Mengenal Berbagai Rupa Kekerasan dalam Sejarah Indonesia

gambra

Judul                     : Jurnal Sejarah histma: Wajah Kekerasan Masa Lalu

Penulis Konten       : Iqbal Rizaldin, Dhimas Difka S., Satrio Dwicahyo, Siti Utami Dewi Ningrum,  D                                                   imas Fadillah Putra, Iqbal Awal, Adhi Pandoyo
Penerbit                   : Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah FIB UGM, Jl. Nusantara 1 Bulaksumur                                                      Yogyakarta.
Tahun Terbit           : 2013
Tebal                       : iv+79 halaman
Harga                      : Rp 15.000

 

Dalam proses mempelajari sejarah, kisah-kisah yang paling menarik untuk ditelisik adalah yang melibatkan tragedi. Kebiadaban manusia yang telah menjadi cerita masa lalu bisa menjelma momok sekaligus candu dalam pikiran. Membuat setiap orang ingin mengetahui sebab-sebab hal itu terjadi, sambil berharap di masa kini tak terjadi lagi. Namun nyatanya kekerasan ada dari masa ke masa. Dalam berbagai bentuk. Dan sering hal itu menjadi benang merah antara pendahulu kita dengan masyarakat masa kini. Ide tentang kekerasan mengendap dalam pikiran, kemudian berevolusi menjadi beragam sistem yang mungkin kini kita kenal dengan nama berbeda, namun sejatinya hal tersebut telah ada berabad lalu.

Sangat menarik untuk mempelajari sedikit sejarah mengenai kekerasan dalam berbagai bentuknya di Indonesia. Jurnal sejarah histma terbitan Badan Keluarga Sejarah FIB UGM Vol.3/Desember 2013 lalu khusus mengulas mengenai topik ini dalam beberapa artikel. Terdiri dari 4 jurnal, 2 artikel opini, dialog dan resensi buku, terbitan ini mencoba menguak wajah-wajah kekerasan di Indonesia di berbagai masa.

Masa kolonial dan revolusi masih mendapat porsi kajian yang cukup banyak mengingat waktu itu kekerasan yang dilancarkan terhadap kaum pribumi telah menjadi keseharian. Sisi lain kolonialisme menunjukkan kekerasan berbasis budaya patriarki yang sangat merugikan kaum wanita (Sarina dan Tentara Kolonial: Kekerasan Terhadap Nyai Tangsi pada Masa Kolonial Hindia Belanda di Jawa). Selain itu, di sela-sela revolusi ternyata ditemukan kisah kelam dari kaum minoritas Tionghoa yang (masih saja) menanggung stigma negatif hingga mendorong terbentuknya organisasi paramiliter untuk melindungi mereka (Pao An Tui di Dua Kota dalam Kancah Revolusi Indonesia).

Kekerasan rupanya tak hanya mewariskan kisah yang dituturkan maupun dituliskan, namun juga terekam dalam karya seni. Seni rupa dan sastra tak bisa dimungkiri pernah menjadi salah satu wadah aspirasi saat suara kaum bawah dibungkam. Hingga kini, getaran rasa dari beberapa karya estetis seniman Indonesia tersebut seolah rekaman luka dari masa lalu. (Ketika Seni Merekam Luka: Seniman Indonesia Pasca Kolonial dan Konteks Karyanya).

Dan siapa tahu kalau Indonesia telah akrab dengan terorisme atas nama agama jauh sebelum peristiwa Bom Bali? Terorisme atas nama agama di Indonesia agaknya dipicu oleh kebangkitan organisasi sayap kanan kala mereka diberi ruang untuk menjadi attack dog dalam pemberantasan komunis. (Teror di Masa Aman: Terorisme di Indonesia 1978-1985)

Karya-karya ilmiah dengan sudut pandang yang cukup menarik tersebut dibangun dengan kerangka referensi dari beragam karya tulis. Sumber sekunder memang menjadi alternatif utama dalam penyusunan fakta sejarah yang terjadi puluhan bahkan ratusan tahun lampau. Namun penggunaan tutur dari aktor yang terlibat akan menghasilkan kisah yang lebih mengena. Hanya satu jurnal yang menggunakan data wawancara dengan pelaku yang masih hidup. Tak terlalu jadi soal, menyusun sejarah yang terpenting adalah akurasi fakta-fakta sosial berdasar sumber yang terpercaya.

Usai menyelami empat kisah sejarah, jurnal ini masih menawarkan tulisan-tulisan yang menggelitik pemikiran lewat opini dan dialog. Bagaimana militerisme di masa lalu menjelma premanisme di masa kini. Bagaimana seorang pahlawan republik harus tamat riwayatnya dengan terhina akibat satu pemberontakan atas nama ideologi. Dan akhirnya tetap ada pertanyaan besar yang terus menghantui setiap orang yang memiliki nurani. Mengapa kekerasan selalu menampakkan wajahnya yang paling kejam pada rakyat kecil yang tak berdaya?

Terlepas dari segala kekurangannya, termasuk tampilan yang menurut saya kurang menarik, jurnal histma ini patut menjadi bacaan bagi para peminat ilmu-ilmu sejarah, sosial, dan politik.

(Beto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *