KISAH PILU SEORANG PEJUANG BERSAMA ‘MAP KUNING NYA’

 

 

Sebuah karya curahan hati, yang kutujukan kepada para ‘kaum pengajar’ yang terhormat . Tanpa ada unsur SARA, menjelekkan pihak tertentu, apalagi sampai menyinggung. Ini hanya celotehan dari seorang yang sedang dalam proses penyelesaian studinya, yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan, yang banyak kekurangannya. Mohon segala kritik dan sarannya demi menunjang terciptanya masyarakat yang aman, damai, sejahtera, dan bisa tidur dengan nyenyak bersama seluruh tugas akhirnya. Selamat menikmati bagi yang menghargai, dan selamat sakit hati bagi yang tidak paham makna ini. Hehe  (Somewhere in this earth, 26 Oct ’14 ; 11pm)
SenandungSenja~

Hari ini, ternyata masih sama seperti hari kemarin. Langkahku masih gontai, masih malas rasanya menjejakkan kaki ini ke tanah. Pemandangan indah di kiri dan kanan diri pun seolah tak menarik buatku. Padahal begitu banyak keindahan yang cukup bisa membuatku tersenyum simpul atau sekedar membuat mataku segar.

Masih jelas terbayang, dua hari yang lalu semangatku begitu berapi-api menyelesaikan ini. Dengan sejumlah dopping (roti, kerupuk beras, kopi susu, teh hangat, serta semangkuk mie instant), mata ini tak lepas dari layar laptop kreditanku. Konsentrasi begitu penuh rasanya kutuangkan saat aku melakukan ini. Sesekali kulirik BB dan handphone senterku, apakah ada pesan penyemangat dari orang terdekatku. Ya, karena selain doa dan semangat dari orangtuaku, support dari sang pacar juga menjadi salah satu hal yang paling berpengaruh dari proses ini.

“Latar belakang, Rumusan masalah, Kajian teori, blablabla…” Oke, selesai. Tinggal di ajukan saja esok. Ah, rasanya begitu tidak sabar menunggu hari esok. Menunggu keputusan dari hasil jerih payahku.

 

Apapun hasil keputusannya, mentalku sudah harus siap menerimanya. Revisian judul sudah jadi ‘kunyahan’, penggunaan teori yang diluruskan sudah jadi ‘cemilan’, dan data yang lengkap juga mutlak harus jadi ‘main course’ didalam proses penyakralan benda ini.

Hari yang ditunggu tiba. Dengan kemeja biru, jeans panjang, dan sepatu ketsku, aku terlihat percaya diri. Ditambah lagi dengan ‘Map Kuning’ yang kupeluk. Kuakui, agak sedikit gemetaran langkahku saat menyusuri anak tangga fakultasku. Ditambah lagi keringat dingin yang sudah mulai berdatangan saat kubuka pintu ruangan jurusanku.

“Permisi,”..  Ujarku.

“Eh iya, silahkan masuk”. Sahut ‘Petinggiku’

“Ini tugas saya. Sudah saya revisi sesuai arahan. Mohon bimbingannya” Ujarku lagi.

“Oke kamu tinggalkan saja dulu disini, nanti saya baca. Karena saya sekarang sedang ada urusan jadi mungkin tidak bisa saya periksa sekarang.” Tegasnya dengan wajah yang flat dan acuh tak acuh.

“……. (speechless beberapa saat ). Oh, baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak. Saya permisi dulu.” Kataku dengan intonasi kecewa yang tak bisa lagi kututupi.

Akupun keluar ruangan dengan wajah yang tertunduk lemas, bak sehabis digantungkan perasaannya terhadap manusia yang dicintainya. (Loh ?! PHP Maksudnya ?! Zzzzzzz)

Dua hari telah berlalu, aku kembali ke Gedung megah ber-genre Negeri yang bermacam ragam pemandangan disekelilingku. Sesekali aku tersenyum kepada teman-temanku, dan kembali memasang wajah flat plus bimbang karena masih shock akibat tragedi eksekusi ‘map kuning’ku…

Tok..tok..tok.. Kembali aku mengetuk pintu ruangan ‘suci’ itu.

 

“Permisi, saya mau bertanya. Tugas saya yang tempo hari bagaimana ya kelanjutannya ? Apakah sudah dibaca lalu dikoreksi ?” Tanyaku pada salah satu petugas jurusanku.

“Tugas yang mana ya ? Atas nama siapa ? Kamu ? Emang yakin kamu punya bakalan dibaca ? Yakin kamu bakalan lulus ?” Jawab petugas tersebut sembari melempar senyum sinis.

Jlebb! Seolah ada kapak 212-nya wiro sableng yang menancap direlung dada ini. Nyerinya Tuhan !!!!  Kali ini aku kembali dibuat speechless (lagi).

“Hehehe, ya yakin dong. Ini kan sedang dalam proses menuju kelulusan. Pelan-pelan dong biar hasilnya maksimal. Ya kalopun saya ndak lulus, urusan saya sama hidup saya dan Tuhan, toh ?!” Ujarku sembari menahan kesal.

“Hahaha, baiklah. Oh ini punyamu. Belum dibaca kelihatannya. Beliau sedang banyak kerjaan. Jadi kamu mesti sabar ya.” Kata si petugas tesebut sembari memilah-milah ‘map kuning’ yang berbaris panjang dalam laci filling cabinetnya.

“Baik. Terimakasih banyak.” Ujarku sambil membuka pintu lalu keluar dari ruangan.

Rasanya cepat sekali 1 minggu berlalu. Dengan tak bosan-bosannya, aku kembali lagi ke tempat bersejarah ini.

Tok..tok..tok.. Kuketuk lagi pintu ruangan itu.

“Permisi, saya balik lagi nih. Gimana, sudah ada perkembangan dari tugas saya ? Sudah hamper 2 minggu saya tinggalkan soalnya.” Tanyaku pada petugas yang sama tempo hari.

 

 

“Oh, kamu lagi. Sebentar saya cek.”Jawabnya sambil mengobrak abrik isi dalam tumpukan ‘map kuning’ yang berjejer diatas mejanya.

Berjejer, ya bertumpuk juga lebih tepatnya. Aku curiga, jangan-jangan malah ada yang sampai berdebu atau bersarang laba-laba. Hahaha 😀

“Ini punyamu. Sudah diperiksa, sudah diberi pembimbing tetap juga, dan sudah ada revisiannya lagi ya. Hahaha” Ujarnya sambil kembali duduk ke mejanya.

“Alhamdulillah, setidaknya mulai ada titik terang dari ini semua. Ya, paling tidak melihat coretannya saja aku sudah bahagia. Bagaimana lagi jika kulihat tanda tangannya yang meng-acc untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Bisa sujud syukur aku diatas atap gedungku. Se-excited itu kah ? YA !

Singkat cerita, hari sakral itu akan segera  tiba. Rekan-rekan yang berjuang sepertiku, lebih dulu menjadi A Lucky Person. Sudah mulai persiapan fitting kebaya, membeli jas, menyewa toga, dan hal-hal yang membuatku menangis di pojokan kamarku. Aku lihat ada rona bahagia diwajah mereka. Aku fikir, mereka adalah rekan ‘Satu Ibu’ku. Rupanya tidak, mereka adalah anak ‘Ibu sebelah’. Setelah kutelisik, anak-anak ‘Satu Ibu’ku , yang menyewa kebaya dan jas, bisa dihitung menggunakan jari jumlahnya, dan dari ‘Bapak’ yang berbeda pula. Se-miris itukah ?! YA ! Ckckckckc…

“Belum barengan kita tahun ini ?!” Teriak satu rekanku disaat H-2 menuju prosesi ‘penyakralan’ mereka.

“Belum nih. Masih proses penyelesaian.” Jawabku sembari menggenggam erat ‘Map Kuning’ku.

“Oh oke deh. Eike duluan lah ya cyiiinn.” Ujarnya sambil tertawa girang riang gembira ala mak lampir agaknya.

 

Aku tak menjawab, aku teruskan langkahku menuju tangga gedung sambil terus mengepit dan memandang miris ‘map kuning’ku.

“Heh, kamu napain disini ?! Belum sama mereka disana ?!” Kata seorang ‘Petinggi’ yang belum kulihat wajahnya dan baru kedua kakinya yang bersepatu yang kupandang.

“Eh anu…itu.. belum sekarang !!!!” Teriakku kencang dengan nada terkejut hingga terjatuhlah ‘Map Kuning’ bagian dari hidupku itu………

 

 

To be continued…..

 

Penulis :  Irma sari mahasiswa sosiologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *