Tentang Kegelisahan

 

Hidup baru menjemputku selepas dari Buru. Nyala terang dunia gemilang sesekali menyilaukan pandang. Sepagi ini ada nyata yang menyemat perih; geliat dari mereka yang berkontestasi diatas panggung merah putih. Sesiang ini ada yang membuatku tersadar; ingatan tentang sejarah berlumur darah yang semakin memudar. Sesore ini ada harapan yang kemudian putus terbakar realita; kesejahteraan yang hanya menjadi utopia.

Tentang kegelisahan. Tentang kegelisahan.

Aku manusia bebas, namun mengapa serasa ada batas? Antara aku dan mereka, hanya predikat manusia yang membuatku ada walau bias terasa. Inikah hidup yang dijanjikan Tuhan? Benarkah aku seorang yang tidak bersih lingkungan? Berkawan pun menjadi hal yang sangat sulit aku wujudkan. Apalagi keharmonisan dalam bermasyarakat, hingga berkarat tak akan pernah aku dapat.

Tentang kegelisahan. Tentang kegelisahan.

Palu tak lagi menyatu dengan arit yang berbentuk bulan sabit. Bintang merah pun tak lagi bersinar ditengah hingar bingar yang gelisah ditawan saudagar. Sejarah yang berlumur darah seakan enggan untuk dijamah. Bicara hak asasi manusia, hanya akan mengundang gelak tawa dari mereka yang menelan konstruksi sejarah dari Paman Gober. Waktu hanya dapat membatu, membisu hingga tubuh ini kaku.

Tentang kegelisahan. Tentang kegelisahan.

Apa yang aku cari di dunia yang kian hari kian tak berperi? Apa yang aku dapat dari dunia yang pekatnya semakin menjerat? Apa yang dapat aku harapkan dari pemerintah?
Aku hanya ingin hidup, seperti manusia tanpa perlu meredup.
Aku hanya ingin bebas, dari konstruksi sejarah yang tidak pernah jelas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *