Arsip Kategori: Tak Berkategori

SEJUMLAH MAHASISWA TANJUNGPINANG MENGGELAR AKSI SIMPATIK HARI LAHIRNYA PANCASILA

TANJUNGPINANG PERSMA KREATIF – Memperingati Hari Lahirnya Pancasila yang jatuh 1 Juni, sejumlah mahasiswa ikatan mahasiswa muhammadyah/IMM kota Tanjungpinang menggelar aksi simpatik dilampu merah lapangan Pamedan dan sekitarnya, Jumat (1/6/2016).

Aksi tersebut cukup menyita perhatian masyarakat, terutama para pengguna jalan yang melewati lapangan simpang lampu merah pamedan. Dalam rangka peringatan tersebut beberapa mahasiswa mengutarakan pendapat dan pandangannya lewat orasi.

beberapa aksi yang sebelumnya dimulai dari pukul 16.30 wib digelar dengan berbagai kegiatan mulai dari menyanyikan lagu indonesia raya , hingga orasi kebangsaan yang dikawal langsung oleh pihak kepolisian Polres Tanjungpinang.

hal ini sebagai penggugah untuk membakar semangat kebangkitan pemuda-pemudi dan mahasiswa Tanjungpinang pada semangat pancasila dan untuk mengingatkan kepada masyarakat luas serta pemerintah untuk mari bumikan PANCASILA di negeri melayu tanah gurindam ini. Ujarnya Toh Andi selaku korlap.

kepri darurat kerja, lobi-lobi politik tak berkesudahan dan pancasila sudah lagi tak diamalkan sesuai denga bunyi pasal 4 “permusyawaratan rakyat yang dipimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan” hal ini terlihat satu tahun jabatan gubernur kepulauan riau yang tidak memiliki wakil yang akhirnya berimbas pada kehidupan sosial politik, ujar Imawan jepri selaku ketua ikatan mahasiswa muhammadyah/IMM tanjungpinang.

Untuk itu kami segelintir kecil mahasiswa mencoba membangkitkan kembali jiwa jiwa persatuan dan kesatuan di negeri melayu ini dengan menggelar aksi damai, dengan harapan mampuh menggugah hati dari semua elemen bahwa betapa pentingnya pancasila dikehidupan, tegasnya.
(beto)

SEJUMLAH MAHASISWA TANJUNGPINANG MENGGELAR AKSI SIMPATIK HARI LAHIRNYA PANCASILA

TANJUNGPINANG SIJORITODAY.com –
 Memperingati Hari Lahirnya Pancasila yang jatuh 1 Juni, sejumlah mahasiswa ikatan mahasiswa muhammadyah/IMM kota Tanjungpinang menggelar aksi simpatik dilampu merah lapangan Pamedan dan sekitarnya, Jumat (1/6/2016).

 Aksi tersebut cukup menyita perhatian masyarakat, terutama para pengguna jalan yang melewati lapangan simpang lampu merah pamedan. Dalam rangka peringatan tersebut beberapa mahasiswa mengutarakan pendapat dan pandangannya lewat orasi.

 beberapa aksi yang sebelumnya dimulai dari pukul 16.30 wib digelar dengan berbagai kegiatan mulai dari menyanyikan lagu indonesia raya , hingga orasi kebangsaan yang dikawal langsung oleh pihak kepolisian Polres Tanjungpinang.

hal ini sebagai penggugah untuk membakar semangat kebangkitan pemuda-pemudi dan mahasiswa Tanjungpinang pada semangat pancasila dan untuk mengingatkan kepada masyarakat luas serta pemerintah untuk mari bumikan PANCASILA di negeri melayu tanah gurindam ini. Ujarnya Toh Andi selaku korlap.

kepri darurat kerja, lobi-lobi politik tak berkesudahan dan pancasila sudah lagi tak diamalkan sesuai denga bunyi pasal 4 “permusyawaratan rakyat yang dipimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan” hal ini terlihat satu tahun jabatan gubernur kepulauan riau yang tidak memiliki wakil yang akhirnya berimbas pada kehidupan sosial politik, ujar Imawan jepri selaku ketua ikatan mahasiswa muhammadyah/IMM tanjungpinang.

Untuk itu kami segelintir kecil mahasiswa mencoba membangkitkan kembali jiwa jiwa persatuan dan kesatuan di negeri melayu ini dengan menggelar aksi damai, dengan harapan mampuh menggugah hati dari semua elemen bahwa betapa pentingnya pancasila dikehidupan, tegasnya.

beto

KURANGNYA PARTISIPASI MAHASISWA UMRAH DALAM PESTA DEMOKRASI PEMILIHAN PRESIDEN MAHASISWA UMRAH

Persma Kreatif Fisip UMRAH – Senin (22/5) telah diselenggarakan pesta demokrasi dalam pemilihan presiden mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji ,pelaksanaan demokrasi dilkukan secara e-vote dan pelaksanaan pemilihan tersebut di lakasanakan di setiap fakultas yang terdapat di UMRAH ,salah satunya fakultas  Ilmu Sosial dan Politik ( Fisip ) yang tingkat partisipasinya sangat kurang dalam pelaksanaan pesta demokrasi ini.

Dalam pelaksanaan pesta demokrasi tersebut terlihat masih kurangnya partisipasi mahasiswa UMRAH dalam melaksanakan pesta demokrasi , hal ini terlihat dari perbandingan jumlah mahasiswa yang ikut serta dalam pelaksanaan pesta demokrasi tesebut tidak sampai 50% dari jumlah keseluruhan  yang terdaptar sebagai mahasiswa UMRAH. Mahasiswa FISIP  yang berjumlah sebayak 2.106, (22%), namun mahasiswa yang ikut serta dalam pemilihan hanya sebanyak 483 orang dari hasil Quick acount. mahasiswa FKIP jumlah total mahasiswa sebanyak 1208 yang memberikan hak suara  452 (37%), mahasiswa FE berjumlah 1051 yang memberikan hak suara sebanyak 196 (18%), mahasiswa FIKP sebanyak 740 yang memberikan hak suara  241 (32%), mahasiswa TEKNIK berjumlah 509 yang memberikan hak suara 105 (20%).

Pemilihan Raya perdana  ini merupakan sejarah  bagi Umrah ,dalam pemira inilah menentukan Presiden Negara Umrah.  Pemira kini kehilangan esensi. Pemira tidak menjadi kegiatan besar yang ditunggu-tunggu dikalangan mahasiswa.

Seperti pemilu di Indonesia, Pemira Umrah pun berlangsung secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Mahasiswa sebagai “rakyat” Umrah memiliki hak pilih untuk menentukan siapa yang akan menahkodai perahu Universitas ini. Namun, fakta yang terjadi di lapangan adalah tidak semua mahasiswa Umrah ambil andil untuk menentukan presiden Umrah kedepanya. Sebagai bagian dari sebuah Negara, sudah seharusnya semua elemen yang terkandung dalam Negara itu ikut menentukan siapa pemimpin mereka. Layaknya Negara Indonesia, begitupun hendaknya Negara Umrah yang digawangi oleh presiden mahasiswa Keluarga Mahasiswa. Dalam menentukan Presiden dilaksanakanlah pemira yang diikuti oleh semua mahasiswa Umrah.

SEPI PEMILIH

            Menanggapai hal ini, Taufik sebagai PPRU mengungkapkan bahwa panitia telah maksimal mensosialisasikan pemira dengan berbagai cara seperti kunjungan ke BEM tiap fakultas yang ada di UMRAH, penempelan pamflet, spanduk ditempat-tempat strategis serta memanfaatkan jejaring sosial.

            Namun sepinya Pemira tahun ini karena mahasiswa itu sendiri cenderung pasif seolah tidak mau tahu tentang pemira, Padahal mahasiswa itu seharusnya agen of change dan sosial kontrol. “Mahasiswa belum sadar tentang peranannya, sehingga untuk agenda-agenda kampus terutama yang berkaitan dengan keorganisasian mahasiswa cenderung tidak mau ikut berpartisipasi. Akibatnya pemira terkesan sepi”

mahasiswa Ilmu Administrasi Negara yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa ia tak mau tahu tentang Pemira. Saat ditanya tentang Pemira, ia acuh tak acuh saja. “Masih banyak hal yang harus saya kerjakan dari pada ikut mimilih orang yang saya tidak kenal”, ungkapnya. Sedangkan  menurut Abdurrahmad salah satu mahasiswa ilmu pemerintahan mengatakan  bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan jumlah pemilih kecil. Pertama, mahasiswa sekarang yang menganut paham study oriented, mahasiswa ini hanya berorientasi pada belajar. Kuliah pulang-kuliah pulang (kupu-kupu) menjadi kegiatan rutin dan tidak pernah memperhatikan perkembangan keadaan kampus. Bahkan tidak memiliki waktu untuk melihat dan membaca mading. Kedua, ada kelompok yang memilih golput dengan alasan tertentu. Mahasiswa golput ini dalam skala kecil. Ketiga, mahasiswa tidak berada dikampus ketika Pemira. Bisa saja pada hari itu tidak ada kuliah. Terakhir, ada mahasiswa tahun akhir yang jarang ke kampus. Mahasiswa tahun akhir jarang berada di kampus karena tidak ada lagi mata kuliah dan tidak hadir ketika hari pemilihan.

( Febby wahyudi)

AKHIR DARI SATU DEKADE PRESIDEN MAHASISWA UMRAH

Hasil gambar untuk universitas maritim raja ali haji

Berbicara tentang peranan mahasiswa dalam proses perubahan masyarakat menuju tatanan demokratis, maka benak kita akan melayang pada peristiwa di tahun 1966, 1978, dan 1998, dimana pada waktu itu peranan mahasiswa sebagai sebuah gerakan moral, me nunjukkan eksistensinya. Aktifitas dan gerakan mahasiswa kala itu memiliki kesamaan isu dan musuh, yaitu rezim yang otoriter dan eks- ploitatif. Kondisi tersebut menjadikan mahasiswa sebagai sebuah gerakan, mampu muncul menjadi kekuatan besar, sehingga mengutip Arief Budiman, bahwa cuma ada satu kata untuk menyebut gerakan mahasiswa waktu itu (1998), yaitu fantastis!

Pertanyaannya kemudian, bagaimana pe ranan mahasiswa dalam agenda suksesi, baik di tingkat pendidikan? Dalam konteks peranan mahasiswa, jika dibandingkan dengan gerakan-gerakan yang bersifat spektakuler, adalah tetap sama, yakni menjaga atau mengawal proses demokratisasi, hanya saja mungkin caranya yang berbeda. Kondisi ini disebabkan agenda suksesi kepemimpinan presiden mahasiswa dalam pesta demokrasi, mahasiswa tidak berhadapan dengan rezim yang otoriter atau yang kesewenang-wenangan. Mahasiswa yang dihadapkan pada situasi ini, yaitu kepedulian akan kampus UMRAH yang selama ini tidak memiliki presiden mahasiswanya. Miris bukan sobat ? kampus negeri, universitas negeri satu satunya yang sekaligus menjadi kebanggan oleh masyarakat kepulauan riau.

Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) berdiri pada 1 Agutus 2007, bila merujuk pada izin operasional, yaitu SK Mendiknas Nomor 124/D/O/2007. Pada 8 September 2011, UMRAH secara resmi menjadi perguruan tinggi negeri. 10 tahun sejak berdirinya UMRAH, berdasarkan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti, saat ini terdapat 5.614 mahasiswa aktif yang tersebar dalam 18 jurusan di lima fakultas, yakni: 2.106 mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP); 1.208 mahasiswa di Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP); 1.051 mahasiswa di Fakultas Ekonomi (FE); 740 mahasiswa di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), dan 509 mahasiswa di Fakultas Teknik (FT).

Kini satu dekade usia UMRAH. Selama itu pula, kampus ini tak pernah sekalipun memiliki Presiden Mahasiswa. 10 tahun, suara-suara lantang mahasiswa baku-pukul di udara. 10 tahun, kesucian palu sidang berulang kali kita kotori? Namun tidak berujung menghasilkan buah/sosok pemimpin.
Pada tahun ini, kabar baik itu kembali berlabuh. Perjuangan kita semua untuk memiliki Presiden Mahasiswa tinggal menghitung jam. mari lantangkan suara, kawal pemilu dan gunakan hak suaramu.

Kita adalah UMRAH, bukan dia, bukan kamu dan bukan pula mereka yang punya golongan/kubu-kubu tertentu. Dalam menyikapi pro kontra yang terjadi diantara paslon yang saling menyerang. Mari ambil sikap, jangan mau dipolitisasi. Negeri akan hancur bukan karena mereka para kaum anarkis yang berbuat keonaran melainkan berdiam dirinya orang-orang baik.

(redaksi)

GOTONG ROYONG BERSAMA SELURUH MAHASISWA FISIP UMRAH

Pers mahassiswa kreatif fisip UMRAH- Mahasiswan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) melakukan aksi gotong royong bersama. Kegiatan yang di hadiri oleh anggota dari Himpunan-Himpunan dan mahasiswa ini terpusat pada Musholla kampus dan sekitaran kampus di FISIP UMRAH. Jumat (05/05)

Ketua dari masing-masing Himpunan Mahasiswa FISIP sebagai pelopor kegiatan mengajak seluruh anggota dan seluruh mahasiswa untuk dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan sebagai salah satu pelopor dari kegiatan ini menyatakan bahwa gotong royong ini bertujuan sebagai salah satu bentuk peduli dan cinta terhadap kebersihan di kampus FISIP. “Kita mengadakan gotong royong bersama ini dengan mengusung tema “Kampus Yang Bersih Kampus Yang Sehat” agar mahasiswa di FISIP

UMRAH merasa nyaman berada di kampus,” ujar Baginda Raja Ismail.

“Sebenarnya acara gotong royong ini juga bertujuan untuk meningkatkan jalinan silaturahmi antara sesama mahasiswa FISIP UMRAH. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat jika kita lakukan, tetapi sangat disayangkan, karena belum semua Himpunan Mahasiswa dan mahasiswa-mahasiswa yang berada di FISIP UMRAH bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini,”

ujar Krisye Arga selaku wakil Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Dia juga berharap agar silaturahmi tidak hanya terjalin di dalam kegiatan saja dan kegiatan seperti ini lebih sering di adakan di kampus.

Walaupun belum semua masyarakat yang berada di kampus FISIP UMRAH berpartisipasi dalam kegiatan ini namun untuk langkah awal menuju kampus yang nyaman dengan diadakannya kegiatan seperti ini sudah di laksanakan dengan sangat baik.

Reporter : Selly Sapsena

Kerjasama BI dan UMRAH Menciptakan SDM berkualitas

Persma Kreatif Fisip Umrah -UMRAH menyelenggarakan acara kuliah umum dan penandatanganan Addendum Perjanjian Kerja sama Program Beasiswa Bank Indonesia 2017 dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau. Acara ini di buka pada pukul 15.00, Senin (08/05).

Acara ini bertujuan menjalin kerjasama antara BI dan pihak UMRAH dalam Program Beasiswa Bank Indonesia2017, bertempat di ruang Auditorium UMRAH Dompak, kota Tanjung pinang. Dibuka dengan kata sambutan pertama dari Rektor UMRAH Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc. Dilanjutkan acara yang kedua yaitu sambutan dan sekaligus pembukaan oleh Gusti Raizal Eka Putra, kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri  disertai penandatanganan MOU dan penyerahan Cinderamata baik dari BI ke UMRAH dan sebaliknya. Setelah usai, dilanjutkan dengan seminar yang sampaikan oleh Eko Yulianto, kepala DepartemenPengelolaan Uang Bank Indonesia sebagai pemateri. Judul materi yang disampaikan oleh beliau “Bank Sentral: Status, Kedudukan, Tujuan, dan Tugas Pokok Bank Indonesia”.

            Dalam menyampaikan materi, beliau mengatakan “senang dapat berkunjung di UMRAH, dan ini pertama kalinya saya berkunjung di Tanjungpinang terutama ke UMRAH. Meski saya sudah beberapa kali berkunjung di Kepulauan Riau ini, saya berharap kerjasama ini  kedepannya dapat bermanfaat untuk UMRAH sendiri dan kerjasama dengan BI kedepannya ”.

            UMRAH sebagai Universitas berlokasi di garda terdepan Kepulauan Riau, yang Memiliki banyak potensi salah satunya di bidang maritim, dimana UMRAH memeliki Fakultas Kalautan yang diharapkan SDMnya dapat dimanfaatkan. Sehingga, SDA yang dimiliki tidak sia-sia. Dengan berlangsungnya kuliah umum ini, juga sebagai media memperkenalkan tentaang BI, apa saja tugas BI, sama atau tidak BI dengan Bank Komersial lainnya. Pemateri juga menyampaikan beberapa proyek yang saat ini berjalan yaitu mengonsep Pulau Penyengat sebagai tempat wisata religi, selain itu proyek Membangun Natuna dan masih banyak lagi. Disini diharapkan peran mahasiswa terutama kita Universitas berbasis Maritim dapat menggerakkan perekonomian yang juga didukung SDA yang tersedia dapat mewujudkan perokonomian nasional yang merata.

Gusti Raizal Eka Putra berpesan “Sebagai mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi dalam peran nyata mengembangkan perekonomian dan dapat berbagi ilmu dengan kawan lainnya tentang BI ”.

By , Arina

Sudahkah Pers Mahasiswa Menjalankan Perannya?

Mahasiswa dan pers adalah agen perubahan, roda penggerak menuju perbaikan bangsa dan negara. Jika dua kata tersebut disatukan tentu akan bermakna yang lebih hebat dan lebih besar terhadap perubahan yang diharapkan semua golongan.

Pers mahasiswa merupakan kegiatan jurnalistik yang dilakukan mahasiswa di lingkungan kampus, bahasannya bukan hanya persoalan kampus, namun lebih luas, pers mahasiswa dapat membahas segala hal di luar kampusnya. Ada juga yang menyebut pers mahasiswa adalah aktivitas jurnalistik yang dilandasi idealisme yang tinggi yang berani merefleksikan kenyataan yang hidup dalam masyarakat kampus maupun masyarakat di luar kampus.

Pers mahasiswa di Indonesia telah ada sejak zaman penjajahan. Masa itu mahasiswa menyampaikan pemikiran dan berjuang membangun kesadaran akan kemerdekaan dari belenggu penjajah melalui pers mahasiswa. Selain itu, pers mahasiswa hadir sebagai wadah menulis bagi kaum pelajar yang menjadikan dirinya berbeda dengan kaum bukan terpelajar.

Pers kampus ada sebagai cerminan lingkungan kampus maupun luar kampus. Tidak ubahnya dengan pers secara umum, pers mahasiswa juga memiliki beberapa fungsi seperti yang tercantum dalam Pasal 3 UU Republik Indonesia No.40 Tahun 1999 tentang Pers yang berbunyi pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.

Namun, sudahkah pers mahasiswa saat ini berada di jalannya? Sudahkah pers mahasiswa menjalankan semua fungsi-fungsinya dan berujung pada perubahan yang berarti seperti yang diharapkan?

Saat ini, hampir seluruh kampus baik di lingkungan universitas ataupun fakultas di Indonesia telah memiliki pers mahasiswa dengan ideologinya masing-masing. Fungsi utama pers, yakni fungsi informasi, telah dijalankan dengan sangat baik oleh sebagian besar pers mahasiswa di Indonesia. Mereka menyampaikan informasi baik yang mencakup kampus maupun informasi luar kampus dengan berani dan detail, seperti yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat dan mahasiswa serta civitas akademika universitas sebagai khalayaknya. Dengan ini, fungsi pendidikan pun mereka jalankan dengan cukup baik karena melalui informasi pula pers kampus memberi berbagai pengetahuan kepada pembacanya.

Selain itu, pers kampus juga melakukan fungsi hiburan dengan baik, dapat dibuktikan dengan berbagai informasi menarik mengenai tokoh, tips, tempat-tempat wisata, film, buku, dan hal-hal terkait hiburan lainnya.

Namun, ada peran yang sedikit dilupakan dan cenderung diabaikan pers mahasiswa, yakni kontrol sosial. Peran ini tentu menjadi beban dan tantangan yang cukup berat bagi mahasiswa di balik sebuah pers kampus. Selain itu, banyak mahasiswa saat ini menggeluti dunia pers kampus hanya untuk mengembangkan bakat, potensi dan mencari pengalaman pribadi, tanpa jelas fungsi dan tugas pokok pers itu diadakan.

Untuk mewujudkan fungsi kontrol sosial di lingkungan kampus, pers mahasiswa seharusnya berani mengangkat tema-tema kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak kampus misalnya terkait anggaran kemahasiswaan, uang pembangunan dan lain-lain sangat sulit untuk dipecahkan. Pers Mahasiswa juga harusnya berani memberitakan berbagai kebijakan dan keputusan yang dianggap layak untuk dikritisi dan dikaji kebenaran dan keefektifitasannya.

Sudah selayaknya pers mahasiswa menjadi wadah penyampaian pemikiran kaum-kaum agen perubahan seperti mahasiswa, tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dan memberikan hiburan semata, melainkan menjadi kontrol sosial lingkungan kampus maupun di sekitarnya, yang berujung pada kesadaran dan aksi nyata pada perubahan yang diharapkan.

Meski nyatanya berbagai halangan seperti pers kampus masih masuk kedalam naungan universitas yang terbentur oleh hak seorang mahasiswa dan hak seorang pejabat tinggi di kampus, penolakan dari berbagai pihak termasuk narasumber, serta sempitnya ruang lingkup masih terus menghantui kegiatan pers kampus. Celah untuk mewujudkan segala fungsi pers tentu masih sangat ada jika semua memang mau berusaha.

Hari Kebebasan Pers Sedunia: Harapan Pers Indonesia

Pada tanggal 3 Mei diperingati sebagai hari kebebasan pers dan media, juga menjadi peringatan bagi komunitas pers di seluruh dunia dalam mempromosikan prinsip-prinsip dasar kebebasan pers dan memberikan penghormatan kepada para wartawan yang gugur dalam tugasnya. Pada tahun 2017 ini, Indonesia dipercaya oleh UNESCO untuk menjadi Tuan Rumah dalam Hari Kebebasan Pers Dunia 2017 atau World Pers Freedom Day (WPFD 2017). Mengusung tema “Critical Minds for Critical Time’s: Media’s role in advancing peaceful, just and inclusive societies.”

            Menurut Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo bahwa Indonesia telah menjadi contoh dari kebabasan Pers dari tahun ketahun ditingkat dunia, dengan alasan diantaranya Indonesia merupakan Negara majemuk dengan penduduk yang beragam. Indonesia dianggap memberikan inspirasi karena di Indonesia terdapat 47.000 media yang dapat berjalan tanpa campur tangan pemerintah dan telah menikmati kebebasan pers yang regulatornya adalah dari masyarakat per situ sendiri yaitu Dewan Pers.

            Peringkat Indonesia pada Indeks Kebebasan Pers Sedunia tahun ini naik ke peringkat 124. Dalam inddeks yang dirilis pada Rabu, 26 April 2017, berada tepat di bawah Qatar dan di atas Angola. Tahun lalu, Indonesia berada di peringkat 130 tepat di bawah Algeria.

Sesuia Undang-Undang Nomor 40 pasal 8, merupaka bentuk perlindungan hukum tentang pers. Namun saat ini, kebebasan pers di Indonesia tidak lepas pula dari sisi negative. Pada 2016 kekerasan terhadap jurnalis yang dilakukan oleh anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) terjadi di Medan pada Agustus. Pada Oktober 2016, Sonny Misdianto, wartawan NET TV juga mengalami kekerasan oleh anggota Batalyon Infanteri Para Raider 501 Kostrad yang saat itu sedang meliput di Madiun. Human Rights Watch (HRW) menggarisbawahi kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia yang sampai sekarang proses hukumnya belum jelas. “Kemajuan yang dicapai Indonesia dalamhal kebebasan pers sejak Presiden Soeharto mundur, takkan berlanjut jika pemerintah tak segera menanggapi secara tegas setiap kali wartawan dan organisasi media dilecehkan atau menjadi korban kekerasan,” kata HRW

Serta dalam peringatan hari kebebasan pers ini juga mengajak seluruh kalangan untuk memerangi Hoax, bukan hanya mengajak masyarakat saja namun media massa juga yang sering menjadi sarana penebar berita bohong. Menteri Telekomunikasidan Informatika Rudiantara menghimbau dan mengharapkan kepada media massa supaya melakukan pengecekkan ulang sebelum di publikasikan, demi menjaga keterkaitan berita dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Dia juga memperingatkan bahwa Undang-Undang Pers masih berlaku dan dibatasi oleh kode Etik Jurnalistik.

Semoga dengan ini Indonesia dapat lebih menjunjung tinggi kebebasan pers yang sehat dan etis, kritis serta tetap tercipta kedamaian masyarakat yang aktif dan terbuka.

Akademisi Indonesia Darurat Plagiarisme

Tidaklah mudah untuk mengatakan apakah suatu karya “ya” atau “tidak” mengandung unsur plagiat. Sehingga menjadi penting bagi kita untuk memahami defenisi plagiarisme dari berbagai sumber.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 17 Tahun 2010 dikatakan: “plagiat adalah perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai” jadi dapat disimpulkan bahwa plagiarisme adalah kegiatan menjiplak atau pengakuan atas karya milik orang lain dan menjadikan karya tersebut sebgai ciptaannya.

Plagiarisme telah menjadi sebuah polemik di Indonesia. Hal itu menjadi penting ketika yang tersandung kasus plagiarisme adalah orang-orang yang memiliki kedudukan dan jabatan di Indonesia serta para akademisi terkemuka yang bergelar professor. Beberapa orang penting di Indonesia yang pernah tersandung kasus plagiarisme yakni, Yahya Muhaimin (Menteri Pendidikan era Megawati Soekarnoputri dan Guru Besar UGM), Siti Fadilah Supari (Dewan Pertimbangan Presiden & Mantan Menteri Kesehatan) serta Anak Agung Banyu Perwita (Professor Universitas Katolik Parahyangan)

Plagiarisme sendiri telah berkembang di Indonesia dan telah memasuki ranah akademik. Maka sudah pasti hal ini menjadi urgensi bersama dimana para generasi penerus bangsa menjadi seorang plagiarisme yang dapat mencoreng wajah pendidikan kita dan memburamkan wajah akademis kita, dan tidak berlebihan apabila plagiarisme dikatakan sebagai kejahatan intelektual.

Plagiarisme tumbuh dan berkembang secara pesat di Indonesia tidaklah tanpa faktor, Ada banyak faktor sebenarnya. Mulai dari kurangnya rasa kepercayaan terhadap diri sendiri menjadi hal dasar dalam melakukan tindakan plagiarisme ini, kebanyakan para plagiator ini kurang percaya dengan kemampuan yang dimiliknya, sehingga menganggap karya orang lain itu lebih baik daripada apa yang sebenarnya dia miliki. Dan tidak dapat kita pungkiri bahwa tuntutan kebutuhan juga menjadi faktor dalam melakukan plagiarisme. Para plagiator menjiplak karya orang lain, ini pada umumnya karena desakan kebutuhan. Hal ini dapat kita lihat pada kasus penjiplakan karya tulis di kalangan pelajar dan mahasiswa, berbagai tuntutan tugas yang diberikan oleh pendidik dengan rentang waktu yang singkat membuat mereka frustasi. Sehingga hal ini memaksa mereka untuk melakukan hal instan yaitu dengan meng- copy paste karya milik orang lain. Serta kurangnya sanksi hukum yang tegas pada plagiator juga menjadi salah satu faktor penyebab berkembangnya tindakan plagiat di lingkungan Akademik,  sebenarnya Pemerintah juga telah membuat peraturan sebagai reaksi atas daruratnya plagiarisme di Indonesia, yaitu Peraturan Menteri No. 17 Tahun 2010 serta UU No.19 Tahun 2002 tentang hak cipta. Akan tetapi dalam pelaksanaannya belum begitu dapat berhasil, mengingat masih banyaknya kegiatan plagiarisme yang terus dilakukan, dan ini disebabkan kurang tegasnya aparat penegak hukum dalam menjalankan Undang-Undang.

Ketika budaya plagiarisme ini tetap dipertahankan oleh kalangan pelajar dan mahasiswa, maka kita akan mendapati generasi muda kita yang tidak imajinatif, tidak kritis. Karena ketika mereka mengerjakan tugas akademik yang diberikan oleh guru atau dosen, yang mereka cantumkan bukanlah hasil dari pemikiran dan observasi mereka melainkan hasil dari copy paste atas karya orang lain.

Menanggapi bahaya dari plagiarisme ini maka sudah sepatutnya pemerintah menaruh perhatian besar, karena taruhannya adalah para generasi muda bangsa yang terdidik dan intelek. Sudah sepatutnya pemerintah bukan hanya menerbitkan peraturan saja, tetapi juga melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan peraturan itu sendiri dan tidak mengenal ampun terhadap pelanggar peraturan itu sendiri.

 

 

Penulis             : Immanuel Patar Mangaraja Aruan

Hari Buruh, Haruskah Demo?

Berdasarkan Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan disebutkan bahwa pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Pekerja/buruh merupakan mitra kerja pengusaha yang sangat penting dalam proses produksi guna meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya, menjamin kelangsungan perusahaan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Berbicara tentang kesejahteraan buruh, tidak cukup hanya sekadar dengan penetapan penetapan UMK (Upah Minimum Kota) atau upah tinggi. Upah nominal tinggi tidak berarti sama sekali apabila buruh masih harus menanggung beban ekonomi yang mahal dalam kehidupan sehari-harinya, seperti biaya sekolah dan kesehatan yang disebabkan kegagalan pemerintah menjaga stabilitas harga dan pelayanan publik.

Dalam peningkatan kesejahteraan buruh yang dituntut adalah fungsi dan tanggung jawab Negara, persoalan ini haruslah diselesaikan melalui kebijakan dan implementasi Negara dan tidak menyerahkan penyelesaiannya kepada pengusaha dan pekerja, tanggung jawab pemerintah dalam hal ini antara lain pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat dan membuka peluang kerja seluas-luasnya.

Di sisi lain, pengusaha mempekerjakan buruh dengan upah seadanya sesuai dengan kemampuan pengusaha, sehingga tidak jarang upah buruh yang minim dipotong bahkan ditunda pembayarannya karena alasan ketidakmampuan  pemilik modal. Buruh dipandang sama dengan bahan baku, yang apabila tidak dibutuhkan lagi akan diganti, dibuang seenaknya tanpa ada kompensasi dari pemilik modal. Posisi buruh yang sulit juga disebabkan oleh hubungan antara buruh dan pengusaha. Di pihak buruh, motif utama bekerja kepada pengusaha ialah untuk mendapatkan upah, sebagai pertukaran atas tenaga kerja yang telah ia keluarkan untuk melakukan produksi.

Sistem kontrak dan outsourcing pun turut menjadi faktor penyebab sulitnya kaum buruh untuk mendapatkan kesejahteraannya. Sistem kontrak memunculkan praktek eksploitasi terhadap tenaga kerja yang dilakukan oleh perusahaan penyedia tenaga kerja, buruh harus menyalurkan beberapa persen dari gaji mereka yang minim kepada perusahaan yang membawa mereka. Hal ini terpaksa dilakukan demi mempertahankan pekerjaan mereka.

Dari kasus perburuhan tersebut tersebut orang bisa tidak objektif dalam melihat permasalahan karena orang sering jatuh pada bias kepentingan. Apabila seseorang sebagai pihak pemilik pabrik maka akan cenderung melihat demontrasi yang dilakukan oleh kaum buruh sebagai hal yang negatif. Lantas, kaum buruh akan cenderung menganggap apa yang dilakukan oleh mereka adalah hal yang seharusnya mereka laksanakan.

Hari buruh sedunia mengingatkan tentang sosok yang begitu penting dalam berjalannya suatu perusahaan atau industri yang membutuhkan jasa karyawan atau buruh, dampak demonstrasi peringatan hari buruh dunia di Indonesia memiliki dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya yaitu menekan angka kerja paksa dan perbudakan dalam hubungan industrial di Indonesia serta para buruh di Indonesia mendapatkan upah yang layak sesuai dengan kuantitas dan kualitas kerjanya dan meningkatkan kesejahteraan buruh.

Beberapa dampak negatif dari demonstrasi memperingati hari buruh adalah adanya kerugian dari kalangan pengusaha yang nilai ekspornya terancam gagal dikirim oleh pabrik-pabrik yang pekerjanya melakukan aksi mogok, dengan berhenti berproduksi akan timbul kekacauan proses pengiriman barang ekspor yang dapat membuat produsen kehilangan pangsa pasarnya di luar negeri.

Selain itu demonstrasi buruh juga akan berdampak pada terganggunya aktivitas dunia usaha yang disebabkan bertambahnya biaya produksi yang harus dikeluarkan perusahaan. Demo buruh yang terus-menerus juga akan berimplikasi luas dan menyebabkan efek domino negatif untuk kalangan dunia usaha dimana perusahaan melakukan efisiensi dengan mengganti tenaga manusia dengan mesin produksi yang berteknologi tinggi.

Selain itu, dampak jauh demo buruh juga akan mengurangi minat investor untuk menanamkan modalnya. Sebab, pengusaha lebih merasa aman berinvestasi di Negara yang iklim sosial politiknya kondusif. Dampak terparah adalah para perusahaan multinasional akan memindahkan investasinya ke Negara lain yang dianggap lebih aman.

Hari buruh internasional sudah seharusnya tidak dilakukan dengan aksi-aksi demonstrasi yang disertai dengan kerusuhan, pada dasarnya para pekerja tidak dilarang untuk melaksanakan aksi demonstrasi pada hari buruh, karena Indonesia adalah Negara yang menganut asas demokrasi selama itu tidak mengganggu kepentingan orang banyak.

Hari buruh merupakan perayaan keberhasilan ekonomi dan sosial dari kalangan pekerja sehingga dapat diperingati dengan kegiatan yang memiliki manfaat besar bagi lingkungan sosial, terutama bagi lingkungan buruh seperti menanam pohon, donor darah, bakti sosial, dan lain sebagainya. Selain itu, hari buruh juga dapat diperingati dengan acara-acara yang dapat mengembalikan sekaligus meningkatkan semangat kerja dari buruh seperti jalan sehat atau sepeda sehat serta pemberian hadiah kepada buruh yang memiliki prestasi kerja yang tinggi.

Sudah saatnya kita meniru beberapa Negara seperti Amerika Serikat, Inggris dan Austalia yang mana setiap memperingati hari buruh selalu melaksanakan kegiatan kearah yang positif, dan memilih menghabiskan waktu bersama keluarga. kegiatan yang bersifat positif diharapkan dapat meminimalisir potensi kerawanan dan kerugian yang dapat muncul sebagai akibat dari perayaan hari buruh seperti kerusuhan dan kemacetan jalan.

 Penulis       : Immanuel Patar Mangaraja Aruan

Jurusan       : ILMU ADMINISTRASI NEGARA

Fakultas      : FISIP

UNIVERSITAS: Maritim Raja Ali Haji  ( UMRAH )