BJ Habibie 80 tahun: semangat tetap menyala

20150130213
Presiden RI ke-3 BJ Habibie

Jakarta (ANTARA News) – Tidak banyak orang dikaruniai usia panjang sampai 80 tahun dalam keadaan sehat dan bersemangat, tetap bermakna bagi sesama. Di antara yang sedikit itu adalah Prof. Dr. Bacharuddin Jusuf Habibie, presiden ketiga Republik Indonesia. Sabtu, 25 Juni, 2016, ia genap berusia 80 tahun, dirayakan dengan acara buka bersama anak, cucu, menantu, kerabat dan teman-teman dekatnya.

Di antara tamu dalam acara bukber (buka puasa bersama) itu adalah Presiden Jokowi (Joko Widodo) dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla, ekonom senior dan mantan menteri jaman Orba, Prof. Dr. Emil Salim dan ustadz terkenal dan mantan menteri agama, KH Prof. Dr. Quraish Shihab.

Pak Habibie atau Pak BJH, begitu ia biasa dipanggil oleh anak buahnya, atau Mas Rudy (atau Rudy saja) oleh kerabat dan teman-teman dekatnya tampak ceria dan seperti biasanya: semangatnya menyala-menyala.

Bukber itu diawali oleh sholat Magrib bersama di ruang perpustakaan pribadi BJ Habibie yang dipenuhi buku-buku yang ditata rapi di rak-rak tinggi, menempel di dinding. Pak Habibie, sholat dengan disediakan kursi untuk duduk, menempati shaf pertama di belakang imam bersama Pak Jokowi, Pak JK, Pak Emil Salim dan Pak Quarish Sihab.

Makmum sholat itu termasuk Ical Bakrie, pengusaha dan mantan Ketum Golkar, Prof. Dr. Jimly Assidiqi, Ketum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia), para mantan pejabat teras Kemenristek/BPPT, IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia atau DI) dan sejumlah mantan pengurus dan aktivis ICMI.

Ribuan orang (atau minimal ratusan-jumlah persisnya perlu dicek lagi) hadir, baik yang diundang maupun hadir sendiri secara suka rela, memenuhi kompleks rumah pribadi Pak Habibie yang besar, meluber sampai ke halaman dan Jalan Patra Jasa, kompleks Pertamina, Kuningan, Jakarta Selatan.

Singkat kata: suasana khidmat di ruang sholat dan meriah di beberapa ruangan dan halaman di mana tersaji aneka macam makanan dan minuman untuk berbuka, di sela-sela karangan bunga ucapan ulang tahun.

Karena banyaknya hadirin, sholat berjamaah dilakukan secara bergantian di ruang perpustakaan, yang pada hari-hari biasa dipakai untuk menerima tamu dan berdiskusi, itu dengan berbagai maket bermacam jenis pesawat terbang tertata rapi di atas meja. Maklum, Pak Habibie adalah seorang perancang pesawat terbang kelas dunia.

Hadirin sore itu adalah tokoh-tokoh dan anggota masyarakat biasa multi lintas: usia, jender, suku/etnis, budaya, agama, politik dan profesi, baik dari dalam dan luar negeri. Di antaranya, tampak Sukmawati Sukarnoputeri, putri Bung Karno, Mien Uno, Romo Frans Magnis Suseno, Dubes Jerman, Georg Witschel.

Banyak orang muda hadir. Maklum, mereka juga diundang bersama para penonton film “Rudy Habibie” produksi Manoj Punjabi (MD) Picture, yang sebelumnya memproduksi “Habibie-Ainun”, film terlaris Indonesia. Habis “nobar” (nonton bareng) mereka diajak berbuka puasa di rumah.


Selalu berprasangka baik

Apa rahasia Pak Habibie tetap tampak sehat dan bersemangat menyala pada usia 80? Tentu, itu berkat dijaga oleh sejumlah dokter, termasuk tim dokter kepresidenan, dan (dulu) diawasi ketat oleh dokter pribadi, yakni istrinya sendiri Dr. Hasri Ainun Habibie. Ia juga rajin olah raga, terutama berenang di kolam renang rumahnya. Masih kuat berenang satu jam non stop.

Tetapi, yang tak kalah penting, menurut pengamatan saya, adalah sikap hidup Pak Habibie yang selalu optimistis, berpikir positif, berprasangka baik terhadap semua orang dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritualnya, yakni dengan rajin beribadah, sholat tahajud, dzikir, mengaji, berpuasa dan berdoa.

Pak Quraish Sihab waktu memimpin doa pada acara HUT itu memohon kepada Allah agar Pak Habibie dikaruniai panjang usia dan kesehatan agar dapat terus berkarya untuk bangsa Indonesia. Pak Quraish juga mengungkapkan bahwa orang yang bisa mencapai usia 80 tahun, semua dosanya diampuni Allah dan jika bisa sampai berusia 90 tahun, ia diberi karunia untuk memintakan ampun atas dosa anggota keluarganya. Serentak hadirin menyahut: “Amiieen”.

Habibie yang didoakan itu tampak bahagia, penuh syukur. Ia segera memotong tumpeng. Potongan pertama diberikan kepada Pak Jokowi dan yang kedua untuk Pak JK.

Habibie bukan hanya berpikir positif, berprasangka baik dan rajin berdoa. Tetapi, ia juga terus membaca, menulis, bekerja dan berkarya yang bermakna untuk orang banyak, terutama Indonesia. Salah satu contohnya, adalah rancangan pesawat terbang baru, R 80.

Memang sepeninggal istri yang sangat dicintainya (tahun 2010), kesehatan Pak Habibie tampak menurun. Agar tidak larut dalam suasana sendu-rindu, ia menulis sejumlah buku, termasuk yang kemudian difilmkan itu. Menurunnya kondisi kesehatan itu normal, alamiah, sejalan dengan bertambahnya usia.

Tentang kesehatannya, ia sering bilang dengan semangat tinggi: “Saya ini sudah 80 tahun”. Itu diucapkannya sejak beberapa tahun sebelumnya seraya menambahkan; “80 kurang satu, dua, tiga”. Ia pun lebih senang dipanggil “eyang” (kakek) oleh generasi muda, termasuk oleh Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari, masing-masing pemain Habibie dan Ainun dalam film.

Ketika sejumlah media sosial mengunggah hasil penelitian bahwa BJH orang ber-IQ tertinggi di dunia, yakni 200, di atas Albert Einstein, ia tampak tidak begitu peduli. “Bagaimana tahu, IQ saya di atas Einstein? Saya sendiri tidak pernah diukur untuk itu?,” komentarnya singkat. Ia tidak berkomentar atas penilaian banyak orang yang menyayangkan Indonesia tidak memanfaatkan dirinya, yang diakui oleh dunia.

Juga waktu diberitakan bahwa penghasilannnya bertambah belasan miliar rupiah setiap bulan berkat royalti hak paten atas puluhan temuannya di bidang iptek di dunia, ia hanya mengangkat bahu. “Bagaimana mereka tahu, saya tidak pernah ditanya? Kalau itu betul, saya tidak perlu kesana-kemari mencari dukungan finansial untuk biayai program R 80,” katanya.

Yang terjadi adalah: sejak diberitakan penghasilannya terus naik, ia kebanjiran proposal minta sumbangan, termasuk untuk renovasi rumah. Atas kritik (dan sebagian fitnah) terhadap dirinya selama ini, Habibie hanya berkomentar: “Terima kasih telah sudi memikirkan saya”.

“Quatsch, Quatsch” (non sense, omong kosong), tukas Habibie ringkas, dalam bahasa Jerman seraya tertawa tergelak dengan sinar mata menyala seperti biasa.

Bahasa Indonesia layak di Prioritaskan untuk Kawasan ASEAN

13308715_1756373734641917_6254894949759588955_o-1024x682Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji, Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc. (f. istimewa)

Bahasa Indonesia layak diusulkan menjadi Bahasa Internasional. Pasalnya, di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) sendiri, Bahasa Indonesia sudah memenuhi persyaratan sebagai bahasa pengantar untuk kawasan ASEAN, menanggapi hal itu, Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc. mengatakan Bahasa Indonesia kedepan bakal menjadi Bahasa Internasional.

“Setahu saya yang diwacanakan menjadi bahasa Internasional adalah Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Melayu,” kata Prof yang menyukai pantun ini. Syafsir Akhlus juga mengatakan untuk menggolkan bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional perlu pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Selasa (14/06/2016).

“Yang perlu diperkuat adalah pengembangan ukuran kemampuan berbahasa Indonesia bagi penutur asing (semacam TOEFL). Saat ini sudah ada Program BIPA, yaitu, Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing, tetapi masih belum lengkap instrumen pengukurnya,” katanya.

Sementara upaya yang bisa dilakukan agar Bahasa Indonesia bisa menjadi Bahasa Internasional, ia menambahkan pertama pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan RI harus memperkuat standar Berbahasa untuk Bahasa Indonesia, kedua diwajibkan seluruh mahasiswa asing yang berstudi di Indonesia untuk berbahasa Indonesia pada komunikasi formalnya dan yang ketiga menggunakan ungkapan-ungkapan berbahasa Indonesia pada forum internasional serta yang keempat mewajibkan seluruh tenaga kerja yang akan bekerja di Indonesia memiliki kemampuan berbahasa Indonesia minimal tingkat dasar, ungkap Syafsir Akhlus yang juga Ketua Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS PTN) wilayah barat ini. (inforakyat.KEPRI)13308715_1756373734641917_6254894949759588955_o-1024x682

 

UMRAH kehilangan sosok sumber daya yang handal

Mantan-Wakil-Rektor-UMRAH-Prof-31po39ycehz2vnd3ibttze

Tanjungpinang – Prof. Firdaus setelah tidak menjabat kembali menjadi Wakil Rektor (Warek) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, Rabu (22/06) siang, diketahui bakal menjadi dosen biasa di Universitas Riau (UNRI) Pekanbaru.

Hal ini juga diucapkan Firdaus saat  usai Pelantikan Pejabat Struktural UMRAH di Lantai II Kampus UMRAH Dompak  Tanjungpinang.

“Saya besok (red, Kamis) akan balik ke UNRI sebagai dosen biasa. Semoga UMRAH bisa lebih maju lagi,” ucapnya dengan sedikit sedih.

Selain itu, Firdaus berpesan, agar seluruh pimpinan dan staf bekerja keras lagi untuk membangun UMRAH lebih baik. “Paling penting harus bisa merubah pola pikir civitas akedemik. Jangan menggunakan pola pikir lama,” pesannya.

Sementara, Rektor UMRAH Prof. Syafsir Akhlus mengatakan, sebenarnya UMRAH merasa kehilangan dengan Sumber Daya Manusia (SDM) seperti Prof. Firdaus.

Apalagi, kata Syafsir Akhlus, UMRAH saat ini masih membutuhkan SDM yang handal agar lebih baik kedepan. Bahkan, Syafsir juga telah mendata SDM yang handal dari Kepri tetapi bekerja di Universitas lain didaerah Indonesia.

“UMRAH memang merasakan kehilangan SDM handal seperti Pak Firdaus. Tapi kami tidak bisa menariknya dari UNRI begitu saja. Jadi saya harapkan SDM handal yang ada di Kepri, bisa balik untuk membangun UMRAH,” ucap Syafsir Akhlus.
sumber: Kepriday.com

Menristekdikti akan Evaluasi Penerimaan Mahasiswa Baru

mnbmv

jakarta-  Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D, Ak.mengatakan akan mengevaluasi penerimaan mahasiswa baru.

“Sistem penerimaan mahasiswa ke depan akan dievaluasi. Banyak anak Indonesia pada Desember atau November sudah ada penjaringan perguruan tinggi asing. Sehingga anak kita yang pintar-pintar sudah punya kepastian diterima di perguruan tinggi asing,” ujar M. Nasir, Selasa (28/6).

Dia menambahkan pihaknya juga akan memperpendek penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri.

“Kami mau seleksi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Jadi tidak terbatas waktu, tujuannya agar proses lebih sederhana seperti di perguruan tinggi asing. Contohnya seperti perguruan tinggi asing yang hanya mensyaratkan TOEFL dan GMAT,” tambah dia.

Selain itu, evaluasi tersebut dimaksudkan agar dapat menjaring calon-calon mahasiswa yang berprestasi.

“Kalau berdasarkan waktu, bisa tidak kalau sebelum lulus SMA dilakukan seleksi.”

Kemristekdikti akan membuat formulasi agar calon mahasiswa bisa ikut tes masuk PTN lebih dari sekali.

“Kalaupun tes ini dipertahankan maka akan dikembangkan dengan sistem berbasis komputer. Kalau tahun ini hanya 2.500 peserta, tahun depan diusahakan jadi 20.000 peserta untuk tes berbasis komputer,” terang Mantan Rektor Universitas Diponegoro itu.

Ketua Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Rochmat Wahab, mengatakan perubahan jadwal seleksi mungkin saja bisa dilakukan.

“Tapi yang mungkin bisa diubah yang SBMPTN karena kalau yang SNMPTN dilakukan harus menunggu nilai UN dulu,” kata Rochmat

Sumber: Antaranews.com

Mengenal Berbagai Rupa Kekerasan dalam Sejarah Indonesia

gambra

Judul                     : Jurnal Sejarah histma: Wajah Kekerasan Masa Lalu

Penulis Konten       : Iqbal Rizaldin, Dhimas Difka S., Satrio Dwicahyo, Siti Utami Dewi Ningrum,  D                                                   imas Fadillah Putra, Iqbal Awal, Adhi Pandoyo
Penerbit                   : Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah FIB UGM, Jl. Nusantara 1 Bulaksumur                                                      Yogyakarta.
Tahun Terbit           : 2013
Tebal                       : iv+79 halaman
Harga                      : Rp 15.000

 

Dalam proses mempelajari sejarah, kisah-kisah yang paling menarik untuk ditelisik adalah yang melibatkan tragedi. Kebiadaban manusia yang telah menjadi cerita masa lalu bisa menjelma momok sekaligus candu dalam pikiran. Membuat setiap orang ingin mengetahui sebab-sebab hal itu terjadi, sambil berharap di masa kini tak terjadi lagi. Namun nyatanya kekerasan ada dari masa ke masa. Dalam berbagai bentuk. Dan sering hal itu menjadi benang merah antara pendahulu kita dengan masyarakat masa kini. Ide tentang kekerasan mengendap dalam pikiran, kemudian berevolusi menjadi beragam sistem yang mungkin kini kita kenal dengan nama berbeda, namun sejatinya hal tersebut telah ada berabad lalu.

Sangat menarik untuk mempelajari sedikit sejarah mengenai kekerasan dalam berbagai bentuknya di Indonesia. Jurnal sejarah histma terbitan Badan Keluarga Sejarah FIB UGM Vol.3/Desember 2013 lalu khusus mengulas mengenai topik ini dalam beberapa artikel. Terdiri dari 4 jurnal, 2 artikel opini, dialog dan resensi buku, terbitan ini mencoba menguak wajah-wajah kekerasan di Indonesia di berbagai masa.

Masa kolonial dan revolusi masih mendapat porsi kajian yang cukup banyak mengingat waktu itu kekerasan yang dilancarkan terhadap kaum pribumi telah menjadi keseharian. Sisi lain kolonialisme menunjukkan kekerasan berbasis budaya patriarki yang sangat merugikan kaum wanita (Sarina dan Tentara Kolonial: Kekerasan Terhadap Nyai Tangsi pada Masa Kolonial Hindia Belanda di Jawa). Selain itu, di sela-sela revolusi ternyata ditemukan kisah kelam dari kaum minoritas Tionghoa yang (masih saja) menanggung stigma negatif hingga mendorong terbentuknya organisasi paramiliter untuk melindungi mereka (Pao An Tui di Dua Kota dalam Kancah Revolusi Indonesia).

Kekerasan rupanya tak hanya mewariskan kisah yang dituturkan maupun dituliskan, namun juga terekam dalam karya seni. Seni rupa dan sastra tak bisa dimungkiri pernah menjadi salah satu wadah aspirasi saat suara kaum bawah dibungkam. Hingga kini, getaran rasa dari beberapa karya estetis seniman Indonesia tersebut seolah rekaman luka dari masa lalu. (Ketika Seni Merekam Luka: Seniman Indonesia Pasca Kolonial dan Konteks Karyanya).

Dan siapa tahu kalau Indonesia telah akrab dengan terorisme atas nama agama jauh sebelum peristiwa Bom Bali? Terorisme atas nama agama di Indonesia agaknya dipicu oleh kebangkitan organisasi sayap kanan kala mereka diberi ruang untuk menjadi attack dog dalam pemberantasan komunis. (Teror di Masa Aman: Terorisme di Indonesia 1978-1985)

Karya-karya ilmiah dengan sudut pandang yang cukup menarik tersebut dibangun dengan kerangka referensi dari beragam karya tulis. Sumber sekunder memang menjadi alternatif utama dalam penyusunan fakta sejarah yang terjadi puluhan bahkan ratusan tahun lampau. Namun penggunaan tutur dari aktor yang terlibat akan menghasilkan kisah yang lebih mengena. Hanya satu jurnal yang menggunakan data wawancara dengan pelaku yang masih hidup. Tak terlalu jadi soal, menyusun sejarah yang terpenting adalah akurasi fakta-fakta sosial berdasar sumber yang terpercaya.

Usai menyelami empat kisah sejarah, jurnal ini masih menawarkan tulisan-tulisan yang menggelitik pemikiran lewat opini dan dialog. Bagaimana militerisme di masa lalu menjelma premanisme di masa kini. Bagaimana seorang pahlawan republik harus tamat riwayatnya dengan terhina akibat satu pemberontakan atas nama ideologi. Dan akhirnya tetap ada pertanyaan besar yang terus menghantui setiap orang yang memiliki nurani. Mengapa kekerasan selalu menampakkan wajahnya yang paling kejam pada rakyat kecil yang tak berdaya?

Terlepas dari segala kekurangannya, termasuk tampilan yang menurut saya kurang menarik, jurnal histma ini patut menjadi bacaan bagi para peminat ilmu-ilmu sejarah, sosial, dan politik.

(Beto)

Tentang Kegelisahan

 

Hidup baru menjemputku selepas dari Buru. Nyala terang dunia gemilang sesekali menyilaukan pandang. Sepagi ini ada nyata yang menyemat perih; geliat dari mereka yang berkontestasi diatas panggung merah putih. Sesiang ini ada yang membuatku tersadar; ingatan tentang sejarah berlumur darah yang semakin memudar. Sesore ini ada harapan yang kemudian putus terbakar realita; kesejahteraan yang hanya menjadi utopia.

Tentang kegelisahan. Tentang kegelisahan.

Aku manusia bebas, namun mengapa serasa ada batas? Antara aku dan mereka, hanya predikat manusia yang membuatku ada walau bias terasa. Inikah hidup yang dijanjikan Tuhan? Benarkah aku seorang yang tidak bersih lingkungan? Berkawan pun menjadi hal yang sangat sulit aku wujudkan. Apalagi keharmonisan dalam bermasyarakat, hingga berkarat tak akan pernah aku dapat.

Tentang kegelisahan. Tentang kegelisahan.

Palu tak lagi menyatu dengan arit yang berbentuk bulan sabit. Bintang merah pun tak lagi bersinar ditengah hingar bingar yang gelisah ditawan saudagar. Sejarah yang berlumur darah seakan enggan untuk dijamah. Bicara hak asasi manusia, hanya akan mengundang gelak tawa dari mereka yang menelan konstruksi sejarah dari Paman Gober. Waktu hanya dapat membatu, membisu hingga tubuh ini kaku.

Tentang kegelisahan. Tentang kegelisahan.

Apa yang aku cari di dunia yang kian hari kian tak berperi? Apa yang aku dapat dari dunia yang pekatnya semakin menjerat? Apa yang dapat aku harapkan dari pemerintah?
Aku hanya ingin hidup, seperti manusia tanpa perlu meredup.
Aku hanya ingin bebas, dari konstruksi sejarah yang tidak pernah jelas

 

KISAH PILU SEORANG PEJUANG BERSAMA ‘MAP KUNING NYA’

 

 

Sebuah karya curahan hati, yang kutujukan kepada para ‘kaum pengajar’ yang terhormat . Tanpa ada unsur SARA, menjelekkan pihak tertentu, apalagi sampai menyinggung. Ini hanya celotehan dari seorang yang sedang dalam proses penyelesaian studinya, yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan, yang banyak kekurangannya. Mohon segala kritik dan sarannya demi menunjang terciptanya masyarakat yang aman, damai, sejahtera, dan bisa tidur dengan nyenyak bersama seluruh tugas akhirnya. Selamat menikmati bagi yang menghargai, dan selamat sakit hati bagi yang tidak paham makna ini. Hehe  (Somewhere in this earth, 26 Oct ’14 ; 11pm)
SenandungSenja~

Hari ini, ternyata masih sama seperti hari kemarin. Langkahku masih gontai, masih malas rasanya menjejakkan kaki ini ke tanah. Pemandangan indah di kiri dan kanan diri pun seolah tak menarik buatku. Padahal begitu banyak keindahan yang cukup bisa membuatku tersenyum simpul atau sekedar membuat mataku segar.

Masih jelas terbayang, dua hari yang lalu semangatku begitu berapi-api menyelesaikan ini. Dengan sejumlah dopping (roti, kerupuk beras, kopi susu, teh hangat, serta semangkuk mie instant), mata ini tak lepas dari layar laptop kreditanku. Konsentrasi begitu penuh rasanya kutuangkan saat aku melakukan ini. Sesekali kulirik BB dan handphone senterku, apakah ada pesan penyemangat dari orang terdekatku. Ya, karena selain doa dan semangat dari orangtuaku, support dari sang pacar juga menjadi salah satu hal yang paling berpengaruh dari proses ini.

“Latar belakang, Rumusan masalah, Kajian teori, blablabla…” Oke, selesai. Tinggal di ajukan saja esok. Ah, rasanya begitu tidak sabar menunggu hari esok. Menunggu keputusan dari hasil jerih payahku.

 

Apapun hasil keputusannya, mentalku sudah harus siap menerimanya. Revisian judul sudah jadi ‘kunyahan’, penggunaan teori yang diluruskan sudah jadi ‘cemilan’, dan data yang lengkap juga mutlak harus jadi ‘main course’ didalam proses penyakralan benda ini.

Hari yang ditunggu tiba. Dengan kemeja biru, jeans panjang, dan sepatu ketsku, aku terlihat percaya diri. Ditambah lagi dengan ‘Map Kuning’ yang kupeluk. Kuakui, agak sedikit gemetaran langkahku saat menyusuri anak tangga fakultasku. Ditambah lagi keringat dingin yang sudah mulai berdatangan saat kubuka pintu ruangan jurusanku.

“Permisi,”..  Ujarku.

“Eh iya, silahkan masuk”. Sahut ‘Petinggiku’

“Ini tugas saya. Sudah saya revisi sesuai arahan. Mohon bimbingannya” Ujarku lagi.

“Oke kamu tinggalkan saja dulu disini, nanti saya baca. Karena saya sekarang sedang ada urusan jadi mungkin tidak bisa saya periksa sekarang.” Tegasnya dengan wajah yang flat dan acuh tak acuh.

“……. (speechless beberapa saat ). Oh, baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak. Saya permisi dulu.” Kataku dengan intonasi kecewa yang tak bisa lagi kututupi.

Akupun keluar ruangan dengan wajah yang tertunduk lemas, bak sehabis digantungkan perasaannya terhadap manusia yang dicintainya. (Loh ?! PHP Maksudnya ?! Zzzzzzz)

Dua hari telah berlalu, aku kembali ke Gedung megah ber-genre Negeri yang bermacam ragam pemandangan disekelilingku. Sesekali aku tersenyum kepada teman-temanku, dan kembali memasang wajah flat plus bimbang karena masih shock akibat tragedi eksekusi ‘map kuning’ku…

Tok..tok..tok.. Kembali aku mengetuk pintu ruangan ‘suci’ itu.

 

“Permisi, saya mau bertanya. Tugas saya yang tempo hari bagaimana ya kelanjutannya ? Apakah sudah dibaca lalu dikoreksi ?” Tanyaku pada salah satu petugas jurusanku.

“Tugas yang mana ya ? Atas nama siapa ? Kamu ? Emang yakin kamu punya bakalan dibaca ? Yakin kamu bakalan lulus ?” Jawab petugas tersebut sembari melempar senyum sinis.

Jlebb! Seolah ada kapak 212-nya wiro sableng yang menancap direlung dada ini. Nyerinya Tuhan !!!!  Kali ini aku kembali dibuat speechless (lagi).

“Hehehe, ya yakin dong. Ini kan sedang dalam proses menuju kelulusan. Pelan-pelan dong biar hasilnya maksimal. Ya kalopun saya ndak lulus, urusan saya sama hidup saya dan Tuhan, toh ?!” Ujarku sembari menahan kesal.

“Hahaha, baiklah. Oh ini punyamu. Belum dibaca kelihatannya. Beliau sedang banyak kerjaan. Jadi kamu mesti sabar ya.” Kata si petugas tesebut sembari memilah-milah ‘map kuning’ yang berbaris panjang dalam laci filling cabinetnya.

“Baik. Terimakasih banyak.” Ujarku sambil membuka pintu lalu keluar dari ruangan.

Rasanya cepat sekali 1 minggu berlalu. Dengan tak bosan-bosannya, aku kembali lagi ke tempat bersejarah ini.

Tok..tok..tok.. Kuketuk lagi pintu ruangan itu.

“Permisi, saya balik lagi nih. Gimana, sudah ada perkembangan dari tugas saya ? Sudah hamper 2 minggu saya tinggalkan soalnya.” Tanyaku pada petugas yang sama tempo hari.

 

 

“Oh, kamu lagi. Sebentar saya cek.”Jawabnya sambil mengobrak abrik isi dalam tumpukan ‘map kuning’ yang berjejer diatas mejanya.

Berjejer, ya bertumpuk juga lebih tepatnya. Aku curiga, jangan-jangan malah ada yang sampai berdebu atau bersarang laba-laba. Hahaha 😀

“Ini punyamu. Sudah diperiksa, sudah diberi pembimbing tetap juga, dan sudah ada revisiannya lagi ya. Hahaha” Ujarnya sambil kembali duduk ke mejanya.

“Alhamdulillah, setidaknya mulai ada titik terang dari ini semua. Ya, paling tidak melihat coretannya saja aku sudah bahagia. Bagaimana lagi jika kulihat tanda tangannya yang meng-acc untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Bisa sujud syukur aku diatas atap gedungku. Se-excited itu kah ? YA !

Singkat cerita, hari sakral itu akan segera  tiba. Rekan-rekan yang berjuang sepertiku, lebih dulu menjadi A Lucky Person. Sudah mulai persiapan fitting kebaya, membeli jas, menyewa toga, dan hal-hal yang membuatku menangis di pojokan kamarku. Aku lihat ada rona bahagia diwajah mereka. Aku fikir, mereka adalah rekan ‘Satu Ibu’ku. Rupanya tidak, mereka adalah anak ‘Ibu sebelah’. Setelah kutelisik, anak-anak ‘Satu Ibu’ku , yang menyewa kebaya dan jas, bisa dihitung menggunakan jari jumlahnya, dan dari ‘Bapak’ yang berbeda pula. Se-miris itukah ?! YA ! Ckckckckc…

“Belum barengan kita tahun ini ?!” Teriak satu rekanku disaat H-2 menuju prosesi ‘penyakralan’ mereka.

“Belum nih. Masih proses penyelesaian.” Jawabku sembari menggenggam erat ‘Map Kuning’ku.

“Oh oke deh. Eike duluan lah ya cyiiinn.” Ujarnya sambil tertawa girang riang gembira ala mak lampir agaknya.

 

Aku tak menjawab, aku teruskan langkahku menuju tangga gedung sambil terus mengepit dan memandang miris ‘map kuning’ku.

“Heh, kamu napain disini ?! Belum sama mereka disana ?!” Kata seorang ‘Petinggi’ yang belum kulihat wajahnya dan baru kedua kakinya yang bersepatu yang kupandang.

“Eh anu…itu.. belum sekarang !!!!” Teriakku kencang dengan nada terkejut hingga terjatuhlah ‘Map Kuning’ bagian dari hidupku itu………

 

 

To be continued…..

 

Penulis :  Irma sari mahasiswa sosiologi

UMRAH Nilai Pernyataan Kadisdik Kepri Tidak Berdasar

dosen-umrah

 

Persma Kreatif Fisip Umrah, Tanjungpinang- Pihak Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Tanjungpinang menegaskan dana hibah yang bersumber dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dipergunakan untuk kegiatan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Jadi klaim Kepala Dinas Pendidikan yang menyatakan bahwa penggunaan dana hibah tidak jelas, merupakan pernyataan yang tidak berdasarkan fakta yang sebenarnya,” katanya.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Biro Umum Perencanaan dan Keuangan (BUPK) UMRAH Edison, di Tanjungpinang, Selasa, menanggapi komentar Kepala Dinas Pendidikan Kepri Yatim Mustafa yang hingga saat ini bersikeras tidak memberi surat rekomendasi pencairan dana hibah.

“Sesuai dengan salah satu klausul dalam Peraturan Presiden pendirian Umrah, pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berkewajiban membantu membiayai Umrah selama minimal lima tahun sejak bantuan diberikan. Karena bantuan dalam bentuk hibah diberikan mulai tahun 2012, maka akan berakhir tahun 2016 ini,” ujarnya yang juga Deputi Polsoskam BPKP.

Dia menjelaskan hibah yang diterima selama kepemimpinan Rektor Umrah Prof Syafsir Akhlus sejak Juni 2014-2015 sebesar Rp18 miliar, masing-masing sebesar Rp8 miliar tahun 2014 dan Rp10 miliar tahun 2015.

Hibah tersebut digunakan untuk membayar gaji pokok, tunjangan keluarga, dan tunjangan prestasi kerja pegawai dan dosen non PNS serta honor kelebihan jam mengajar dosen non PNS.

Hibah sebesar Rp103 miliar untuk pembangunan fisik serta Rp50 miliar dalam bentuk uang tunai diterima dan digunakan dalam periode rektor sebelumnya yang diturunkan di tengah jalan. Hibah untuk pembangunan fisik sebesar Rp103 miliar juga langsung dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau.

“Hibah yang diterima dari Pemerintah Kepri sesuai dengan peraturan yang berlaku, diregistrasi ke Kementerian Keuangan RI dan dimasukkan ke dalam DIPA Umrah,” katanya.

Di awal kepemimpinan Prof Syafsir Akhlus, kata dia hal pertama yang dilakukan memperbaiki kesejahteraan pegawai dan dosen non pns yang sebelumnya digaji tidak layak dengan menaikkan gaji pokok setara dengan pns dan memberikan tunjangan perbaikan penghasilan. “Sumber pembiayaannya berasal dari hibah yang diberikan Pemerintah Kepri,” katanya.

Pada akhir tahun 2015, mulai bulan November, gaji pokok pegawai dan dosen non PNS dibebankan ke DIPA UMRAH dengan konsekwensi banyak kegiatan yang dikorbankan. Dalam tahun 2016, gaji pokok dan tunjangan keluarga pegawai dan dosen non pns sebesar Rp7 miliar dibebankan ke DIPA UMRAH pada komponen BOPTN.

Akibatnya dana untuk kegiatan kemahasiswaan, penelitian dosen, pengembangan dosen sangat tidak memadai.

Jika hibah dari Pemerintah Kepri sebesar Rp15 miliar tersebut dicairkan, maka hanya cukup digunakan untuk membayar tunjangan pegawai dan dosen non PNS serta untuk membayar dana talangan yang digunakan untuk membayar gaji dan tunjangan pegawai dan dosen non PNS bulan September dan Oktober 2015.
Sumber : Metrobatam

ALIANSI MAHASISWA KOTA TANJUNGPINANG GELAR AKSI HARI PANCASILA

20160601_204806[1]

Persma Kreatif Fisip Umrah-  Memperingati Hari Lahirnya Pancasila yang jatuh 1 Juni hari ini, Rabu (31/5) malam ini puluhan pemuda pemudi/mahasiswa kota Tanjungpinang menggelar aksi simpatik dilapangan Pamedan dan sekitarnya . Aksi ini cukup menyita perhatian masyarakat, terutama para pengguna jalan yang melewati lapangan simpang lampu merah pamedan.

Dalam rangka peringatan hari pancasila ini, pemuda pemudi/mahasiswa mengutarakan beberapa aksi yang sebelumnya dimulai dari pukul 7.30  digelar dengan berbagai kegiatan mulai dari menyanyikan lagu indonesia raya , monolog, pembacaan puisi dan teatrikal oleh para mahasiswa dengan suasana yang membangkitan kembali jiwa jiwa semangat kesatuan pancasila

Lahirnya jiwa jiwa mudah anak bangsa mengubah suasana dalam peringatan hari lahirnya pancasila yang di wujudkan dengan berjalan kaki mengitari sepanjang jalan pamedan dengan membawa Pawai Obor yang di ikuti oleh 55 orang  dengan rute mulai dari gerbang lapangan hingga tugu pancasila dengan menyanyikan lagu-lagu nuansa kebangsaan yang dikawal langsung oleh pihak kepolisian Polres Tanjungpinang.

Menurut Nina  aksi ini sebagai penggugah untuk  membakar semangat  kebangkitan pemuda pemudi kepri dan khususnya Tanjungpinang pada semangat pancasila dan untuk mengingatkan kepada masyarakat luas , pemerintah bahwa pada hari ini adalah hari pancasila yang dimana masyarakat kepri lebih memaknai, mengingat dan mengimplementasikan dari nilai-nilai pancasila itu sendiri. Ujarnya selaku korlap

Dalam hal ini Gebri Mulyadi melontarkan pandanganya “Pancasila yang dijadikan dasar dari segala dasar negara indonesia sebagai pengatur tatanan hidup berbangsa dan bernegara kini seolah hanya sebuah tulisan yang dibaca pada saat upacara pengibaran bendera , nilai nilai yang terkandung di dalamnya tak lagi di terapkan, bahkan banyak dari masyarakat yang belum mengetahui makna sebenarnya dari pancasila itu sendiri.
sebenarnya apa yang menyebabkan masyarakat lupa sehingga pancasila itu seakan akan hilang dari tatanan hidup bermasyarakat? Apakah pemerintah yang terlalu sibuk dengan politik yang tak ada habisnya ? mulai dari politik propaganda, politik mata dua, sampai politik cinta dan melupakan tugas dan pungsinya, menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia seperti yang tertera dalam sila kelima . ataukah masyarakat yang dengan sengaaja melupakan sila ketiga “ persatuan indonesia “.

Untuk itu kami segelintir kecil pemuda dan mahasiswa mencoba membangkitkan kembali jiwa jiwa persatuan dan kesatuan itu dengar menggelar aksi damai, dengan harapan mampuh menggugah hati dari semua elemn bahwa betapa pentingnya pancasila dikehidupan .

(Redaksi)