar atas pelayanan tak tidak prima.

Umrah mempunyai visi menjadi Universitas Maritim  terkemuka di Indonesia dan dunia, ya mungkin saja, saya optimis para pemimpin kampus dan pendiri kampus maritime tentunya mempunyai strategi dalam pembangunan kampus maritime, ya kita lihat saja nanti….

Kalo sekarang ya, menurut saya kampus berbasis maritim memang sangat langka dan jarang sekali. Pihak akademisi dan pihak pemerintah menurut saya harus sama bersinergi dalam hal pembangunan kampus kemaritiman ini. Beberapa hal yang perlu ada dalam kampus maritim yaitu harus jelasnya arah maritim dalam skema kampus maritim, pengenalan dan fokus maritim seperti apakah saja, Penajaman ilmu dan teknologi tentang kemaritiman, jadi didalam mata kuliah harus mengekplorasi tentang kemaritim, namun bukan berarti semua harus maritim, Besar harapan saya kedepannya UMRAH mempuyai fakultas ataupun program studi Kemaritiman dan menajdi terkemuka di Indoensia..

Oleh : Allimin