Sajak Negeri Khayangan

Karya : Rizky Alvino

Pagi tergesa-gesa di sebelah barat

Bayang menusuk jendela keterasingan

Jalan mesti ditembus kian tersesat

Negeri ini lautan, rumputan, atau khayangan

Rela menjadi boneka, mengutak kepala dan hati yang keram

Wajah yang tersenyum di pamplet-pamplet

Hingga aku bertanya

Apa yang yang kau senyumkan? Penderitaan ini?

Kelaparan ini tuan? Ataukah ketidakpastianmu tuan?

 

Pagi lebur dalam malam

Kedap suara berbisik pada bulan

Bulan terpangku lesuh,

menyaksikan seribu kepala berebut benar

bayang kota mencekam dari kata-kata menjadi pendar

Mataku dan matamu menyaksikan pula

 

Kering mengeting tali-tali bersatu

Telah dirajut sehelai tepisan debu

Angin membawaku ke depan gedung

Suara-suara membentur pintu

Apakah aku mengganggu waktu ngopi pagimu?

Mereka terusir , mereka lapar, mereka terbungkam,

Bias cahaya menyelinap gorden gedungmu

Kau melihat sinis berdiri

Tak ada lagi waktu dimana kata menjadi hidangan

Meskikah kita begini, diperlakukan serendah-rendahnya

Tak pantas kita begini, meraung di gorong-gorong, tertimbun lumpur kebencian, tinggal di parit-parit kotor

 

Roda berputar, memperbudak ikrar

Sampai Negeri tandus

Tak akan pernah diurus

Saling menunggangi merebut benar

Bagai kuda tempur melaju dan membunuh segala yang menentang

Kini kolam terataipun tercemar oleh nama terlanjur lumus

Derap suara berdetak di perkarangan bunga

Yang tumbuh dan mekar bersama

Jatuh lebur bersama irama

Kau nyanyikan pula dalam drama

 

Hentikanlah cerita lama

Membusuk dalam kediaman

Menebalkan mendung di mata

Keluarlah dari permainan khayangan

 

 

#SAJAKNEGERIKHAYANGAN