Andi Silaban Mundur dari Bidikmisi UNIMED “Berikan yang Membutuhkan”

 

Persma kreatif – Lulus di Universitas Negeri Medan melalui jalur bidik misi ujian tulis SBMPTN, membuat Andi Silaban dan orang tuanya merasa bahagia, “tak sangka anak saya bisa lulus Prodi IKOR di Unimed, padahal prestasi anak saya di sekolah biasa-biasa. Universitas yang diidamkannya sejak sekolah dulu, kini menjadi kenyataan. Andi memilih jurusan Ilmu Keolahragaan (IKOR) FIK Unimed, sesuai dengan hobi dan minatnya.

Calon mahasiswa baru tersebut alumni SMA Negeri 19 Medan, tempat tinggal beralamat di Jalan P. Bangka Lingk. III P. Labuhan, Medan Belawan. Ayahnya seorang supir truck dengan penghasilan 3.000.000 per-bulannya dan ibunya tidak bekerja. Walaupun tanggungan orang tuanya masih 6 orang dan adiknya masih ada yang bersekolah di SMA N 9 Medan dan SMA N 19 Medan. Namun, ayah dan ibunya bersikeukeh untuk tidak menerima bantuan beasiswa bidik misi yang diberikan. Padahal beasiswa tersebut membebaskan anaknya selama studi sampai tamat dan setiap bulannya akan dapat biaya hidup dari pemerintah. Anggapan keduanya, mereka masih banyak yang lebih membutuhkan bantuan beasiswa pendidikan itu. Oleh karena itu, atas suruhan kedua orang tuanya Andi datang ke Unimed dengan niat untuk mengundurkan diri dari menerima beasiswa Bidikmisi, sampainya di Unimed, satpam mengarahkan ke kantor humas dan diterima oleh kepala humas, terjadilah dialog dengan menanyakan maksud dan alasan mengapa mau mengundurkan diri dari penerima beasiswa tersebut padahal orang tuanya juga tidak mampu-mampu amat, karena bekerja sebagai supir truck.

Ayahnya, Luhut Silaban mengatakan “kami sangat bangga anak kami lulus di Universitas Negeri. Bagi kami tidak masalah biaya kuliahnya, walaupun saya supir truck. Lanjutnya “kami masih bisa membiayai kuliah anak kami. Menurut kami seharusnya bidikmisi ini harus tepat sasaran, diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak mampu namun punya kemauan belajar yang tinggi dan berprestasi. Tidak apa kami membayar uang kuliah anak kami seperti mahasiswa lainnya, itu merupakan tanggung jawab kami sebagai orang tua. Kami bukan menolak rezeki beasiswa bidikmisi dari Tuhan, tapi kami rasa masih mampu, kami tidak pantas mendapatkan dan kami yakin masih ada yang lebih membutuhkan dari pada kami.”

Anak kelima dari 6 bersaudara ini tidak menyangka dirinya lulus dari jalur ujian tulis SBMPTN 2016. Andi mengatakan “awalnya dia diikutkan jalur bidikmisi oleh sekolah untuk mengikuti ujian SBMPTN di Unimed. Kepala sekolah saya berpikiran kalau saya layak diusulkan, punya prestasi dan tidak mampu, makanya saya di usulkan untuk mendapatkan beasiswa bidik misi tersebut, ya karena saya berpikiran jika dapat beasiswa bidikmisi, kan saya tidak akan memberatkan orang tua dalam kuliah, itu pikiran saya. Ya saya ikuti ujiannya, saat saya lihat pengumuman SBMPTN tanggal 28 Juni 2016 secara online, puji Tuhan, saya lulus di Unimed pada Prodi Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan sesuai dengan apa yang saya inginkan sejak dulu.”

“Sebagai anak yang baik, saya ikuti saran kedua orang tua untuk menyampaikan kepada pihak Unimed agar saya mengundurkan diri dari penerima beasiswa tersebut. Ternyata pemikiran saya dan pemikiran orang tua saya berbeda. Saya berpikir supaya tidak memberatkan kedua orang tua pada saat saya kuliah nanti, karena dapat beasiswa. Ternyata orang tua saya lain, yaitu jangan terima beasiswa tersebut karena ayah masih mampu membiayai kuliah mu sampai tamat. Semoga pihak Unimed dapat mengalihkan kepada mahasiswa baru yang betul-betul membutuhkan dan berarti bagi kelangsungan kuliah mereka”.

Tim penyelaras Unimed pak Muslim mengatakan, terima kasih atas permohonan dari orang tua Andi Silaban untuk mengundurkan diri dari penerima beasiswa bidikmisi. Akan kami sampaikan kepada pimpinan agar diambil kebijakan yang terbaik untuk dialihkan kepada mahasiswa baru yang layak menerimanya. Kami salut dengan sikap mulia masyarakat seperti ini, karena dengan keterbatasan ekonomi namun masih memiliki jiwa baik dengan menolak bantuan beasiswa. Masih banyak masyarak ang jarang memiliki sikap baik ini. Semoga bisa jadi pelajaran bagi kita semua.

Sumber : (Humas Unimed)

INI HARAPAN REKTOR UMRAH UNTUK ASMAN ABNUR

IMG_20150818_183814Persma kreatif- Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Prof Syafsir Akhlus mengatakan, penetapan Asman Abnur sebagai Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (Menpan RB) menjadi energi baru bagi Provinsi Kepulauan Riau.

“Kami senang, bangga, ada politisi asal Kepri yang berhasil menjadi menteri. Ini kabar baik, terutama bagi masyarakat Kepri,” kata Akhlus, Kamis (28/7).

Menurutnya, Asman adalah salah seorang tokoh masyarakat, sekaligus politisi di DPR, yang cukup populer di Kepri. Secara umum, keputusan Presiden Joko Widodo itu tentu mendapat tanggapan positif bagi masyarakat Kepri.

“Kami berharap perhatian Pak Asman terhadap Kepri, terutama yang berhubungan dengan tugas dan kewajibannya semakin besar,” ujarnya.

Akhlus juga mengatakan kampus yang dipimpinnya tersebut cukup dekat dengan Asman Abnur. Perhatian Asman dalam memajukan UMRAH juga cukup besar.

“Kami akan selalu berkoordinasi dengan pihak Kemenpan RB, terutama terkait proses pengangkatan dosen sebagai Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja,” ungkapnya.

Akhlus juga berharap urusan tersebut dapat lebih mudah, karena Asman memimpin kementerian tersebut. “Setelah proses di Kemenriset Dikti, maka urusan Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja berada di kantor Pak Asman,” ucapnya.

Sumber : inforakyat


Lanjutkan membaca INI HARAPAN REKTOR UMRAH UNTUK ASMAN ABNUR

Cantik Itu Luka, Wajah Sastra Realisme Magis Masa Kini

 

Judul : Cantik Itu Luka
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2015 (Cetakan keenam)
Jumlah halaman : 479 halaman
Harga : Rp 100.000,

Tampaknya Eka Kurniawan mewarisi kesusastraan Pramoedya Ananta Toer. ‘Cantik Itu Luka’ hadir dalam bentuk realisme magis, sastra wangi, filsafat, humor, dan tentunya lebih kekinian.

IMG_9972
(Poto: Beto)

Seorang Indonesianis Benedict Anderson tentu tak main-main mendeklarasikan Eka Kurniawan sebagai pengganti kesusastraan Pramoedya Ananta Toer melalui pembuktian pada novel sastra pertamanya, Cantik Itu Luka. Konsep realisme sosialis yang biasa ditulis Pramoedya Ananta Toer jelas terlihat nyata.

Unsur sejarah Indonesia seperti masa akhir kolonial, masa kemerdekaan, dan masa revolusi dicampur-adukkan dengan cerita kehidupan Dewi Ayu yang tidak rasional. Sebagai contoh, pada salah satu bab ketika Rengganis Si Cantik dihamili oleh anjing beberapa tahun pasca-pembunuhan komunis di Indonesia—G30SPKI. Maka disuguhkanlah cerita tentang komunisme dan teori Marxis Karl Max.

Meski jauh dari kata masuk akal, namun pada setiap hal yang tidak masuk akal tersebut selalu diselipkan sejarah Indonesia yang jelas nyata. Inilah konsep realisme yang coba dihadirkan Kurniawan.

Tapi kita tak perlu jauh menilai Cantik Itu Luka sebagai ‘ralat atas sejarah’ Indonesia seperti Tetratologi Buru Pram. Novel ini jelas karya sastra fiksi, terlepas dari konsep realisme di dalamnya. Kisah cinta Dewi Ayu dan keluarganya yang dilatarbelakangi cerita magis tidak rasional ini sesungguhnya berlawanan dengan konsep realisme Pram.

Maka bolehlah saya kutip sebuah review kritikus sastra Katrin Bandel; Cantik Itu Lukamerupakan sebuah sastra dengan konsep ‘realisme magis’. Ia hadir sebagai wajah baru sastra Indonesia masa kini.

Cerita dibuka dengan prolog mengundang tawa. Diceritakan Dewi Ayu pada suatu sore di bulan Maret bangkit dari kuburnya setelah mati selama 21 tahun. Kebangkitannya membuat gempar penduduk Halimunda. Lantaran penasaran, semua orang datang berbondong ke rumah mantan pelacur paling disegani itu.

Saat kembali dalam keadaan hidup, Dewi Ayu menemukan putri bungsunya sedang duduk di teras rumah, hari itu adalah pertemuan pertama mereka berdua. Ialah Si Cantik, anak keempat Dewi Ayu yang dilahirkan beberapa minggu sebelum kematiannya. Namun, Si Cantik tak secantik ketiga anak Dewi Ayu lainnya. Gadis itu berkulit hitam, buruk rupa, dan terlihat seperti monster.

Kurniawan ternyata tak melanjutkan kisah Si Cantik yang tiba-tiba hamil tanpa disetubuhi manusia. Itu terjadi beberapa hari setelah kembalinya Dewi Ayu. Lalu cerita kembali ke waktu Dewi Ayu hidup di zaman kolonial. Alur maju mundur mendominasi novel ini.

Dewi Ayu merupakan wujud wanita masa penjajahan Belanda. Ia habiskan seluruh hidupnya menjadi pelacur di Halimunda. Cucu dari Ted Stammler ini lahir dari hubungan cinta sedarah antara Henri Stammler (putra Ted Stammler) dan Marietje Stammler (putri Ted Stammler). Ia digambarkan sebagai wanita tangguh, cerdas, dan berani dalam menghadapi masalah kehdiupannya yang rumit.

Maka dari itu, Cantik Itu Luka, seperti judulnya, mengandung makna perwujudan kehidupan wanita masa penjajahan. Pesannya hadir pada setiap konflik yang dialami Dewi Ayu, Si Cantik, Ma Gedik, Krisna, dan seluruh tokoh yang ada dalam novel. Intinya, punya paras cantik tak bakal jauh dari luka, luka yang dialami oleh semua tokoh tentunya.

Kurniawan juga punya cara unik saat mengenalkan tokoh baru. Misalnya, setelah diceritakan saat Dewi Ayu mengabdikan diri menjadi pelacur di rumah Mama Kalong, ia bertemu seorang tentara terkenal bernama Sang Sodancho. Pria itu ingin menikahi putrinya, Alamanda.

Maka pada bab berikutnya sudut pandang tokoh akan beralih ke Sodancho, bagaimana ia bisa menjadi tentara dan jatuh cinta pada Alamanda. Dewi Ayu hanya akan hadir sebagai pemeran pembantu. Begitu juga saat cerita beralih ke kisah Alamanda, putri Dewi Ayu, atau pun kisah Krisna, cucu Dewi Ayu yang ternyata dalang di balik kehamilan Si Cantik.

Tokoh utama Cantik Itu Luka tak melulu tentang Dewi Ayu saja, melainkan semua tokoh yang ada dalam cerita.

Alumni Filsafat UGM ini juga tak segan-segan memborbardir mata pembaca dengan kalimat ‘nyentrik’ tentang seks. Untuk hal ini, saya rasa Kurniawan terlalu berani dan frontal. Ia beruntung bisa hadirkan sastra wangi dalam kisah pelacuran Dewi Ayu. Meski pembaca sempat dibingungkan dengan plot maju mundurnya, novel ini kaya akan narasi yang mengalir apik.

Berkat kesuksesannya meracik Cantik Itu Luka, novel ini diangkat ke dalam bahasa Jepang, Malaysia, dan Inggris. Lalu masuk long list Khatulistiwa Literary Award pada 2003 dan sudah dicetak keenam kalinya oleh Gramedia Pustaka Utama.

Kurniawan tentu bukan penulis fiksi pertama yang diangkat tulisannya dalam bahasa Inggris. Ia juga bukan satu-satunya yang memasukkan sastra wangi dalam penulisannya, karena masih ada Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu. Dan juga, Kurniawan bukan yang pertama kali menuliskan realisme-surealisme selain Gus tf Sakai.

Namun, Kurniawan adalah yang pertama kali mengkombinasikan semua elemen dalam sastranya; realisme, surelisme, sejarah, filsafat, humor, dan sastra wangi. Bisa dibilang,Cantik Itu Luka merupakan novel ‘realisme magis’ karya pertama Eka Kurniawan dan patut diapresiasi.

 Redaksi

 

UMRAH SIAP MELEPASKAN MAHASISWA KKN REVOLUSI MENTAL 2016

20160725_134108pengarahan sekaligus pelepasan peserta mahasiswa KKN oleh Drs.ir. bustami selaku wakil rektor I di depan gedung rektorat (poto: Beto)

Persma kreatif- Tanjungpinang. senin , 25 juli 2016 tepatnya dijalan dompak yang dihadiri langsung oleh mahasiswa yang akan berangkat kuliah kerja nyata (KKN)  yang diselenggarakan panitia oleh LP3M UMRAH (lembaga penelitian, pengembangan, pengabdian mahasiswa). Adapun mahasiswa KKN yang akan berangkat berjumlah 900 orang  dan ditempatkan di 70 desa  4 kabupaten yaitu,  bintan , batam, lingga, karimun.

Ada yang berbeda dari tahun tahun sebelumnya baik tema ,pelaporan dan biaya bantuan operasional selama pelaksanaan KKN. Adapun jumlah biaya Senilai  Rp. 1.500.00 Pelaksanaan kkn tahun ini pun hanya berkisar satu bulan  terhitung 25/07/16 s/d 25/08/16

Pihak lp3m memfasilitasi berupa bus sampai di lokasi wilayah bintan dan yang diluar wilayah bintan hanya diantar sampai pelabuhan

Adapun tema kkn revolusi mental tahun ini yaitu Pengembangan ekowisata bahari di daerah terdepan , terbelakang dan terisolir. Yang dilaksanakan dengan tertib, disiplin dan bersih yang dimana nantinya dapat mengubah mindset dari degradasi karakter mental dan mahasiswa umrah dapat membawa perubahan terhadap masyarakat dari segi mentalitas, ujar bustami selaku wakil rektor I UMRAH.
(Novendry)

Rektor UMRAH ramah tama dengan peserta KKN kebangsaan

 

Umrah UniversitasMahasiswa Universitas Raja Ali Haji (UMRAH) berbalas pantun pada acara ramah tamah di Hotel Comfort Tanjung Pinang, Kepri, Kamis (21/7) malam. (Foto:mda).

Rektor Universitas Raja Ali Haji (Umrah) Tanjung Pinang, Prof.    Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc, Kamis (21/7) menyambut resmi delegasi perguruan tinggi yang menghadiri KKN Kebangsaan IV yang dilaksanakan universitas yang dipimpinnya.

Dalam sambutannya, Akhlus menyebut, Dr.Hasrullah, M.A. dari Universitas Hasanuddin termasuk salah satu penggagas KKN Kebangsaan yang pada tahun ini empat kali dilaksanakan setelah pertama kali dilaksanakan di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan.

‘’Kali ini peserta datang dari Universitas Musamus Merauke hingga Unsyiah Banda Aceh di barat,’’ katanya.

Pada kesempatan itu Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Dr. H. Syamsu Qamar Badu, M.Pd yang perguruan tingginya me jadi tuan rumah pada pelaksanaan KKN Kebangsaan tahun 2017 menyebutkan, pada KKN Kebangsaan di Tanjung Pinang ini dia datang lengkap dengan tujuh dekan, sejumlah ketua dan wakil ketua lembaga serta wakil dekan. Ini menunjukkan keseriusan UNG menyiapkan pelaksanaan KKN Kebangsaan yang dihelat di bumi Gorontalo tahun depan.

Acara dimeriahkan dengan pembacaan gurindam 12 karangan Raja Ali Haji yang terkenal dilanjutkan dengan saling berbalas pantun yang dilakonkan oleh tiga orang mahasiswa.

Para peserta KKN Kebangsaan IV yang berjumlah 550 orang dari 39 perguruan itu, Jumat (22/7) akan mengikuti pembekalan di Hotel Sunrise City dengan materi pertama dibawakan Direktorat Belmawa Kemristekdikti, Dr.Hasrullah, M.A. (Penggagas KKN dari Unhas), Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Menko Maritim (tentatif) dan Rektor Umrah.

Pada hari kedua materi dibawakan Dan Lantamal IV, Kepala BNN Provinsi Kepri, Kajati Kepri, Kapolda Kepri Dinas Pariwisata Kepri. Pada hari Minggu, Tim Marine Preneurship, Dr.Febrianti Lestari, M.Si, Dr.Oksep Adhayanto, MH, Dr.Drs.Abdul Malik, M.Pd, dan Henra Kurniawan, S.Kom, M.Eng.

(Sumber : unhas.ac.id)

Akreditasi Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP UMRAH Harus Segera B

berita_291213_800x600_Kaprodi_IP_FISIP_UMRAH_-_Afrizal,_M.Si_

persma kreatif, Tanjungpinang : Program Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan (IP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang harus segera meningkat standar kualifikasi atau akreditasinya dari C menjadi B.

Hal ini mengingat, akreditasi C yang sudah disandang IP FISIP-UMRAH sejak 2011 silam sudah saatnya naik kelas, karena Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) hanya memberikan rentang waktu maksimal 5 tahun untuk prodi dapat meningkatkan dan membenahi sejumlah indikator guna memperoleh akreditasi B.

“Ada seratus indikator yang dinilai BAN PT agar akreditasi IP UMRAH ini meningkat menjadi B, dan kita selama dua tahun terakhir ini sudah menyiapkan untuk menggesa ke arah sana,” kata Afrizal, M. Si, Ketua Prodi IP FISIP UMRAH Tanjungpinang, usai menerima kunjungan 2 orang asesor dari BAN PT, di sekretriat FISIP UMRAH, Jumat (15/07/2016).

Menurut Afrizal, selama dua tahun terakhir seluruh civitas akademika baik mahasiswa, dosen, staf, bagian Tata Usaha dan alumni dilibatkan untuk melakukan perubahan dan peningkatan dari pelbagai lini yang ada. Termasuk penelitian-penelitian oleh mahasiswa dan dosen yang semakin diperbanyak untuk memenuhi indikator-indikator penilaian.

“Beban kita cukup berat, makanya kita siapkan betul-betul. Karena kalau tidak berubah, misalnya dalam rentang waktu tertentu tersebut kita masih C terus, maka izin prodinya akan dicabut, berat konsekuensinya. Tapi kita optimis target akreditasi B bisa terwujud, karena selama 5 tahun ini kita sudah mengalami banyak perubahan dan peningkatan,” ujarnya.

Dijelaskan, dari 100 indikator yang dinilai tersebut diantaranya adalah proses pengajaran, pengabdian dan penelitian mahasiswa dan dosen, sarana dan prasarana, kesesuaian visi misi dengan kurikulum, jumlah dan sebaran alumni yang terserap dunia kerja serta linearitas kualifikasi keilmuan dosen yang dimiliki dan sejumlah indikator lainnya yang harus dipenuhi.

Masih menurut Afrizal, peningkatan mutu atau akreditasi setiap prodi di universitas mutlak  harus diupayakan, terlebih lagi bagi UMRAH sebagai perguruan tinggi negeri yang terbilang baru untuk menuju perguruan tinggi terkemuka, maka sudah seharusnya terus meningkatkan kemampuan menata organisasi dan menyesuaikan dengan perkembangan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi global.

“Alhamdulillah hari ini puncaknya visitasi reakreditasi oleh tim asesor, mudah-mudahan kita dapat memenuhi minimal 310 poin untuk mendapat akreditasi B. Insyaa’Allah sebelum wisuda akhir tahun ini kita sudah menerima hasilnya dan nanti kalau berhasil kita akan umumkan saat wisuda,” pungkasnya.

Sementara itu 2 orang tim asesor dari BAN PT yang melakukan visitasi akreditasi di prodi Ilmu Pemerintahan FISIP UMRAH adalah Dr. adi Suryadi, MA (UNHAS) dan Dr. Tri Sulistyaningsih, M. Si (UMM). Keduanya berada di Tanjungpinang selama dua hari, 14 – 15 Juli 2016.
(Sumber: rri.co.id)

Sinetron Tiruan Rusak Moral Anak Bangsa

Komisi Penyiaran Indonesia harus memperkuat perannya dalam memberikan izin penyiaran di Indonesia. Khususnya sinetron tiruan luar negeri yang sarat akan keromantisan, kesadisan, dan perkelahian, agar tidak merusak moral anak bangsa.

tv1

Siang itu saya sedang asyik memainkan laptob  di kelas, tanpa sengaja saya dikejutkan dengan suara teman yang sedang memperdebatkan tokoh paling ganteng dalam sebuah sinetron. Sinetron Indonesia yang meniru film terkenal yang dibintangi oleh Kristen Jaymes Stewart, Robert Pattinson, dan Taylor Daniel Launter. Ialah Twilight, film yang mengisahkan cinta segitiga antara serigala, manusia, dan vampir.

Mereka asyik sendiri, tanpa memedulikan lingkungan sekitar. Suara mereka begitu kencang, mungkin terlalu bersemangat membahas salah satu episode sinetron tersebut. Bahkan mereka menjerit-jerit histeris berharap menjadi kekasih tokoh prianya. Sungguh berlebihan.

Saya sempat bertanya-tanya, apa yang membuat mereka histeris. Pantas saja mereka histeris, ternyata sinetron tersebut diperankan oleh tokoh yang lumayan ganteng-ganteng dan cantik-cantik.

Tiru meniru bukanlah hal yang mudah. Sutradara harus bisa membuat sinetron layak tayang di Indonesia. Sebab, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dan dikaji secara mendalam untuk memenuhi syarat penyiaran sebuah acara, yang ditanggungjawabi oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Sebagian orang beranggapan berhasilnya sebuah sinetron tiruan jika sutradara sanggup meniru seluruh adegan dalam film aslinya. Dalam hal ini meniru keromantisan, kesadisan, bahkan laga perkelahian.

Tentu saja anggapan ini salah, sebab hal tersebut tidak sesuai dengan kebudayaan di Indonesia. Dimana Indonesia sangat menjunjung kesopanan dan kekeluargaan. Pun, dalam pasal 36 ayat 1 UU Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran berisi “Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia.”

Jadi, tidak semua isi film dapat ditiru kembali dalam sinetron. Mengapa? Karena sudah ada kebijakan yang mengaturnya. Kebijakan ini dibuat untuk menayangkan hal positif sehingga mempertahankan moral bangsa Indonesia.

Sayangnya kebijakan ini tak diperhatikan oleh sang sutradara. Ia lebih fokus menjual hiburan demi tercapainya rating tertinggi. Bagaimana mungkin, sudah dua kali mendapat teguran oleh KPI tak ada tindakan nyata untuk menjawab teguran ini. Teguran pertama, terkait adegan salah satu karakter memakan kelinci hidup, dan teguran kedua tentang adegan laki-laki dan perempuan berpelukan mengenakan seragam sekolah.

Teguran kedua, tanpa kita sadari berbuntut panjang. Masyarakat seperti menjadi murid saat menonton sinetron ini. Aktor-aktor menjadi ‘guru’ yang ‘baik’ bagi mereka. Latar sekolahan membuat cara belajar mengajar lebih sempurna.

Jesica Mila, Kevin Julio, dan Ricky Harun tampak apik memainkan perannya. Mereka mencontohkan tidak memasukkan baju pada rok/celana, tidak memakai ikat pinggang, memakai kaos kaki warna-warni, memakai aksesoris berlebihan, memakai rok sepaha serta mengendarai kendaraan mewah ke sekolah dengan rambut diwarnai dan bergaya seperti model.

Sebagai orang berpendidikan kita akan bertanya sekolah gila mana yang mengizinkan muridnya seperti ini? Bagaimana bisa sekolah tidak mengajarkan sopan santun serta kedisiplinan kepada seorang murid? Orang tua mana yang mengizinkan anaknya pakai rok sepaha ke sekolah? Tentu masih banyak lagi pertanyaan yang akan terlintas dalam benak kita.

Belum selesai masalah pertama, muncul masalah berikutnya. Sang ‘guru’ kembali memberikan contoh baru, yaitu adegan mesra-mesraan di lingkungan sekolah. Berpelukan, berpegangan tangan, bahkan mencium kening lawan jenis, dilakukan saat berpakaian seragam sekolah. Padahal dalam kehidupan nyata, sekolah tidak mengizinkan pelajar berpelukan atau bahkan mencium kening lawan jenis di lingkungan sekolah.

Maksud hati ingin menghibur masyarakat dengan suguhan sinetron kekinian. Tapi yang terjadi sebaliknya, sinetron ini justru merusak moral bangsa. Bagaimana tidak? Kini remaja Indonesia khususnya pelajar merasa bangga ketika datang ke sekolah menggunakan kendaraan pribadi, bangga mengenakan seragam yang tidak rapi, bahkan bangga melanggar peraturan sekolah.

Tak hanya pada pelajar, dampak negatif juga dirasakan oleh anak-anak. Setiap malam selesai sinetron ini ditayangkan, anak-anak di sekitar rumah saya berkejar-kejaran, berkelahi, dan berteriak menirukan suara lolongan serigala. Dengan bangga mereka mereka ulang sinetron yang baru selesai ditonton. Hal ini sungguh memperihatinkan, perlahan moral mereka terkikis. Mengapa? Sebab mereka bangga mencontoh hal-hal yang tak patut dicontoh.

Namun tetap saja sinetron ini ditayangkan di Indonesia, bahkan ada lanjutannya. Meskipun akhirnya mereka menyerah tetapi tetap saja pikiran masyarakat Indonesia khususnya moral anak bangsa sudah dikotori dengan adegan dalam sinetron tersebut.

Saya bertanya-tanya keheranan apakah sutradaranya bodoh atau memang sengaja membuat bodoh penonton dengan sinetron tiruan yang dibuatnya? Atau masyarakat Indonesia kurang hiburan sehingga sinetron ini menjadi tontonan keluarga? Seharusnya sutradara menciptakan tayangan sesuai dengan kebijakan yang berlaku di Indonesia, sehingga tidak membodohi dan merusak moral penonton.

Indonesia harus terbebas dari sinetron yang tidak bermoral, sebab sinetron diatas hanyalah salah satu contoh. Kalau kita perhatikan masih banyak sinetron lain yang menayangkan hal serupa. Hal-hal yang tak patut ditonton dan ditiru penonton.

Peran keluarga sangat diperlukan dalam hal ini. Orang tua harus mendampingi anaknya ketika menonton dan memberitahu saat ada adegan yang tidak pantas ditiru. Terkhusus dalam sinetron yang berkatagori bimbingan orang tua. Hal ini bertujuan agar anak tidak meniru adegan yang tak patut.

Selain itu, KPI perlu menguatkan kembali perannya sebagai penyelenggara izin penyiaran di Indonesia. Teguran-teguran yang sudah diberikan seyogyanya terus diikuti dengan kepastian pelanggaran yang terjadi tidak akan terulang kembali oleh sutradara. Hal ini harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh demi kebaikan masyarakat Indonesia.

Pun, harus ada hubungan timbal balik yang erat dalam mengatasi masalah ini, baik dari sisi penyiar dan penonton. Jadi, sebagai masyarakat kita tidak hanya menikmati sinetron yang disuguhkan oleh sutradara namun harus memilah sinetron yang layak ditonton dengan mengandung unsur edukatif, informatif, dan entertain. Jika bertentangan, kita berhak melaporkannya ke KPI untuk segara ditindaklanjuti.

Ini merupakan tugas bersama untuk memastikan sinetron yang ditayangkan layak ditonton. Sehingga sutradara tersebut dapat meninggkatkan kualitas karyanya dan menataati peraturan. Pun, tujuan KPI tercapai untuk menampilkan tayangan yang layak dalam dunia penyiaran Indonesia.

Penulis adalah mahasiswa sisiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(beto)

Malas Gerak, Keberlanjutan Moral Subsisten yang Perlu Dilawan

Mager (malas gerak) atau secara psikologis disebut procrastinatingsedang populer di kalangan anak muda, tidak terkecuali mahasiswa. Kata mager kerap kali digunakan kawula muda untuk mengekspresikan kemalasan dalam berbagai konteks, seperti menunda atau kilah untuk enggan melakukan sesuatu.

Mager dalam konteks tugas akademik maupun organisasi seringkali berujung pada kata deadliner. Tugas yang diembankan kepada mahasiswa pun tidak jarang ditunda, santai-santai di awal; sibuk menghabiskan waktu bersama teman, menonton film, bermain gawai, baru kemudian menggeliat memburu waktu saat mendekati batas akhir.Toh pada akhirnya kelar juga.

Mager dan deadliner pun menjadi dua perpaduan serasi, yang bila dibiarkan, dapat menggerus sisi idealis dan ambisi perfeksionis mahasiswa.

Secara historis, mager memiliki keterkaitan erat dengan perilaku subsisten. Seorang sejarawan, James C. Scott dalam bukunya The Moral Economy of The Peasant, Rebellion, and Subsistence in Southeast Asia mengemukakan bahwa etika subsistensi membawa masyarakat, di Asia Tenggara umumnya, untuk bertahan hidup dalam kondisi minimal.

Asia Tenggara memang seolah-olah dianugerahi Tuhan daerah yang subur. Karena itu, banyak masyarakatnya yang menggantungkan hidup pada alam, seperti bertani. Anthony Reid dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah di Bawah Angin menyatakan, iklim Asia Tenggara lunak dan makanan pokoknya, seperti beras, ikan, serta buah-buahan juga tersedia secara lebih pasti dibandingkan dengan sebagian besar wilayah lain di dunia.

Karenanya, orang Asia Tenggara mempunyai keuntungan alamiah untuk bebas dari perjuangan terus-menerus dalam mempertahankan kehidupan.

Perilaku subsisten muncul sebagai respon atas kemudahan yang ada tersebut. Keuntungan alamiah yang diterima oleh orang Asia Tenggara membuat masyarakatnya cenderung menggantungkan diri pada kemudahan yang dari dulu ada dan cukup puas dengan pencapaian minimum; yang penting hidup hingga esok hari.

Kini, saat kondisi sosial-budaya sudah berbeda, perilaku subsisten masih langgeng diterapkan dalam bentuk keinginan untuk tetap berada di zona nyaman, cenderung malas bergerak, dan menantang arus. Mager bisa jadi merupakan jelmaan dari perilaku subsisten yang sudah bercokol di masyarakat kita sedari dulu.

Melanggengkan perilaku subsisten semacam itu mengandung risiko. Anthony Reid, dalam karyanya, pernah mengingatkan: masyarakat di Asia Tenggara menjadi komunitas yang pasif.

Menurutnya, bukan tidak mungkin, motif utama kedatangan bangsa lain ke Asia Tenggara awalnya untuk mendapatkan sumber pangan yang melimpah.

Pada fase kemudian, bangsa-bangsa Eropa ingin mendapatkan tenaga masyarakat Asia Tenggara yang sebagian besar tidak terpakai karena iklim yang sudah memanjakannya dengan limpahan sumber bahan makanan.

Jika manusia kita, terutama generasi muda tetap mempertahankan pola berperilaku subsisten yang dibawa oleh nenek moyang dalam bentuk mager dan deadliner, bukan tidak mustahil, ancaman dari bangsa luar akan berdampak buruk bagi bangsa kita.

Belajar dari Eropa

Bicara soal mengantisipasi mager, kita harus terinspirasi oleh Max Weber, yang melalui Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, ia mencoba menjabarkan bagaimana semangat bekerja membawa bangsa Eropa menuju kemakmuran.

Etika protestan yang dikembangkan oleh Calvin tumbuh subur di Eropa kala itu, dan memunculkan ajaran: jika seseorang berhasil dalam kerjanya, hampir dapat dipastikan ia ditakdirkan menjadi penghuni surga, namun jika sebaliknya, dapat diperkirakan seseorang itu ditakdirkan untuk masuk neraka.

Doktrin Protestan tersebut telah berimplikasi serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan, yaitu etos yang berkaitan langsung dengan semangat bekerja keras untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan.

Semangat bekerja yang dipaparkan oleh Weber itu bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda kita. Betapa tidak, pada Bab V, “Askese dan Spirit Kapitalisme”, Weber dengan jelas memberikan gambaran mengenai bagaimana masyarakat Eropa saat itu memegang prinsip yang baik dalam kaitannya dengan alokasi waktu.

Mereka menganggap membuang-buang waktu merupakan dosa pertama dan secara prinsip sebagai dosa paling mematikan. Kehilangan waktu melalui sosialitas, pembicaraan tidak menentu, kemewahan, bahkan tidur terlalu banyak dari yang semestinya bagi kesehatan, merupakan kesalahan-kesalahan moral yang absolut.

Karya Weber tersebut bisa jadi merupakan tamparan keras bagi masyarakat Asia Tenggara, termasuk kita, yang menurut Scoott cenderung santai dan puas dengan hasil yang minimum.

Apalagi, jika kita kembali melongok istilah mager yang akhir-akhir ini digaungkan oleh anak muda. Anak muda kita terkesan menggampangkan sesuatu. Seolah-olah tidak perlu berupaya maksimal karena sudah barang tentu dapat meraih keadaan minimal yang kita harapkan.

Hal itu sungguh sangatlah berbanding terbalik dengan penjelasan Weber yang menyatakan, “mereka yang tidak bekerja tidak berhak mendapatkan makan, berlaku tak terkecuali bagi seluruh manusia”. Artinya, tidak ada pencapaian yang pantas diterima oleh para pemalas dan tukang mager.
(beto)

Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi yang Ternodai

 

kebebasan-pers-620x330Secara prinsip, penyelenggaraan Pendidikan Tinggi adalah sebagai pencarian kebenaran ilmiah oleh Sivitas Akademika. Pendidikan Tinggi didirikan juga sebagai pengembangan budaya akademik dan pembudayaan kegiatan baca tulis bagi Sivitas Akademika. Jika salah satu oknum (Termasuk juga birokrasi kampus) membatasi kegiatan akademik, maka sama halnya ia menodai prinsip penyelenggaraan pendidikan tinggi, menodai Undang-Undang Pendidikan Tinggi yang menjadi pedoman berdirinya kampus.

16 Oktober 2015, Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) beserta jajarannya menarik majalah yang dihasilkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lentera dengan judul “Salatiga Kota Merah”. Brirokrasi kampus menarik majalah Lentera tanpa melalui kajian yang mendalam terlebih dahulu. Melainkan mereka hanya melakukan justifikasi semata, yaitu dengan menganggap bahwa informasi dari narasumber majalah kurang valid tanpa adanya narasi ilmiah. Birokrasi kampus UKSW juga menyampaikan melalui lisan, bahwa majalah Lentera harus ditarik agar menjaga masyarakat tetap kondusif.

Majalah Lentera ditarik oleh birokrasi kampus, bahkan krunya diintrograsi oleh polisi karena mereka mengangkat peristiwa berdarah 1965. Kajian tentang peristiwa 1965 tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) di kampus dipersoalkan, bukan pertama kali di Salatiga. 11 Maret 2015, Fron Perjuangan Demokrasi Yogyakarta yang terdiri dari organisasi gerakan mahasiswa yang difasilitasi oleh LPM Rhetor UIN Sunan Kalijaga, kegiatan diskusi dan pemutaran film senyap (The Look of Silence) dihentikan oleh Rektor saat itu, Ahmad Minhaji dan berusaha dihentikan oleh organisasi masyarakat yang menamakan Forum Umat Islam (FUI), namun acara tetap berjalan hingga selesai.

Penarikan karya tulis mahasiswa yang berupa buletin juga sempat dialami oleh LPM Ekpresi UNY. Tepatnya pada 24 Agustus 2014, 150 buletin Expedisi Lpm Ekspresi yang mau didistribusikan ke GOR UNY ditarik langsung oleh Rektor UNY, Rochmad Wahab dengan melalui tangan Wakil Rektor III UNY. Apa yang dilakukan oleh Rektor UNY tentu tidak melakukan kajian terlebih dahulu tentang isi buletinnya, dan serta merta menarik buletin Expedisi.

Lain lagi dengan kasus yang dialami oleh LPM Ideas. Salah satu krunya, Rosy Dewi Arianti Saptoyo mendapatkan ancaman dan intimidasi dari Pembantu Dekan (PD) III Fakultas Sastra Universitas Jember (FS UJ), Wisasongko. Dia diancam oleh PD III, beasiswanya bidik misi akan di bekukan sambil menghina Dewi. “Kamu itu miskin gak usah macam-macam.” Kata wisasongko. Dewi diintimidasi oleh PD III karena ia anggota dari LPM Ideas. Wisasongko tanpa melakukan hak koreksi, dia menyatakan kepada Dewi bahwa buletin Partikelir edisi Mafia Dana Praktikum Mahasiswa ini tidak berimbang dalam pemberitaan.

Berkali-kali birokrasi kampus telah menodai prinsip penyelenggaraan Pendidikan Tinggi, yaitu dengan membatasi bahkan tidak melindungi kegiatan mahasiswa hingga membredel karya tulis mahasiswa. Karya tulis yang menggunakan metode yang jelas untuk mengungkap kebenaran suatu fakta tidak bisa serta merta diberedel atau ditarik oleh birokrasi kampus dan oknum mana pun. Apalagi menarik karya tulis mahasiswa tanpa ada kajian terlebih dahulu secara tertulis, merupakan sebuah kemunduran dalam budaya akademik. Mengingat jika karya tulis mahasiswa mendapatkan kesalahan, birokrasi kampus harus melakukan kajian ataupun sanggahan melalui tulisan. Jika birokrasi kampus atau oknum mana pun yang menarik karya mahasiswa dari peredaran, tanpa ada kajian ilmiah, maka mereka menodai prinsip penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berlaku kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan otonomi keilmuan. Hal itu sudah diatur dalam Undang-Undang Pendidikan Tinggi Nomor 12 Tahun 2012. Pada bagian kedua pasal 9 (3) dijelaskan, otonomi keilmuan merupakan otonomi Sivitas Akademika pada suatu cabang Ilmu Pengetahuan dalam menemukan, mengembangkan, mengungkapkan mempertahankan kebenaran ilmiah menurut kaidah, metode keilmuan, dan budaya akademik. Aktivitas pers mahasiswa termasuk juga otonomi keilmuan, mempunyai kaidah dan budaya akademik yang jelas, yaitu melakukan aktivitas jurnalistik