Indahnya Daratanku, Rusaknya Lautku.

Nama : Danty Trie Jayanti Jurusan : Manajemen Sumberdaya Perairan

Jika mendengar “Indahnya daratanku, rusaknya lautku?” tentu saja kita akan berbicara tentang Reklamasi.
Menurut Kamus Besar Indonesia, reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menambah luasan daratan untuk suatu aktivitas yang sesuai di wilayah tersebut dan juga di manfaatkan untuk konservasi wilayah pantai.

Reklamasi tentu saja berhubungan dengan pembangunan yang berlandaskan demi masa depan manusia yang utuh dan luhur. Karena itu, ia harus berkelanjutan agar pembentukan pembangunan dapat terwujud. Tetapi timbul pertanyaan “untuk apa dan siapa” proyek pembangunan ini di lakukan?
Jika manusia adalah alasan utama terjadinya pembangunan ini, maka tiap warga berhak terlibat didalamnya, dan sesuai dengan persyaratan. Tapi jika pelakunya adalah pemerintah, maka pembangunan harus terawasi oleh mereka yang bakal terkena dampaknya.

Reklamasi pantai sudah lama dilakukan banyak negara berpantai dan berpelabuhan di dunia. Berbagai alasan dilakukan untuk pelaksaan proyek ini. Bagi negara demokrasi, hak rakyat itu utama dan oleh sebab itu keterbukaan rencana merupakan kewajiban untuk diketahui oleh mereka yang akan terkena dampaknya.

Reklamasi Anjungan Tepi Laut Tanjungpinang, adalah proyek besar yang terjadi di tengah kota. Reklamasi anjungan tepi laut dilihat dari sisi pembangunan sangatlah baik, karena selain menambah estetika keindahan dari tanjungpinang itu sendiri juga dapat menjadi daya Tarik wisata bagi turis negeri maupun luar negeri. Tapi jika kita melihat dari sisi perikanannya bagaimana? Sisi lingkungannya bagaimana?. Kegiatan proyek pembangunan ini dapat berdampak buruk bagi ekosistem yang ada di laut. contohnya saja di anjungan tepi laut memiliki ekosistem lamun yang memiliki peranan penting bagi biota laut, seperti daerah asuhan, mencari makan, serta peredam gelombang. Banyak biota laut baik flora maupun fauna yang mati akibat penimbunan tanah urugan.

Kegiatan masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan akan terpengaruh dikarenakan proyek tersebut dapat mempengaruhi ikan, dikarenakan daerah ekosistemnya dalam berasosiasi telah rusak, yaitu padang lamun.
Dan ditambah lagi jika kegiatan ini tidak diperhatikan dengan baik dapat menyebabkan banjir akibat limpasan air laut. Jika masyarakat disekitar membuang sampah di laut seperti yang dilakukan di pelantar 2 maka tidak memungkiri bahwa akan terjadinya banjir ke daratan.

Hal ini harusnya di perhatikan dalam pengelolaan perikanan dan perairannya, jangan hanya demi keindahan daratan, lautan yang merupakan kekayaan sesungguhnya rusak begitu saja. Pengelolaan berkelanjutan harusnya di lakukan agar generasi yang akan mendatang dapat merasakan dan menikmati keindahan sesungguhnya, Kekayaan Indonesia, kekayaan Kepri yang sebenarnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *