penutupan KKN kebangsaan oleh Dirjen Belmawa Ristekdikti

 

20160826_220537[1]Dirjen Belmawa Ristrkdikti menyampaikan sambutan dan arahan kepada seluruh peserta KKN kebangsaan di Aula Gubernur Kepulauan Riau, Jumat (27/8/16). Foto: Beto

Persma kreatif- Ratusan Mahasiswa dari berbagai Kampus di tanah air menghadiri penutupan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan 2016, di Aula gubernur kepulauan riu, dini malam (27/8/2016).

Penutupan ditandai dengan  serangkaian acara peserta KKN dan  laporan hasil peserta kkn kebangsaan dengan tema  “pengembangan ekowisata bahari pulau terdepan, tertinggal dan terisolir provinsi kepulauan riau berbasis masyarakat sebagai strategi  menjaga kedaulatan NKRI.

Dalam hal ini sala seorang perwakilan peserta KKN kebangsaan dari 44 perguruan tinggi se indonesia dan malaysia menyampaikan laporan tentang objek  wisata bahari kepulauan riau yang menurutnya kepri memiliki peluang besar untuk menjadi daerah wisata bahari di indonesia.

semoga para stake holder di kepulauan riau dapat melanjutkan program-program yg kami buat selama KKN kebangsaan berlangsung supaya pengembangan ekowisata bahari makin terdepan di provinsi kepualaun riau ini ujar “olivia”.

Dalam kesempatan ini Prof. Syafsir Akhlus selaku Rektor Universitas maritim raja ali haji menyampaikan ucapan trimakasi kepada seluruh peserta KKN kebangsaan walaupun dalam pelaksanaan KKN tahun ini masih jauh kurang efektif dan semoga KKN tahun 2017 yang bertempat di Gorantalo dapat berjalan lebih baik lagi. Serta membantu promosikan wisata bahari kepulauan riau dan provinsi kepulauan riau bukan riau, kota Tanjungpinang bukan Pangkal pinang.

Dan dalam sambutan Kemenristekdikti diwakili Dirjen belmawa menristekdikti yang sekaligus menutup penutupan KKN kebangsaan 2016.  “ kepada seluruh peserta KKN ceritakanlah pengalaman KKN masing-masing ke pada dosen dan teman karena kkn ini berbeda dengan perkuliahan yang di dapat di bangu kuliah dan semoga apa yang kalian peroleh selama dilapangan akan menjadi ilmu yang dapat diaktualisasikan dan diterapkan dalam masyarakat serta dapat mempromosikan parawisata budaya kepulauan riau setelah kepulangan kembali ketempat masing-masing, Agar kepulauan riau dapat menjadi wisata bahari mancanegara. Ujar “dirjen belmawa ristekdikti”

Hadir dalam kesempatan tersebut Kemenristekdikti diwakili dirjen belmawa ristekdikti, Gubernur kepulauan riau di wakili Sekretaris daerah, Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji serta beberapa dosen UMRAH, dosen pendamping dari Malaysia dan seluruh mahasiswa yang tergabung dalam KKN kebangsaan 2016

(Beres L.T)

 

Persma kreatif- Ratusan Mahasiswa dari berbagai Kampus di tanah air menghadiri penutupan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan 2016, di Aula gubernur kepulauan riu, dini malam (27/8/2016).

Penutupan ditandai dengan  serangkaian acara peserta KKN dan  laporan hasil peserta kkn kebangsaan dengan tema  “pengembangan ekowisata bahri pulau terdepan, tertinggal dan terisolir provinsi kepulauan riau berbasis masyarakat sebagai strategi  menjaga kedaulatan NKRI.

Dalam hal ini perwakilan kkn kebangsaan menyampaikan laporan tentang objek  wisata bahari kepulauan riau

Dia berpesan semoga stake holdar di kepri dapat melanjutkan program” yg mereka buat supaya pengembangan ekowisata barhari makin terdepan

44 perguruan tinggi se indonesia dan malaysia.

Dirjen belmawa menristek dikti ” kepada seluruh peserta kkn ceritakanlah pengalaman kkn kalian ke pada dosen, teman” karena kkn ini berbeda dengan peruliahan yang di dapat di bangu kuliah.

 

Situasi Semakin Tidak Kondusif, Mahasiswa Mulai Bergerak, 182 Kampus Adakan Pertemuan

 

Persma kreatif – Kepemimpinan dan Kedaulatan bangsa merupakan masalah yang urgen bagi bangsa saat ini. Pasca Reformasi, stabilitas kehidupan bangsa masih belum menunjukkan arah perubahan yang signifikan dan cenderung menurun. Di era konsolidasi demokrasi bangsa saat ini, sering menimbulkan ketidakpastian ekonomi, politik, hukum, pendidikan, termasuk juga kebudayaan bangsa.

 

“Problematika kebangsaan yang semakin akut menjadi topik penting di Rembug Nasional dan Konsolidasi Nasional BEM Se-Indonesia pada tanggal 05-08 Agustus 2016 di Jakarta. Problematika kebangsaan akan dibahas secara massif oleh Para Presiden Mahasiswa dari 182 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Indonesia dengan Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII),” ungkap Ketua Umum PB PMII, Aminuddin Ma’ruf dalam siaran pers Selasa (2/8) .

Aminuddin Ma’ruf menambahkan bahwa, akhir-akhir ini situasi bangsa semakin tidak kondusif, apalagi terkait isu terorisme dan baru-baru ini kekerasan dan kerusuhan massal yang berbau SARA mengakibatkan belasan Vihara dan Klenteng di Tanjungbalai Medan hangus terbakar serta pro-kontra tax amnesty.

“Kekerasan dan kerusuhan ini bukanlah karakter bangsa kita yang sesungguhnya, bangsa kita itu sangat inklusif dalam beragama, menghargai kemanusiaan dan keberagaman umat. Sehingga situasi seperti di atas menjadi evaluasi bagi para intelektual dan calon Pemimpin bangsa, terutama para Presiden Mahasiswa BEM Se-Indonesia yang akan berkumpul di Jakarta demi melakukan konsolidasi baik secara internal maupun eksternal organisasi,” lanjut Amin.

 

Selain itu, saat ditanyakan soal kesiapan acara konsolidasi ini, Ketua Pelaksana Kolokium dan Konsolidasi Nasional, Fika Taufiqurrohman menjelaskan kesiapan penuh perhelatan akbar PB PMII ini.

“Alhamdulillah, untuk sementara kesiapan panitia berjalan lancar. Kegiatan ini akan dihadiri sekitar 182 Kampus Negeri (PTN-PTAIN) dan Perguruan Tinggi Swasta Besar. Beberapa Menteri dan pejabat negara telah konfirmasi hadir pada acara tersebut,” ungkap Fika.

“Kita juga berharap input dari para narasumber menjadi masukan bagi para Presiden BEM yang akan melakukan Konsolidasi Nasional menyikapi carut marutnya kondisi bangsa kita,” tambah Fika.

Sumber : eramuslim

Menembus Batas Logika

Persma kreatif- kemiskinan memang menjadi musuh utama bangsa Indonesia. Keterbatasan ekonomi menjadi penghalang seseorang untuk meraih pendidikan yang tinggi. Kemiskinan menjadi momok menakutkan bahwa seseorang hanya bisa pasrah menerima takdir dari Sang Maha Kuasa.

Tapi logika tersebut tidak berlaku bagi Firna Larasanti. Tentu tak banyak orang mengenal namanya. Tapi itu sebelum ia lulus Sarjana pada bulan Juli 2016 dan berhasil meraih predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,77 di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dari parasnya nan ayu, mungkin tidak banyak orang yang tahu pula bahwa ia lahir dari keluarga yang serba kekurangan. Orang tuanya hanya bekerja sebagai pemulung barang-barang rongsokan di sekitar Kota Semarang.

Saat disambangi dirumahnya yang sangat sederhana di daerah Karanggeneng, Kelurahan Sumurejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, dimana barang-barang rongsokan menjadi penghias utama halaman rumahnya, Firna, anak kedua dari tiga bersaudara menceritakan pengalaman dan perjuangannya mendapatkan predikat lulusan cumlaude di kampusnya.

Firna yang setiap harinya membantu orang tuanya menyisihkan barang-barang rongsokan untuk dijual kembali kepada pengepul barang bekas memulai ceritanya sejak saat dia hampir saja putus asa tidak dapat masuk ke Perguruan Tinggi Negeri tujuannya, yaitu Unnes. Jalur SNMPTN dan SBMPTN yang telah coba ditempuhnya tidak memberikan hasil seperti yang diinginkannya. Hingga akhirnya pada kesempatan terakhir ia berhasil masuk Unnes.

“Awalnya saya ingin masuk ke program studi pendidikan, karena cita-cita awal adalah menjadi guru. Tapi akhirnya malah diterima di program studi politik. Itu saja sudah alhamdulillah bisa diterima di Unnes, karena disini saya tahunya Unnes itu bagus,” ungkapnya.

Pada semester awal masuk Unnes, Firna merasa kebingungan untuk mencari dana talangan untuk membayar biaya kuliahnya, karena masih termasuk mahasiswa reguler. Ia pun berusaha keras menutupinya dengan membantu orang tuanya mengumpulkan barang-barang bekas yang bisa dijual kembali. Terlebih yang ia pikirkan saat itu adalah bagaimana caranya mendapatkan buku-buku penunjang perkuliahan.

“Jadi saya minta tolong juga kepada orang tua saya, kalau Bapak sama Ibu saat memulung menemukan buku atau majalah bekas, diberikan saja kepada saya. Jangan dijual kembali. Selain saya juga mencarinya sendiri saat memulung. Dari sana saya banyak mendapatkan buku-buku atau majalah untuk membantu perkuliahan, terutama isu-isu politik. Saya sempat kebingungan, teman-teman sekitar saya punya buku, laptop, sedangkan saya tidak punya. Tapi alhamdulillah saya tetap mendapatkan IPK yang cukup baik,” ujarnya.

Beasiswa Bidikmisi

Pada semester selanjutnya, takdir berkata lain. Akhirnya Firna mendapatkan kuota beasiswa Bidikmisi dari Unnes. Dari sanalah semangat dan motivasi Firna terus bertambah untuk membuktikan bahwa orang-orang yang berada dalam kekurangan itu bukan berarti tidak bisa berprestasi. Bukan berarti malah harus malu dengan hidup.

“Dari sejak itu, motivasi saya bertambah. Saya justru malah ingin membuktikan bahwa bantuan yang saya terima itu berasal dari uang rakyat. Saya harus mempertanggungjawabkannya kepada rakyat dan Negara yang mempercayai saya menerima beasiswa. Saya ingin menjadi mahasiswa Bidikmisi yang sangat bertanggungjawab terhadap uang rakyat. Apalagi karena saya ada di ilmu politik, saya ingin buktikan bahwa politisi itu memang harus berjuang untuk rakyat,” ujar dara yang punya tokoh idola Presiden RI Joko Widodo itu.

Siti Suswati, ibunda dari Firna dengan nada tersedu mengatakan bahwa ia amat bersyukur dengan apa yang telah dicapai oleh putrinya. Dengan nada sendu ia mengatakan bahwa pada awalnya berfikiran tidak mungkin Firna bisa berhasil seperti sekarang. Suswati menceritakan, dengan penghasilan yang paling besar hanya 50 Ribu Rupiah per hari bila banyak rongsokan yang didapat, tidak mungkin Firna akan mencapai cita-citanya menjadi Sarjana. Harapan kedepan, Firna amat ingin melanjutkan kuliahhnya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu pascasarjana ilmu politik di National University of Singapore (NUS). Cita-citanya, bila memang diberi kesempatan mendapatkan beasiswa kembali, ia sangat ingin mendapatkan sampai jenjang Strata-3 (S3).

“Saya sangat ingin menginpirasi teman-teman yang merasa kekurangan, jangan pantang menyerah. Ini hanya keterbatasan ekonomi. Sementara kita masih punya fisik yang baik, jika kita mau berusaha dan bersyukur, saya percaya akan diberikan jalan oleh Yang Maha Kuasa. Sesungguhnya ekonomi bukan menjadi kesulitan, karena kita masih memiliki akal, otak, sehingga kita pasti bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi,” katanya dengan penuh semangat.

Firna yang sederhana, Firna yang percaya diri, Firna yang selalu bersyukur, telah berhasil menembus keterbatasan logika berfikir semua orang. Firna menjadi inspirasi bagi sekian banyak orang yang berada dibawah garis kemiskinan. Kekurangan bukanlah beban, tapi jadikan kekurangan sebagai penyemangat pembuktian keberhasilan.

Sumber: ristekdikti.com