Arsip Kategori: Karya Mahasiswa

Indahnya Daratanku, Rusaknya Lautku.

Nama : Danty Trie Jayanti Jurusan : Manajemen Sumberdaya Perairan

Jika mendengar “Indahnya daratanku, rusaknya lautku?” tentu saja kita akan berbicara tentang Reklamasi.
Menurut Kamus Besar Indonesia, reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menambah luasan daratan untuk suatu aktivitas yang sesuai di wilayah tersebut dan juga di manfaatkan untuk konservasi wilayah pantai.

Reklamasi tentu saja berhubungan dengan pembangunan yang berlandaskan demi masa depan manusia yang utuh dan luhur. Karena itu, ia harus berkelanjutan agar pembentukan pembangunan dapat terwujud. Tetapi timbul pertanyaan “untuk apa dan siapa” proyek pembangunan ini di lakukan?
Jika manusia adalah alasan utama terjadinya pembangunan ini, maka tiap warga berhak terlibat didalamnya, dan sesuai dengan persyaratan. Tapi jika pelakunya adalah pemerintah, maka pembangunan harus terawasi oleh mereka yang bakal terkena dampaknya.

Reklamasi pantai sudah lama dilakukan banyak negara berpantai dan berpelabuhan di dunia. Berbagai alasan dilakukan untuk pelaksaan proyek ini. Bagi negara demokrasi, hak rakyat itu utama dan oleh sebab itu keterbukaan rencana merupakan kewajiban untuk diketahui oleh mereka yang akan terkena dampaknya.

Reklamasi Anjungan Tepi Laut Tanjungpinang, adalah proyek besar yang terjadi di tengah kota. Reklamasi anjungan tepi laut dilihat dari sisi pembangunan sangatlah baik, karena selain menambah estetika keindahan dari tanjungpinang itu sendiri juga dapat menjadi daya Tarik wisata bagi turis negeri maupun luar negeri. Tapi jika kita melihat dari sisi perikanannya bagaimana? Sisi lingkungannya bagaimana?. Kegiatan proyek pembangunan ini dapat berdampak buruk bagi ekosistem yang ada di laut. contohnya saja di anjungan tepi laut memiliki ekosistem lamun yang memiliki peranan penting bagi biota laut, seperti daerah asuhan, mencari makan, serta peredam gelombang. Banyak biota laut baik flora maupun fauna yang mati akibat penimbunan tanah urugan.

Kegiatan masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan akan terpengaruh dikarenakan proyek tersebut dapat mempengaruhi ikan, dikarenakan daerah ekosistemnya dalam berasosiasi telah rusak, yaitu padang lamun.
Dan ditambah lagi jika kegiatan ini tidak diperhatikan dengan baik dapat menyebabkan banjir akibat limpasan air laut. Jika masyarakat disekitar membuang sampah di laut seperti yang dilakukan di pelantar 2 maka tidak memungkiri bahwa akan terjadinya banjir ke daratan.

Hal ini harusnya di perhatikan dalam pengelolaan perikanan dan perairannya, jangan hanya demi keindahan daratan, lautan yang merupakan kekayaan sesungguhnya rusak begitu saja. Pengelolaan berkelanjutan harusnya di lakukan agar generasi yang akan mendatang dapat merasakan dan menikmati keindahan sesungguhnya, Kekayaan Indonesia, kekayaan Kepri yang sebenarnya. ***

Sajak Negeri Khayangan

Karya : Rizky Alvino

Pagi tergesa-gesa di sebelah barat

Bayang menusuk jendela keterasingan

Jalan mesti ditembus kian tersesat

Negeri ini lautan, rumputan, atau khayangan

Rela menjadi boneka, mengutak kepala dan hati yang keram

Wajah yang tersenyum di pamplet-pamplet

Hingga aku bertanya

Apa yang yang kau senyumkan? Penderitaan ini?

Kelaparan ini tuan? Ataukah ketidakpastianmu tuan?

 

Pagi lebur dalam malam

Kedap suara berbisik pada bulan

Bulan terpangku lesuh,

menyaksikan seribu kepala berebut benar

bayang kota mencekam dari kata-kata menjadi pendar

Mataku dan matamu menyaksikan pula

 

Kering mengeting tali-tali bersatu

Telah dirajut sehelai tepisan debu

Angin membawaku ke depan gedung

Suara-suara membentur pintu

Apakah aku mengganggu waktu ngopi pagimu?

Mereka terusir , mereka lapar, mereka terbungkam,

Bias cahaya menyelinap gorden gedungmu

Kau melihat sinis berdiri

Tak ada lagi waktu dimana kata menjadi hidangan

Meskikah kita begini, diperlakukan serendah-rendahnya

Tak pantas kita begini, meraung di gorong-gorong, tertimbun lumpur kebencian, tinggal di parit-parit kotor

 

Roda berputar, memperbudak ikrar

Sampai Negeri tandus

Tak akan pernah diurus

Saling menunggangi merebut benar

Bagai kuda tempur melaju dan membunuh segala yang menentang

Kini kolam terataipun tercemar oleh nama terlanjur lumus

Derap suara berdetak di perkarangan bunga

Yang tumbuh dan mekar bersama

Jatuh lebur bersama irama

Kau nyanyikan pula dalam drama

 

Hentikanlah cerita lama

Membusuk dalam kediaman

Menebalkan mendung di mata

Keluarlah dari permainan khayangan

 

 

#SAJAKNEGERIKHAYANGAN

 

KULIAH GAK SEKEDAR 5 D

images (1)

Halo sobat ku sekalian yang sekarang  lagi menempuh kuliah di perguruan tinggi nya masing- masing terutama yang di kota tanjungpinang , selamat lah karena tidak semua orang bisa merasakan apa yang kita rasakan seperti saat ini .

Kuliyah gak sekedar 5 D artinya kuliah jangan lah hanya datang, duduk, diam , dengar dan dengkur , ini bukan lah kriteria  kita sebagai mahasiswa yang sebenarnya , mahasiswa yang sejati adalah mahasiswa yang dapat mengimplimintasikan ilmunya terhadap orang di sekitarnya bahkan lebih dari itu.

Apa yang  ada di pikiran kita tuangkan lah karena kuliah gak sekedar 5 D , semua elemen mahasiswa haruslah turut serta dalam agen perubahan dan agen kontrol karena sejatinya mahasiswa adalah mahasiswa yang tau tugas pokok dan fungsi sebenarnya.

Buat kawan-kawan ku yang seperjuangan dan senasib , teruslah berjuangan karena gak itu-itu saja hal yang ingin kita lakukan , apa lagi yang jauh dari orang tua , jangan pernah takut tuk menjadi sukses , bangun lah relasimu dan gabung lah ke dalam organisasi jangan lah dalam pikiran kita selalu tersimpan pikiran yang apatis dan pragmatis , itu akan membuat kita gagal dalam segala hal .

Amati , pahami , dan dengar kan apa isi materi maka itu akan membuat kita paham akan pembelajaran tersebut , jika tidak paham maka bertanyalah jangan malu untuk bertanya karena ada pepatah malu bertanya sesat di jalan , seperti itu lah perkuliahan yang sesungguhnya , bertanya , amati , pahami dan dengarkan pemateri dari isi yang di sampaikannya.

Mahasiswa yang sejatinya adalah mahasiswa yang berani bersuara , dalam artian jalan yang benar bukan dalam artian mengarah pada tindakan yang anarkis, dan rasis, sejatinya mahasiwa yang mengerti akan kelebihan dan kekurangan diri sendiri adalah mahasiwa yang akan berhasil di kemudian harinya karena dalam jiwa mahasiswa gak ada kata menyerah , apa lagi untuk berhenti dan berkeinginan untuk cuti.

Tanam kan dalam jiwa bahwa saya harus kuliah dengan gelar cumlaude jika tidak maka usahakan  4 tahun lah kita sudah wisuda dengan predikat yang memuaskan dan dengan gelar sarjana yang membanggakan , jangan kelamaan ya kawan-kawan entar jadi mapala (mahasiswa paling lama) .

Kesimpulannya kuliah gak sekedar ikut-ikutan kawan , udah datang e malah pulang tiba pulang malah gak ada tujuan yang ingin dikerjakan , terimakasih dan sekian .

karya : budi prasetyo

 

Kemiskinan Bukan Racun Yang Mematikan

PUISI

Di saaat ku sendiri ku senang berkontemplasi
merenungi ratapan nasib  masa lalu ku yang kelabu ini
bukan menjadi acuan hidup tuk menyerah dan pasrah
ketika ku mulai mencium aroma kemiskinan di mana saja berada
ku sudah menerapkan di dalam jiwa tuk tidak putus asa,
Ketika ku gagal dalam segala hal
aku mulai malu , sebenarnya siapa diri ku
ketika teriakan pulang mulai ku lontarkan
ku hanya bisa berdoa agar tuhan  berikan jalan

namun demi sebuah kesuksesan
semuanya harus ku lawan

di dalam benak ku ini sudah kuterapkan
ke miskinan dan ke gagalan bukan lah racun yang mematikan
tetapi pil pahit yang menyembuhkan
karya
Budi prasetyo

Menjadi Pelacuran, Hingga LGBT; Bagaimana Sikap Kita?

Hasil gambar untuk karikatur lgbtSetiap narasi tentang pelacuran yang mengemuka, sense knowledge kita pasti merujuk kepada tindak tanduk perempuan dan laki laki yang nakal, atau apapun itu namanya yang mengatasnamakan LGBT. Pada kenyataannya, pelacuran juga dilakukan oleh laki-laki dan juga oleh perempuan. Narasi ini tidak bisa langsung di-judge kepada orientasi seksual tertentu, seperti yang diberitakan media massa tentang “LGBT”. Adanya eufemisme “pelacuran gay” yang dimaksud menurut saya merupakan pelabelan semata kepada jenis orientasi seks tertentu. Apakah jika terdapat lesbian yang menjadi pelacur kemudian disebut “pelacuran lesbian” atau biseksual yang menjadi pelacur disebut “pelacuran biseks”? Kunci terpenting adalah sikap kita terhadap euforia dari media. Publik seakan merespon bahwa gay adalah wabah karena menjadi sumber pelacuran; ini stigma. Apakah salah menjadi gay, dan pelacur? Pada kenyataannya tidak semua gay adalah pelacur dan tidak semua lesbian merupakan pelacur atau pekerja seks komersial. LGBT lahir karena dorongan dari hasrat indvidu, sosial yang dikomparasikan hingga diwujudkan dalam bentuk lesbian, gay, pelacuran. sejumlah penelitian menunjukan bahwa LGBT bisa muncul akibat pengalaman traumatik (korban kekerasan seksual) maupun faktor genetik yang mempengaruhi struktur kromosom yang menunjukan jenis kelamin. Namun demikian, LGBT juga dapat muncul sebagai dampak dari interaksi sosial yang keliru sehingga ikut mengalami penyimpangan seksual (sosial disease).

Memang belum ada data resmi mengenai jumlah penyandang LGBT di Indonesia namun sudah banyak sekali ditemukan sejumlah komunitas LGBT bahkan terus berkembang. Berdasarkan data yang diperoleh penulis dari United Nations Development Programme (UNDP) bersama United States Agency for International Development (USAID) Hasil temuan dialog yang paling akhir adalah meneliti kapasitas organisasi-organisasi LGBT di Indonesia. Jumlah organisasi yang ada di Indonesia relatif besar, terdiri dari: dua jaringan nasional dan 119 organisasi yang didirikan di 28 provinsi dari keseluruhan 34 provinsi di Indonesia, beragam dari segi komposisi, ukuran dan usia.
 Organisasi-organisasi ini berperan aktif di bidang kesehatan, publikasi dan
penyelenggaraan kegiatan sosial dan pendidikan. Kaum LGBT berusaha ingin mendirikan organisasi yang secara absah berbadan hukum dan terorganisir. Namun usaha mereka mendapat kecaman keras  dari preman dan kelompok Islamis, serta kurangnya dukungan dan perlindungan dari pihak pemerintah maupun kepolisian.

 Perkembangan ini membuat mereka merasa hak-haknya perlu diperhatikan lebih lagi di Indonesia agar dapat menerima keberadaannya. Pada dasarnya salah satu ruang lingkup HAM yaitu hak pribadi dimana hak untuk diakui kepribadiannya menurut hukum.  HAM sebagai hak-hak dasar yang sudah melekat pada diri sejak dari lahir yang bersifat kodrat dari Tuhan wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Setiap manusia tentu berhak mendapat perlidungan hukum demi menjaga hak-hak mereka.   Sebagaimana mestinya hak pribadi atas komunitas ini pun bukan menjadi hal yang tidak mungkin untuk mendapat perlindungan hukum di Indonesia. sebagaimana yang tertulis pada uu no.39 tahun 1999 tentang HAM. Bahkan kejadian ini menjadi peluang besar para politisi untuk menjual hak suara dengan mendukung keberadaan mereka.

Peristiwa ini sempat menjadi perdebatan hangat mulai dari pemerintah sampai kepada kalangan masyarakat karena dinilai sebagai prilaku menyimpang karena tidak sesuai dengan norma, adat dan hukum yang berlaku secara umum di indonesia. Berangkat dari keberagaman kultur budaya yang ada di Indonesia saat ini yang beragam akan suku, budaya, agama yang  melarang adanya LGBT, dalam budaya; budaya apapun itu yang sudah ada di Indonesia. Berbeda dengan western country negara-negara barat, mis; belanda yang mengakui LGBT dan melegalkan pernikahan LGBT. Di Indonesia memang terdapat hak yang menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk memeluk agama. Seperti yang kita ketahui bahwa LGBT itu sendiri merupakan salah satu nilai yang melanggar hukum agama.  Dan jugak Peraturan Undang-undang Indonesia hanya menetapkan dua gender saja, yaitu pria dan wanita. Hal ini dapat ditafsirkan dari pencantuman tegas tentang pria dan wanita dalam Undang-undang Perkawinan (UU No. 1/1974) dan ketentuan serupa mengenai isi kartu penduduk yang ditetapkan dalam Undang-undang Administrasi Kependudukan (UU No. 23/2006).

Sebagai gambaran umum tentang hak asasi LGBT di Indonesia, hukum nasional dalam arti luas tidak memberi dukungan bagi kelompok LGBT walaupun homoseksualitas sendiri tidak ditetapkan sebagai tindak pidana. Baik perkawinan maupun adopsi oleh orang LGBT tidak diperkenankan. Tidak ada undang-undang anti-diskriminasi yang secara tegas berkaitan dengan orientasi seksual atau identitas gender. Hukum Indonesia hanya mengakui keberadaan gender laki-laki dan perempuan saja, sehingga orang transgender yang tidak memilih untuk menjalani operasi perubahan kelamin, dapat mengalami masalah dalam pengurusan dokumen identitas dan hal lain yang terkait. Sejumlah Perda melarang homoseksualitas sebagai tindak pidana karena dipandang sebagai perbuatan yang tidak bermoral.

Kebijakan yang terkait dengan hak-hak LGBT cukup bervariasi, dengan adanya sejumlah komisi nasional yang mengakui dan memberikan dukungan bagi kelompok LGBT, serta mengungkapkan dukungan resmi bagi kelompok LGBT karena wabah HIV. Namun secara umum pihak kepolisian gagal melindungi kelompok LGBT dari berbagai serangan oleh para aktivis Islamis garis keras dan preman. Sementara orang LGBT yang tergolong gelandangan karena berkeliaran di tempat umum dapat menjadi korban perlakuan semenamena dan pemerasan yang dilakukan oleh petugas pemerintahan. Sikap sosial budaya terhadap beragam orientasi seksual dan identitas gender mencerminkan kontras antara mereka yang bersikap progresif dan bersedia menerima dengan populasi jauh lebih besar yang biasanya tidak memiliki pengetahuan tentang masalah-masalah tersebut. Orang transgender mempunyai visibilitas yang lebih besar. Sebagian besar masyarakat tidak mengenal orang LGBT yang membuka diri. Orang dengan orientasi seksual atau identitas gender yang beragam mungkin mendapatkan sekedar toleransi dari pada penerimaan, meskipun hal ini hampir mustahil dapat diharapkan dari anggota keluarga.

Hal ini menjadi salah satu penyebab LGBT tidak dapat disahkan keberadaannya di Indonesia. Dibalik itu, LGBT memang bukan perilaku kejahatan namun dapat memicu terjadinya kejahatan seperti kekerasan seksual, penyebaran penyakit seksual dan agresi terhadap nilai-nilai publik yang dapat meresahkan warga baik LGBT maupun non LGBT. Bahkan lebih parahnya lagi jika korban tersebut merupakan warga non LGBT. Merespon maraknya kejahatan seksual, terutama terkait dengan LGBT, masyarakat harus mampu mengembangkan kewaspadaan sosialnya. Terlebih lagi negara yang dapat memegang kendali melalui hukum yang dibuat oleh aparatur negara. Dalam hal ini penulis lebih setuju jika hak keberadaan mereka diganti dengan hak mendapatkan kehidupan normal. Dengan begitu ada upaya pemerintah dalam mengurangi angka LGBT di Indonesia.

Dalam menyikapi fenomena-fenomena LGBT yang lagi marak seperti saat ini. Yang walaupun sebenarnya hal itu bukan merupakan sesuatu yang baru, hanya saja kita baru mengetahui bahwa fenomena itu ada dalam lingkungan sosial kita. Oleh karena itu, menurut penulis penting kiranya menanamkan pendidikan-pendidikan yang melek gender dan “respect each other”.

Dalam hal ini penulis mencoba memberikan sebuah rekomendasi kepada pembaca masyarakat/pemerintah;  a. Mendorong kegiatan pendidikan tentang orientasi seksual dan identitas gender dikalangan masyarakat dan kepada orang tua sampai kepada keluarga.     b. Memperkuat kegiatan jejaring dan kolaborasi dengan lembaga-lembaga non pemerintah, mulai dari organisasi hukum dan hak asasi manusia, media massa, pusat-pusat pengetahuan, hingga sektor swasta dalam rangka mempromosikan dan mengarusutamakan hak asasi manusia serta permasalahan orientasi seksual serta identitas gender. c. Hentikan segala bentuk diskriminasi dan kekerasan yang didasarkan pada orientasi seksual dan identitas gender, baik yang dilakukan oleh pejabat negara maupun oleh masyarakat umum , dalam wujud membuat peraturan anti deskriminasi.

Hal ini penting karena negara kita multicultural dan sangat beragam etnis, ras , suku, agama dan terlebih lagi karena masyarakat kita saat ini cenderung individualis dan tidak peduli (cuek), hal ini merupakan bahaya besar bagi bangunan perdamaian di negeri kita tercinta. Pendidikan melek gender menurut saya penting dilakukan untuk mengontruksi sikap peduli terhadap sesama manusia, tidak memandang jenis kelamin, orientasi seksual, bahkan agama, suku dan ras. Bagi saya, yang terpenting dalam persoalan melek gender adalah kepedulian atau respect kita terhadap sesama manusia. Begitu pula dengan sikap kita dalam menyikapi pelacuran laki-laki, jika kita tetap acuh dan cuek, ancaman dan bahaya besar senantiasa memangsa anak-anak kita.

Oleh : Beto

corak mahasiswa di kota tanjungpinang

Hasil gambar untuk mahasiswaMahasiswa adalah orang yang belajar di Perguruan Tinggi (satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dan dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas). Dari sekian ribu presepsi mahasiswa di kota Tanjungpinang ada yang menyebut mahasiswa  adalah salah satu motor kemajuan Negara, kemajuan suatu bangsa dan lain sebagainya. Yang pasti mahasiswa adalah generasi yang masih belajar dengan tujuan masa depan yang lebih baik. Memang motivasi mahasiswa untuk kuliah berbeda-beda tetapi terlepas dari kelemahan dan keburukan oknum setiap mahasiswa, kita bisa melihat bahwa secara umum dalam diri mahasiswa ada kekuatan tersendiri yaitu mahasiswa masih teguh dalam hal berprinsip dan idealis, semangatnya masih membara, rasa ingin tahu yang tinggi, tuntutan yang tinggi dan kritis, serta energi dan pemikiran yang masih segar.

Berdasarkan pengamatan saya terhadap gaya hidup mahasiswa di kota Tanjungpinang, maka saya melihat beberapa corak (tipe) mahasiswa di kota Tanjungpinang, yaitu:

  1. Tipe Kupu-Kupu

Kupu-kupu adalah akronim dari Kuliah pulang-kuliah pulang. Mahasiswa tipe ini datang kuliah kemudian setelah dapat waktunya pulang maka mahasiswa pulang begitu saja. Mereka sangat rajin kuliah, jarang absen dan nilai mereka aman serta perolehan IP (Indeks Prestasi) selalu tinggi tetapi mereka kurang memperhatikan masalah sosial yang ada di lingkungannya. Kelebihannya adalah mereka sangat fokus kuliah tapi kelemahannya adalah wawasan mereka tidak terlalu luas dan disisi lain mahasiswa seperti ini gak jelas arah dan tujuan nya.

  1. Tipe Kunang-kunang

Kunang-kunang adalah singkatan dari Kuliah nongkrong-kuliah nongkrong. Tipe ini adalah mahasiwa yang sangat suka menongkrong bersama teman-temannya. Mahasiswa seperti ini akan sering terlihat di kantin, kedai kopi, dan lain-lain. Mereka sering berlama-lama bercerita di suatu tempat. Kelebihannya adalah mereka mempunyai banyak teman dan merasa hidup santai namun kelemahannya adalah waktu perkuliahan mereka terkadang terlalaikan.

  1. Tipe Kura-kura

Kura-kura adalah adalah singkatan dari Kuliah rapat-kuliah rapat. Tipe ini adalah mahasiswa yang menyibukkan diri dengan berbagai organisasi sehingga waktu mereka banyak tersita untuk mengikuti rapat-rapat, mereka jeli untuk melihat masalah-masalah sosial yang ada di sekitarnya dan cenderung mencampuri polemik yang sedang terjadi. Kelebihannya adalah mereka mempunyai wawasan dan pengalaman yang cukup luas dan mereka mempunyai kemampuan khusus dalam berorganisasi, berdiskusi, melobi, membangun jaringan kerja, sedangkan kekurangannya adalah mereka terkadang lupa menyisihkan waktu untuk mengurus diri sendiri.

  1. Tipe Capung

Capung adalah singkatan Cari pinjaman utang, tipe seperti ini adalah mahasiswa yang terlalu boros sehingga uang yang diberikan oleh orangtuanya selalu kurang dan ia harus berusaha untuk meminjam uang temannya atau orang lain untuk menutupi banyaknya keinginan-keinginannya yang harus dibeli. Orang yang bertipe capung akan merasa senang ketika keinginannya terpenuhi namun kekurangannya ialah ia akan kecanduan untuk menghambur-hamburkan uang.

  1. Tipe Kumbang

Kumbang adalah singkatan dari Kemanapun bimbang, tipe ini biasanya ada pada mahasiswa yang tidak berpendirian. Mereka sering bimbang ketika menentukan suatu pilihan. Mahasiswa seperti ini sering ikut-ikutan kemanapun temannya pergi, namun mereka tetap bimbang dan gelisah.

  1. Tipe Kelabang

Kelabang adalah singkatan dari Keliaran bangga, corak ini mudah kita temukan diantara mahasiswa karena banyak mahasiswa yang mempunyai gaya hidup berkeliaran setiap waktu. Biasanya mahasiswa seperti ini sering belanja ke pusat perbelanjaan, jalan-jalan ke tempat rekreasi, kafe, dan berbagai tempat lain.

  1. Tipe Lalat

Lalat adalah singkatan dari Selalu telat. Pada tipe ini mahasiswa sangat sering terlambat. Mahasiswa tipe ini biasanya selalu terlambat datang ke kampus atau masuk ke kelas, mengumpulkan tugas, mendapatkan informasi, dan lama menyelesaikan proses perkuliahan atau yang kerap disebut mapala (mahasiswa paling lama) .

  1. Tipe Nyamuk

Nyamuk adalah singkatan dari Nyari muka (mencari muka), biasanya tipe mahasiswa seperti ini mudah kita jumpai dan kebiasaannya adalah mencari muka, menyodorkan diri sendiri secara berlebihan kepada dosen atau orang lain, bahkan terkadang tipe seperti ini mau menjatuhkan citra orang lain hanya untuk menonjolkan diri sendiri. Tipe ini biasanya disebut penjilat.

  1. Tipe Kuda

Kuda adalah singkatan dari Kuliah dagang. Tipe mahasiswa ini melakukan kuliah dan berdagang. Mereka biasanya berusaha menghasilkan uang dengan usaha-usaha seperti menjual makanan, minuman, pulsa, barang-barang second, alat elektronik, bahan kosmetik, dll. Mereka mempunyai niat untuk berbisnis, bekerja keras, dan mandiri, namun resikonya adalah apabila mereka lebih menyukai bisnisnya daripada perkuliahannya.

  1. Tipe Kudeta

Kudeta adalah singkatan dari Kuliah demonstrasi, tipe ini ditujukan kepada mahasiswa yang sering melakukan demontrasi, mereka sering mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah atau apa pun yang dianggap salah. Di satu sisi, demonstrasi yang dilakukan adalah wajar karena negara kita adalah negara demokrasi dan apa yang dilakukan oleh mahasiswa adalah untuk memperjuangkan keadilan rakyat, namun hal yang tidak baik adalah aksi yang sampai kepada tindakan anarkis dan merusak fasilitas yang ada. Mahasiswa yang ideal dan sebagai akademisi juga bisa menyampaikan aspirasi melalui pemikiran-pemikiran yang ilmiah.

  1. Tipe Kuper

Kuper adalah singkatan dari Kuliah perpustakaan. Tipe mahasiswa seperti ini adalah orang yang sangat rajin ke perpustakaan untuk membaca buku, menambah pengetahuan baru dan mengerjakan tugas. Mereka mempunyai prinsip “Setiap waktu luang adalah ke perpustakaan.” Tipe ini adalah bagus dan biasanya mereka adalah orang pintar, namun terkadang mereka tidak mempunyai waktu untuk berteman, dan sering juga disebut kurang pergaulan.

  1. Kuker

Kuker adalah singkatan dari Kuliah kerja. Selain kuliah mahasiswa seperti ini melakukan pekerjaan. Tipe ini mempunyai sedikit sama dengan tipe kuda, namun pekerjaan dalam tipe ini lebih luas. Mereka harus membagi waktu untuk perkuliahan dan pekerjaan. Beberapa motivasi mereka adalah untuk membiayai perkuliahan sendiri dan menambah uang.

By:Yosua situmorang (IAN)

Editor: budi prasetyo(IP)

GADIS MADIHIN

 

 

bahan cerpen

Oleh  : Uci Misdawati

Malam dibawah rintikan hujan terdengar suara alunan gendang dan syair dari kakekku yang sedang bermadihin di pondok samping kanan rumahku. Perutku terasa menggelitik dan tak hentinya aku tertawa karena syair syairnya yang sangat lucu namun penuh dengan nasehat yang dirangkai dalam pantun jenaka yang membuatku terhibur jikamendengar kakekku bermadihin. Konon ceritanya, Madihin adalah merupakan genre atau jenis puisi rakyat berbahasa banjar yang bersifat hiburan. Madihin dituturkan dengan cara dihapalkan (tidak boleh membaca teks). Didalam bahasa banjar itu disebut “Bemadihinan”. Bemadihinan ini sudah ada sejak masuknya agama islam kewilayah kerajaan Banjar pada tahun 1526 Ujar kakekku. Kesenian bermadihin biasanya di tampilkan masyarakat pada acara pernikahan dan saat pentas hiburan rakyat. Namun sekarang ini Bermadihin sudah jarang di temui karena kesenian itu kalah hebohnya dengan orgen tunggal yang sekarang ini sering di minati masyarakat.  Kakek sangat terampil dalam mengolah kata sesuai dengan tema dan acara Bermadihin yang ia laksanakan. Tiap malamnya kakek selalu berlatih di pondok ini tua ini bersama sahabatnya yaitu kakek ujang. Walaupun bermadihin sudah kurang diminati, namun dua kakek bersahabat ini sangat optimis, Madihin akan selalu ada pencintanya dan tak akan hilang di kikis Moderenisasi.  Kakek Ujang dan kakekku sangat cocok dalam bermadihin,Kakek ujang adalah seniman musik yang mengiringi syair kakekku dengan gendangnya. Aku pun sepertinya sudah ketularan kakekku karena aku jugaberbakat dalam bermadihin dan membuat cerita lucu.

Adzan subuh telah membangunkan tidurku yang lelap, kemudian terdengar juga suara nenek yang memanggi namaku mengingatkan untuk shoat subuh. Aku kemudian langsung mandi dan berwudhu untuk melaksanakan sholat. Setelah sholat subuh seperti biasa aku membantu nenek menyiapkan sarapan didapur dan kemudian  bersiap-siap untuk pergi kekampus. Aku tinggal bersama kakek dan nenek ku karena ayah dan ibuku sudah dua tahun menghilang akibat kecelakaan pesawat. Sampai sekarang aku tidak tau apakah mereka masih hidup di dunia ataupun sudah tiada,. Namun, yang jelas mereka tiada disisi ku saat ini. Sunggu rasa tersayat hati dan menyedihkan jika mengingat mereka. Jujur dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat merindukan mereka. Jika memang mereka telah meninggal dunia, lalu dimanakah jasadnya ? dan jika mereka masih hidup, kenapa tidak pernah mencari dan menemuiku ?.. Pertanyaan ini yang selalu ada di benakku saat aku merindukan kedua orang tuaku.

“Mutia cucuku, sepatlah bergegas. Itu teman kampusmu sudah menunggu diluar”. Nenek memanggilku.” Iyaaa ini masih bersiap-siap nek, sebentar lagi Mutia keluar”. Sahutku. Setelah bersiap terlihat seorang gadis dengan pakaian yang rapi dan juga mengenakan hijab duduk diatas motor maticnya sepertinya sudah siap untuk pergi bersamaku menuju kampus yang bukan lain adalah sahabatku Syifa. Syifa adalah cucu dari kakek Ujang sahabat sekaligus rekan kakekku dalam bermadihin. Hari ini syifa menjemputku karena motorku akan dipakai oleh kakek untuk pergi bermadihin di desa sebelah bersama kakek ujang.

Sesampainya dikampus, aku dan Syifa berlari menuju kelas karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.15, untungnya dosen belum masuk karena toleransinya hanya 15 menit. Bersyukurlah aku pagi ini.  Setelah keluar kelas, perut kami terasa lapar akibat sama-sama belum sarapan dirumah. Aku dan Syifa pun langsung menuju kantin untuk mengisi perut kami yang keroncongan. Saat berjalan menuju kantin, aku melihat papan mading kampus dan yang menarik perhatianku adalah di situ ada pengumuman bahwa telah dibuka pendaftaran untuk Festival Budaya Nasional yang diadakan oleh Balai Bahasa kota Pekanbaru. Terlintas di pikiranku untuk mengikuti festival ini. bukan hanya untuk menguji dan mengadu bakat tapi tujuan utamaku adalah untuk memperkenalkan dan menghidupkan lagi kesenian budaya Bermadihin bagi masyarakat banjar  yang ada di Riau.  Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung mencatat kontak yang bisa dihubungi untuk pendaftaran festival budaya nasional ini. dan kemudian kami melanjutkan acara sarapan kami yang tertunda dikantin kampus akibat pengumuman yang mengalihkan perhatianku.

Siang pun berganti dengan indahnya malam dengan rembulan yang terang menderang dilangit. Kakek dan enek pun duduk diteras sambil menyantap teh dan pisang goreng hangat buatanku dan nenek.  Aku pun ikut duduk bersama bersama mereka. Perbincangan hangat bersama mereka membuatku teringat akan Festival budaya yang tadi ku baca di papan mading kampus. “Kek, nek, aku ingin membicarakan suatu hal. Ucapku memuka pembahasan”. “Apa itu cu ? apakah kamu bermasalah dikampus ?, jawab nenek. Oh tidak nek, mana mungkin cucu nenek yang sebaik ini bermasalah dikampus” Celetukku. Kakek kemudian bertanya” Lalu apa yang ingin kamu bicarakan, sepertinya penting sekali ?”. Ia kek ini penting, tadi aku melihat pengumuman di papan mading kampus, ada acara Festival budaya nasional kek, aku ingin sekali mengajak kakek untuk ikut festival ini. Awalnya kakek ragu, Namun akhirnya ia setuju untuk ikut karena melihat cucu nya ini sangat antusias untuk mengikuti acara ini dan aku pun langsung menghubungi panitia penyelenggara dan mendaftarkan grup madihin kami. “Tapi ingat tanyakan dahulu pada Kakek ujang, apakah dia mau untuk maju bersama dalam festival ini, kau liat sendiri kami ini sudah tua begini cucu ku”. Ucap kakek. “Fisik kakek memang terlihat tua, tapi jiwa muda dan jenaka kakek masih ada, baiklah kek, besok akan aku tanyakan kepada kakek ujang”. Kakek dan nenek ku pun tertawa mendengar celotehanku itu.

Keesokan harinya, di pagi minggu yang cerah aku, kakek dan nenek berjalan santai bersama mengelilingi kampung. Namun saat kami melewati rumah kakek ujang terlihat Syifa sedang termenung di depan rumah. Lalu ku hampiri ia dan bertanya “ Kenapa syifa ? wajahmu murung sekali, kamu sendirian dirumah ?”. “Mutia kakekku baru saja dibawa kerumah sakit, kakekku terkena serangan jantung tadi setelah sholat subuh. Deggg!! Aku, kakek dan nenek sontak terkejut mendengar kabar ini. setelah mengetahui ini kami bertiga pun berpamitan pulang dan ingin langsungpergi ke Rumah sakit untuk menjenguk kakek ujang yang terbaring lemah di rumah sakit. Padahal hari ini aku ingin mengajak kakek ujang mengikuti Festival budaya, namun sepertinya ada halangan seperti ini. Padahal grup madihin kami sudah aku daftarkan di Festival.

Sesampainya di Rumah sakit aku melihat kakek Ujang memang terbaring lemah di ruangan perawatan. Setelah dua minggu kkakek ujang dirawat, kakek ujang tidak sadarkan diri selama itu, kami pun menjenguk kerumah sakit lagi. Ku lihat raut wajah kakekku yang sangat bersedih karena sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri itu lemas tidak berdaya dan tak sadarkan diri. Kemudian kakekku duduk disebelah kakek ujang dan berbisik “Semangatlah jang, bangun dan lawan penyakitmu, kami disini selalu mendoakanmu, ingatkah kau kita selalu bermadihin bersama sama”. Dan tidak terasa air mata kakek ku menetes. Aku pun ikut bersedih melihat persahabatn dua kakek kakek ini. mereka dipertemukan karena sebuah kesenian madihin yang menjadi profesi mereka berdua yaitu Seniman madihin.

Festival Budaya Nasional Tinggal  dua minggu lagi, aku dan kakek selalu berlatih berbalas pantun dan bersyair dalam bahas banjar, namun iringan gendang yang seharusnya dilakukan oleh kakek ujang tiada terdengar. Lagi lagi kakekku bersedih mengingat kakek ujang. Lalu kakekku bercerita bahwa mereka sudah lama ingin mengikuti Festival Budaya ini, karena kami rasa bermadihin ini memang sudah hampir punah dan langka di Riau ini, kami berdua hanya ingin memperkenalkan dan menghidupkan lagi kesenian yang dulu menjadi hiburan para masyarakat banjar yang ada di Riau. Mendengar semua itu aku makin bersemangat untuk terus berjuang dalam festival ini.

Tok tok tok” Assalamualaikum. “ Walaikumsalam. Sahutku. Setelah mebukakan pintu kulihat Syifa dan Ayahnya yang ingin bertamu lalu langsung kupersilahkan mereka duduk dan tak lupa pula ku panggilkan kakek dan nenek. “Wah, nak Bagas apa kabarnya ini? bagaimana keadaan bapakmu sekarang?” Ujar kakek ku. “Alhamdulillah saya baik pak, kalau Bapak saya masih belum sadarkan diri pak. Maksud saya kesini, saya ingin menanyakan kepada bapak, apa benar bapak dan cucu bapak Mutia ingin mengikuti Festival budaya nasional minggu depan ?” ucap pak Bagas.  Ia om Bagas, aku dan kakek mengikuti festival itu, namun kami tidak ada pengiring gendang dalam madihin. “Nah itu dia, saya bersedia membantu untuk itu, karena saya juga lumayan mahir memainkan gendang madihin, karena ini juga berkat ajaran bapak saya, Dan saya juga ingat, kalau festival seperti ini adalah salah satu impian bapak saya, namun mengingat keadaannya sekarang, saya akan berusaha menampilkan yang terbaik untuk bapak saya”. “Alhamdulillah”. Terucap dari mulutku dan kakek secara bersamaan. Akhirnya seniman dalam madihin kami sudah lengkap. Dengan waktu yang kurang dari seminggu kami terus berlatih untuk menampilkan yang terbaik.

Akhirnya hari yang dinanti nanti pun tiba, aku, kakek, dan om Bagas memakai baju adat Banjar, diantara mereka memang aku yang paling muda, inilah yang mebuat beda, karena biasanya penampilan bermadihin hanya ditampilkan oleh orang orang yang sudah lanjut usia. Namun sebelum berangkat ke festival, kakekku ingin menemui sahabat karibnya yang masih terbaring di Rumah Sakit. Sesampainya dirumah sakit kami membiarkan kakek berbincang dengan kakek ujang, walaupun kenyataannya kakek ujang tidak bisa merespon. Kami hanya memperhatikan dari luar, kakekku memohon restu kepada kakek ujang supaya kami bisa menang dalam festival, karena kemenangan ini di hadiahkan uang sekian juta dan yang paling penting adalah Program Tv yang akan menayangkan kesenian budaya yang di miliki oleh pemenang dalam festival ini yang akan ditayangkan pada setiap malam sabtu. Dengan berlinang air mata kakekku berbincang dengan kakek ujang. Karena waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi, akhirnya kami harus bergegas menuju festival karena 30 menit lagi giliran kami yang menampilkan kesenian budaya madihin. Namun, kami terkejut, saat kakekku beranjak pergi, tangannya terasa di genggam da ternyata kakek Ujang sadarkan diri, kemudian Ia tersenyum mengangguk seolah menyemangati kami untuk bisa memenangkan festival ini.kemudian kami langsung berangkat ke Festival dengan semangat ditambah lagi kakek ujang yang sudah sadarkan diri dari komanya.

Sesampainya disana, kami langsung dipanggil naik ketas panggung untuk menampilkan kesenian budaya banjar yaitu “Bermadihin”. Semua orang yang menonton terasa selalu tertawa dan merasa terhibur dengan syair jenaka dan bernasehat yang kami tampilkan. Kemudian tepuk tangan mereka lah yang membuat kami sedikit lega untuk menampilkan bermadihin kami ini. Setelah semua peserta tampil, tiba lah pengumuman pemenang dalam festival ini. Dan ternyata kami memenangkan Festival Budaya Nasional yang diadakan oleh balai bahasa kota Pekanbaru,. Kami sangat bersyukur dan sangat bahagia, akhirnya apa yang kami semua harapkan tercapai. Setelah pengumuman pemenang tiba –tiba nenek dan syifa datang dengan tergesa-gesa, dan pada akhirnya kami mendapatkan kabar duka, bahwa kakek ujang telah Meninggal Dunia.

 

 

Selesai ..