Organisasi Mahasiswa Tidak Menaati lagi UU

Persma Kreatif Fisip UMRAH- Himpunan mahasiswa ilmu pemerintahan (HMIP) menyelenggaran panitia pemilihan raya (papera) dan badan pengawas pemilihan raya (bawasra) kegiatan ini di selenggarakan di Auditorium UMRAH dompak pada hari selasa (17/01/2017).

Organisasi mahasiswa adalah wadah mahasiswa untuk mengembangkan ilmu pengetahuan nya dalam  bidang pendidikan dan jiwa intelektualnya, tumpang tindih dalam bahu membahu antara senioritas dan junioritas sebagai sarana untuk menanamkan loyalitas dan solidaritas untuk membagun karakter kepribadian di dalam proses pendidikan,

Dibentuknya organisasi himpunan mahasiswa ilmu pemerintahan atas dasar sebagai sarana pemersatu wadah mahasiswa prodi ilmu pemerinthan, yang pada awalnya di bentuk oleh senioritas yang memiliki  jiwa intelektual dan loyalitas yang tinggi dengan semangat dan kerja keras yang sudah mengorbankan fisik,waktu,dan kapasitas yang dimilikinya, hingga terbentuk nya suatu wadah organisasi HIMA IP ( HIMPUNAN MAHASISWA ILMU PEMERINTAHAN)  pada tanggal 10 january 2010, Regenarasi kepemimpian di lakukan untuk membawa mahasiswa ke arah yang lebih baik dan mengeluarkan produk yang unggul dan berintegritas dalam pendidikan tinggi.

Pada penghujung tahun 2016, dan mengawali tahun yang baru 2017, pada  estapet kepemimpinan yang saat ini dilakukan untuk pemilihan ketua dari wakil ketua himpunan , yang mewakili segenap mahsiswa ilmu pemerintahan , mengalami goncangan yang di sebabkan produk kinerja kepemimpinan yang saat ini tidak dijalankan dengan baik dan tidak efektif, dimana pondasi organisasi  sistem yang dibangun sebelumnya, tidak ada perubahan  sistem pondasi organisasi  yang dilakukan kepempianan saat ini, untuk regenerasi pemempim yang baru,  dan tanpa bersalah penyelewengan ini jelas tampak pada saat pemilihan (PAPERA) PANITIA PEMILIHAN RAYA dan (BAWASRA) BADAN PENGAWAS PEMILIHAN RAYA, Dengan pelanggaran yang dilakukan semua pengurus himpunan ini,  agenda yang dibuat untuk pemilihan PAPERA dan  BAWASRA DIBUBARKAN oleh senioritas yang mempunyai konstribusi  membangun terbentuknya organisasi HIMPUNAN MAHASISWA ILMU PEMERINTAHAN , atas dasar memberikan pemahaman berorganisasi dan merucut dari sistem pemerintahan negara indonesian yang berlandaskan UU sebagai kontitusi tertinggi NKRI, tidak teruntuk kepada adik-adik junioritas namun juga senioritas  agar dapat menjalankan sebuah oragnisasi harus bermula dari PROSES bukan hanya hasil , karena hasil yang baik tanpa proses maka akan percuma , sebagai mahasiswa ilmu pemerintahan seharusnya kita paham akan sebuah proses pesta demokrasi  yang baik dan benar namun semuanya berjalan tidak terarah hingga terjadinya kesalahahan dalam perekrutan kepemimpinan yang baru. dalam sebuah organisasi yang potensial akan  mengembangkan jiwa intelektualnya melalui apa yang dinamakan dengan sebuah  PROSES.  

 

Dimana sistem ini sudah melanggar sitem pondasi   konstuti  yang telah dibagun sebelumnya oleh senioritas, berdasarkan apa yang sudah dibangun sebelumnya , melalui BENCHMARK  TATIB/ tata tertib, dilangsir dengan  AD/ADRT  anggaran dasar dan anggaran rumah tangga,  seharusnya diadakan MUBES dan kemudian dilanjutkan PAPERA dan BAWASRA, dan dilanjutkan dengan sistematika kinerja pembentukan STRUKTUR   ORGANISASI beserta sekmentasi kinerja nya, Sehingga  junoritas dapat lebih mendalami proses berorganisasi melalui union  atau komposit, senioritas dalam  pengembangan dan pengabdian mahasiswa sebagai kaum intelektual.

by , pardomuan situmorang

budi prasetyo

editor- beto

 

 

 

 

 

 

 

Dekan Fisip Umrah Jadi Narasumber Seminar Internasional

 

20170120_154832[1]
Poto Istimewa : Bismar arianto saat memberikan materi

Persma Kreatif Fisip UMRAH- Seminar yang di adakan oleh himpunan mahasiswa kota batam (HMKB) dan garuda bintan yang di adakan di hotel laguna kegiatan ini di laksanan dari pukul 13.00 sampai selesai, jumat (20/01/2017).

Kegiatan yang di laksanakan dengan tema membentuk karakter pemuda – pemudi kepulauan riau berintegritas menuju pembangunan di masa mendatang , kegiatan dihadiri  kurang lebih 50 orang dari berbagai kampus yang ada dikepri seperti Stai Sar, Stie Pembangunan, Stisipol, Umrah, yang pada hakikatnya  kegiatan ini tidak mengurangi antusias mahasiswa Se Kepri untuk tidak hadir pada acara tersebut walau sebelum acara telah terjadi hujan.

Materi ini sendiri di isi oleh Dekan Fisip Umrah Bismar Arianto dan dua lain nya dari universitas teknologi Malaysia (UTM). Acara yang sekaligus dibuka oleh datuk Huzrin hood selaku orang yang di pertuakan di provinsi kepri dan selaku penggaas pendiri kepri .

Pesan-pesan yang di sampaikan oleh pak bismar arianto M, si tidak lebih mengedepankan supaya pemuda kita tidak kalah dari Negara luar dan menyebutkan bahwa mahasiswa saat ini lebih terfokus kepada mencari pekerjaan bukan malah membuka usaha karena dengan membuka usaha secara tidak langsung kita telah menjalankan tridharma peguruan  tinggi yaitu pengabdian.

Pada acara yang di selenggarkan di hotel laguna tersebut pak Bismar Arianto telah menitik beratkan mahasiswa agar belajar dan memperoleh prestasi , karena seperti pesan bung karno cari aku sepuluh pemuda maka akan ku cabut semeru dari akarnya dan beri aku sepuluh pemuda niscaya akan ku guncang dunia ,dari pesan tersebut pemuda yang hebat seperti kata dekan kita yaitu orang yang berprestasi di dunia dan dia member contoh taufik hidayat sebagai pemain bulu tangkis yang telah berhasil juara olimpiade di Athena yunani pada tahun 2004.

Selanjutnya pak bismar arianto selaku pengisi materi menyampaikan bahwa hanya usia seorang pemuda menurut UU NO 40 tahun 2009 ialah pemuda Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan dari sejak usia 16 tahun sampai 30 tahun , maka dari itu kita sebagai pemuda yang memasuki usia peroduktif jangan sampai kalah dengan usia yang tidak produktif lagi , walau  umur saya bukan kategori pemuda tapi semangat saya seperti seorang pemuda yang masih usia produktif  Ujar  “bismar arianto”.

Sebelum acara di tutup seluruh peserta dari universitas se kota tanjungpinang melakukan sesi foto bersama dengan  dekan fisip umrah dan dosen dari UTM lalu  di akhiri sesi salam –salam dan sesi pemberian pelakat oleh ketua pelaksana .
(Budi)dan (domu)

editor(beto)

Apatisme Kemacetan

DEMOGRAFI penduduk Indonesia pada era modern sepertinya tidak bisa lagi dijadikan “alasan rasional” dalam mengendalikan kemacetan yang telah melegenda di kota-kota besar di Indonesia.

Sekalipun berbagai teori telah melahirkan beragam analisa, namun semua akan berujung pada suatu kesimpulan bahwa ketika pertumbuhan penduduk melewati kapasitas muat suatu wilayah atau lingkungan, hasilnya akan berakhir dengan terjadinya ledakan penduduk yang berakibat pada terganggunya populasi yang menyebabkan berbagai masalah seperti polusi dan kemacetan lalu lintas.

Natalitas dan mortalitas sepertinya tidak lagi menjadi relevan sebagai input teori dalam mengendalikan kemacetan, karena kenyataannya bahwa kemacetan semakin parah ketika tensi emosional pengendara meningkat akibat kemacetan di sepanjang jalan utama kota di Indonesia.

Legenda kemacetan di kota besar Indonesia justru dimulai dari “migrasi” penduduk yang memiliki mimpi yang sama, yaitu meningkatkan kualitas hidup dengan memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Pemenuhan kebutuhan pokok akan membuat manusia secara otomatis melakukan migrasi ke pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Terlebih jika melihat ramalan Paul R, Ehrlich dalam bukunya yang berjudul The Population Bomb (Ledakan Penduduk) pada tahun 1968, tentang adanya bencana kemanusiaan akibat terlalu banyaknya penduduk dan ledakan penduduk. Karya tersebut menggunakan argumen yang sama seperti yang dikemukakan Thomas Malthus dalam An Essay on the Principle of Population (1798), bahwa laju pertumbuhan penduduk mengikuti pertumbuhan eksponensial dan akan melampaui suplai makanan yang akan mengakibatkan kelaparan. Namun, Sepertinya hal ini “tidak berlaku” bagi Negara makmur Gemah Ripah Loh Jinawi yang bernama Indonesia, Negara dengan 17000 pulau ini sepertinya pantas pantas saja memiliki jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa jika dilihat dari luasan geografis Negara kita.

Justru kemacetan yang terjadi di Indonesia adalah karena persebaran penduduk yang tidak merata. Jika jumlah penduduk di suatu wilayah dibandingkan dengan luas wilayahnya yang dihitung dari jumlah jiwa per kilometer persegi, akan mendapat hasil yang timpang dan memiliki perbedaan yang tinggi bila hal itu dibandingkan antara propinsi satu dengan yang lain.

Di Indonesia sendiri terjadi konsentrasi kepadatan penduduk yang berpusat di Pulau Jawa, hampir lebih dari 50% jumlah penduduk Indonesia mendiami Jawa. Hal ini menjadi masalah apabila pusat pemerintahan, informasi, trasportasi, ekonomi, dan berbagai fasilitas hanya berada di satu wilayah. Penduduk akan berusaha untuk melakukan migrasi dan akhirnya akan berdampak pada permasalahan pemerataan pembangunan yang dampaknya adalah terjadinya ledakan kemacetan yang bahkan telah merenggut sejumlah nyawa manusia dalam beberapa waktu lalu.

Apatisme Kemacetan

Kemacetan tidak bisa lagi disikapi dengan apatis, tetapi bagaimana memberi apresiasi terhadap insan yang mampu memberikan solusi dalam menanggulanginya. Pemerintah harus selalu berasosiasi dan berafiliasi dalam menyusun langkah langkah strategis jangka panjang dalam mengatasi ledakan kemacetan.

Berbagai studi empiris tentang kemacetan telah dikupas secara gamblang  bagaimana kemacetan dapat diibaratkan bagai sebuah “virus” yang harus dibasmi dengan “vaksin” yang tepat dalam upaya penanganannya, baik secara preventive ataupun breakdown.  Namun pada akhirnya manusia adalah objek yang paling dirugikan ketika kemacetan menciptakan rintangan utama bagi manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Terlalu miris jika kasus kemacetan berakibat pada Quadriplegia, namun mata tidaklah bisa berbohong, frustasi yang diakibatkannya telah berhasil memporak-porandakan produktivitas masyarakat.
Jika berbagai studi yang telah ada di-rasionalisasi, maka setidaknya ada tiga efek berbahaya dari ledakan kemacetan yang dipercaya akan memfikasikan tingkah laku manusia.

Pertama,  efek kemacetan terhadap pengendara  dilihat dari sisi psikologis akan melahirkan “stress” dengan “happy ending” nya adalah rasa frustasi. Berbagai penelitian yang telah dilakukan telah menjustifikasi bahwa anak-anak yang tumbuh di sekitar daerah dengan emisi CO2 yang tinggi memiliki tingkat inteligensi yang lebih rendah, mudah mengalami depresi, kecemasan, dan kesulitan konsentrasi. Selain anak-anak, orang dewasa pun dapat merasakan pengaruh dari emisi CO2, yaitu mengalami masalah ingatan dan pikiran.

Tingkat polusi udara yang tinggi akibat kendaraan bermotor juga mempengaruhi kandungan ibu. Heather Volk dari USC Keck School of Medicine menemukan bahwa ibu-ibu yang tinggal 1.000 kaki dari jalan raya di Los Angeles, San Francisco, dan Sacramento kemungkinan besar akan melahirkan anak dengan gangguan autisme. Sebuah penelitian jangka panjang yang dikembangkan oleh Frederica Perera dari Columbia University’s Center for Children’s Enviromental Health menunjukkan adanya pengaruh buruk dari emisi CO2 terhadap kandungan. Perkembangan kapasitas mental yang lambat, tingkat IQ yang lebih rendah, serta tingkat kecemasan, depresi, dan kesulitan konsentrasi merupakan sebagian dari efek samping yang dihasilkan.

Kedua, efek kemacetan terhadap kendaraan itu sendiri. Azhar Aris dalam Jurnal Ilmiahnya memberikan statement bahwa kendaraan yang melaju pada lalu lintas normal biasanya mengkonsumsi BBM sesuai dengan efisiensi mesin kendaraan dalam mengkonsumsi BBM. Kendaraan bermotor biasanya ditunjukkan dengan perbandingan per satu liter bensin dengan jarak yang dapat ditempuhnya, misalnya konsumsi satu liter bensin untuk delapan kilometer untuk jenis kendaraan mobil, tetapi efisiensi kendaraan ini juga dipengaruhi oleh jenis mobil, kapasitas mesin, dan merk mobil tersebut, namun ketika kendaraan terjebak dalam kemacetan akan terjadi peningkatan kebutuhan BBM sebesar 36,7% dari pengeluaran rata rata normal untuk setiap mobil, sedangkan motor sebesar 32,3% dari rata rata normal, bisa kita bayangkan jika nilai tersebut dikalikan dengan jumlah kendaraan bermotor yang ada di kota-kota besar di Indonesia. Potensi nilai ekonomi yang hilang ini merupakan nilai yang sangat berarti bagi kota modern termasuk juga daerah+daerah sub-urban.

Penurunan secara drastis performa kendaraan juga terjadi di ruas jalan yang macet, sebagai contoh perawatan berkala kendaraan dengan interval 10.000 km tentu menjadi poin lebih bagi penjual kendaraan, namun toleransi akibat ledakan kemacetan apakah juga angka 10.000 km masih relevan sebagai salah satu variabel dalam menghitung performa kendaraan? dan apakah acuan jarak tempuh masih bisa diberlakukan dalam kondisi ekstrem kemacetan?

Pada akhirnya pengendara akan memiliki extra cost dalam mensiasati perawatan kendaraan seperti oli mesin, busi dan filter udara.

Ketiga, efek kemacetan terhadap lingkungan. Melihat berbagai hasil studi tentang kemacetan sepertinya “ekologi” adalah salah satu faktor yang terkena dampak paling parah, Provinsi DKI Jakarta pernah merilis bahwa menurunnya tingkat kualitas udara memiliki kategori sangat tidak sehat dan tidak sehat menunjukkan peningkatan, masing-masing 0,85 dan 31,23 dari nilai sebelumnya, yaitu 0,27 dan 8,49 pada tahun 2001. Sebaliknya, kategori baik menurun dari 20,55 menjadi 5,75 pada tahun 2002. Hasil ini juga sangat bertentangan dengan sejumlah upaya yang sedang gencar dilakukan pemerintah terhadap program pengendalian pencemaran udara (program langit biru) yang dicanangkan sejak tahun 1986 melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup. Namun, terdapat hasil positif atas dihapuskannya kandungan timbal (Pb) dalam bensin pada Juli 2001, dengan semakin menurunnya kadar Pb dalam udara di Jakarta.

Mari Berpikir out of the box

Jika laju penurunan angka penjualan kendaraan “tidak lazim” untuk dilakukan, maka keberlanjutan pembangunan infrastruktur transportasi hendaknya dapat direvitalisasi tata kelolanya, yang terjadi saat ini adalah Keterbatasan dana APBD menjadi penyebab rendahnya alokasi perawatan dan perbaikan jalan, ditambah dengan permasalahan mendasar birokrasi seperti proses tender, dan pembebasan lahan.

Menarik melihat pandangan Joko Tri Haryanto,  bahwa ketiadaan mekanisme ear marking (penerimaan perpajakan dikembalikan kepada sektor yang berkontribusi) menyebabkan tidak adanya kewajiban bagi Pemerintah daerah untuk mengembalikan penerimaan pajak ke sektor transportasi dan perbaikan jalan. Padahal jika diwajibkan ear marking 10% saja, maka Pemda DKI Jakarta akan memiliki sumber dana minimal Rp1,7 triliun, yang dapat digunakan untuk perawatan serta perbaikan jalan.

Selain itu sektor financial licensing Indonesia juga perlu dievaluasi secara serius, kemudahan berhutang dalam membeli kendaraan diyakini akan menyesakkan lalu lintas dan dipercaya akan mempersulit implementasi peningkatan infrastruktur jalan dan jembatan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa jika penjualan tidak tingkatkan maka Negara akan mengalami “kekurangan” pendapatan.

Oleh karena itulah pemerintah perlu mendesain ulang pendapatan pendapatan yang diperoleh dari sektor transportasi untuk kemudian mengembalikan penerimaan pajak dalam peningkatan infrastruktur transportasi yang diimpikan sebagian besar penduduk kota besar yaitu “tersedianya” public transport yang memiliki waktu tempuh perjalanan efisien (cepat), tidak ada kemacetan, nyaman, aman dan bebas kecelakaan. Untuk mencapai kondisi tersebut pemerintah membutuhkan dukungan anggaran yang tidak sedikit.

Penerapan kebijakan pengaturan lalu lintas di waktu-waktu sibuk juga merupakan upaya yang sangat efektif yang dapat dilakukan, pengaturan volume kendaraan selain mengurangi polusi udara juga diyakini sebagai model kajian kebijakan dalam membentuk afiliasi positif antara pelaku industri dan perdagangan dalam bergotong royong membangun sarana transportasi modern di bumi Pertiwi Indonesia.

Oleh: Dr. Ir. Agus Puji Prasetyono, M. Eng.
sumber: http://indonews.id/berita/apatisme-kemacetan/

 

corak mahasiswa di kota tanjungpinang

Hasil gambar untuk mahasiswaMahasiswa adalah orang yang belajar di Perguruan Tinggi (satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dan dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas). Dari sekian ribu presepsi mahasiswa di kota Tanjungpinang ada yang menyebut mahasiswa  adalah salah satu motor kemajuan Negara, kemajuan suatu bangsa dan lain sebagainya. Yang pasti mahasiswa adalah generasi yang masih belajar dengan tujuan masa depan yang lebih baik. Memang motivasi mahasiswa untuk kuliah berbeda-beda tetapi terlepas dari kelemahan dan keburukan oknum setiap mahasiswa, kita bisa melihat bahwa secara umum dalam diri mahasiswa ada kekuatan tersendiri yaitu mahasiswa masih teguh dalam hal berprinsip dan idealis, semangatnya masih membara, rasa ingin tahu yang tinggi, tuntutan yang tinggi dan kritis, serta energi dan pemikiran yang masih segar.

Berdasarkan pengamatan saya terhadap gaya hidup mahasiswa di kota Tanjungpinang, maka saya melihat beberapa corak (tipe) mahasiswa di kota Tanjungpinang, yaitu:

  1. Tipe Kupu-Kupu

Kupu-kupu adalah akronim dari Kuliah pulang-kuliah pulang. Mahasiswa tipe ini datang kuliah kemudian setelah dapat waktunya pulang maka mahasiswa pulang begitu saja. Mereka sangat rajin kuliah, jarang absen dan nilai mereka aman serta perolehan IP (Indeks Prestasi) selalu tinggi tetapi mereka kurang memperhatikan masalah sosial yang ada di lingkungannya. Kelebihannya adalah mereka sangat fokus kuliah tapi kelemahannya adalah wawasan mereka tidak terlalu luas dan disisi lain mahasiswa seperti ini gak jelas arah dan tujuan nya.

  1. Tipe Kunang-kunang

Kunang-kunang adalah singkatan dari Kuliah nongkrong-kuliah nongkrong. Tipe ini adalah mahasiwa yang sangat suka menongkrong bersama teman-temannya. Mahasiswa seperti ini akan sering terlihat di kantin, kedai kopi, dan lain-lain. Mereka sering berlama-lama bercerita di suatu tempat. Kelebihannya adalah mereka mempunyai banyak teman dan merasa hidup santai namun kelemahannya adalah waktu perkuliahan mereka terkadang terlalaikan.

  1. Tipe Kura-kura

Kura-kura adalah adalah singkatan dari Kuliah rapat-kuliah rapat. Tipe ini adalah mahasiswa yang menyibukkan diri dengan berbagai organisasi sehingga waktu mereka banyak tersita untuk mengikuti rapat-rapat, mereka jeli untuk melihat masalah-masalah sosial yang ada di sekitarnya dan cenderung mencampuri polemik yang sedang terjadi. Kelebihannya adalah mereka mempunyai wawasan dan pengalaman yang cukup luas dan mereka mempunyai kemampuan khusus dalam berorganisasi, berdiskusi, melobi, membangun jaringan kerja, sedangkan kekurangannya adalah mereka terkadang lupa menyisihkan waktu untuk mengurus diri sendiri.

  1. Tipe Capung

Capung adalah singkatan Cari pinjaman utang, tipe seperti ini adalah mahasiswa yang terlalu boros sehingga uang yang diberikan oleh orangtuanya selalu kurang dan ia harus berusaha untuk meminjam uang temannya atau orang lain untuk menutupi banyaknya keinginan-keinginannya yang harus dibeli. Orang yang bertipe capung akan merasa senang ketika keinginannya terpenuhi namun kekurangannya ialah ia akan kecanduan untuk menghambur-hamburkan uang.

  1. Tipe Kumbang

Kumbang adalah singkatan dari Kemanapun bimbang, tipe ini biasanya ada pada mahasiswa yang tidak berpendirian. Mereka sering bimbang ketika menentukan suatu pilihan. Mahasiswa seperti ini sering ikut-ikutan kemanapun temannya pergi, namun mereka tetap bimbang dan gelisah.

  1. Tipe Kelabang

Kelabang adalah singkatan dari Keliaran bangga, corak ini mudah kita temukan diantara mahasiswa karena banyak mahasiswa yang mempunyai gaya hidup berkeliaran setiap waktu. Biasanya mahasiswa seperti ini sering belanja ke pusat perbelanjaan, jalan-jalan ke tempat rekreasi, kafe, dan berbagai tempat lain.

  1. Tipe Lalat

Lalat adalah singkatan dari Selalu telat. Pada tipe ini mahasiswa sangat sering terlambat. Mahasiswa tipe ini biasanya selalu terlambat datang ke kampus atau masuk ke kelas, mengumpulkan tugas, mendapatkan informasi, dan lama menyelesaikan proses perkuliahan atau yang kerap disebut mapala (mahasiswa paling lama) .

  1. Tipe Nyamuk

Nyamuk adalah singkatan dari Nyari muka (mencari muka), biasanya tipe mahasiswa seperti ini mudah kita jumpai dan kebiasaannya adalah mencari muka, menyodorkan diri sendiri secara berlebihan kepada dosen atau orang lain, bahkan terkadang tipe seperti ini mau menjatuhkan citra orang lain hanya untuk menonjolkan diri sendiri. Tipe ini biasanya disebut penjilat.

  1. Tipe Kuda

Kuda adalah singkatan dari Kuliah dagang. Tipe mahasiswa ini melakukan kuliah dan berdagang. Mereka biasanya berusaha menghasilkan uang dengan usaha-usaha seperti menjual makanan, minuman, pulsa, barang-barang second, alat elektronik, bahan kosmetik, dll. Mereka mempunyai niat untuk berbisnis, bekerja keras, dan mandiri, namun resikonya adalah apabila mereka lebih menyukai bisnisnya daripada perkuliahannya.

  1. Tipe Kudeta

Kudeta adalah singkatan dari Kuliah demonstrasi, tipe ini ditujukan kepada mahasiswa yang sering melakukan demontrasi, mereka sering mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah atau apa pun yang dianggap salah. Di satu sisi, demonstrasi yang dilakukan adalah wajar karena negara kita adalah negara demokrasi dan apa yang dilakukan oleh mahasiswa adalah untuk memperjuangkan keadilan rakyat, namun hal yang tidak baik adalah aksi yang sampai kepada tindakan anarkis dan merusak fasilitas yang ada. Mahasiswa yang ideal dan sebagai akademisi juga bisa menyampaikan aspirasi melalui pemikiran-pemikiran yang ilmiah.

  1. Tipe Kuper

Kuper adalah singkatan dari Kuliah perpustakaan. Tipe mahasiswa seperti ini adalah orang yang sangat rajin ke perpustakaan untuk membaca buku, menambah pengetahuan baru dan mengerjakan tugas. Mereka mempunyai prinsip “Setiap waktu luang adalah ke perpustakaan.” Tipe ini adalah bagus dan biasanya mereka adalah orang pintar, namun terkadang mereka tidak mempunyai waktu untuk berteman, dan sering juga disebut kurang pergaulan.

  1. Kuker

Kuker adalah singkatan dari Kuliah kerja. Selain kuliah mahasiswa seperti ini melakukan pekerjaan. Tipe ini mempunyai sedikit sama dengan tipe kuda, namun pekerjaan dalam tipe ini lebih luas. Mereka harus membagi waktu untuk perkuliahan dan pekerjaan. Beberapa motivasi mereka adalah untuk membiayai perkuliahan sendiri dan menambah uang.

By:Yosua situmorang (IAN)

Editor: budi prasetyo(IP)