GADIS MADIHIN

 

 

bahan cerpen

Oleh  : Uci Misdawati

Malam dibawah rintikan hujan terdengar suara alunan gendang dan syair dari kakekku yang sedang bermadihin di pondok samping kanan rumahku. Perutku terasa menggelitik dan tak hentinya aku tertawa karena syair syairnya yang sangat lucu namun penuh dengan nasehat yang dirangkai dalam pantun jenaka yang membuatku terhibur jikamendengar kakekku bermadihin. Konon ceritanya, Madihin adalah merupakan genre atau jenis puisi rakyat berbahasa banjar yang bersifat hiburan. Madihin dituturkan dengan cara dihapalkan (tidak boleh membaca teks). Didalam bahasa banjar itu disebut “Bemadihinan”. Bemadihinan ini sudah ada sejak masuknya agama islam kewilayah kerajaan Banjar pada tahun 1526 Ujar kakekku. Kesenian bermadihin biasanya di tampilkan masyarakat pada acara pernikahan dan saat pentas hiburan rakyat. Namun sekarang ini Bermadihin sudah jarang di temui karena kesenian itu kalah hebohnya dengan orgen tunggal yang sekarang ini sering di minati masyarakat.  Kakek sangat terampil dalam mengolah kata sesuai dengan tema dan acara Bermadihin yang ia laksanakan. Tiap malamnya kakek selalu berlatih di pondok ini tua ini bersama sahabatnya yaitu kakek ujang. Walaupun bermadihin sudah kurang diminati, namun dua kakek bersahabat ini sangat optimis, Madihin akan selalu ada pencintanya dan tak akan hilang di kikis Moderenisasi.  Kakek Ujang dan kakekku sangat cocok dalam bermadihin,Kakek ujang adalah seniman musik yang mengiringi syair kakekku dengan gendangnya. Aku pun sepertinya sudah ketularan kakekku karena aku jugaberbakat dalam bermadihin dan membuat cerita lucu.

Adzan subuh telah membangunkan tidurku yang lelap, kemudian terdengar juga suara nenek yang memanggi namaku mengingatkan untuk shoat subuh. Aku kemudian langsung mandi dan berwudhu untuk melaksanakan sholat. Setelah sholat subuh seperti biasa aku membantu nenek menyiapkan sarapan didapur dan kemudian  bersiap-siap untuk pergi kekampus. Aku tinggal bersama kakek dan nenek ku karena ayah dan ibuku sudah dua tahun menghilang akibat kecelakaan pesawat. Sampai sekarang aku tidak tau apakah mereka masih hidup di dunia ataupun sudah tiada,. Namun, yang jelas mereka tiada disisi ku saat ini. Sunggu rasa tersayat hati dan menyedihkan jika mengingat mereka. Jujur dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat merindukan mereka. Jika memang mereka telah meninggal dunia, lalu dimanakah jasadnya ? dan jika mereka masih hidup, kenapa tidak pernah mencari dan menemuiku ?.. Pertanyaan ini yang selalu ada di benakku saat aku merindukan kedua orang tuaku.

“Mutia cucuku, sepatlah bergegas. Itu teman kampusmu sudah menunggu diluar”. Nenek memanggilku.” Iyaaa ini masih bersiap-siap nek, sebentar lagi Mutia keluar”. Sahutku. Setelah bersiap terlihat seorang gadis dengan pakaian yang rapi dan juga mengenakan hijab duduk diatas motor maticnya sepertinya sudah siap untuk pergi bersamaku menuju kampus yang bukan lain adalah sahabatku Syifa. Syifa adalah cucu dari kakek Ujang sahabat sekaligus rekan kakekku dalam bermadihin. Hari ini syifa menjemputku karena motorku akan dipakai oleh kakek untuk pergi bermadihin di desa sebelah bersama kakek ujang.

Sesampainya dikampus, aku dan Syifa berlari menuju kelas karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.15, untungnya dosen belum masuk karena toleransinya hanya 15 menit. Bersyukurlah aku pagi ini.  Setelah keluar kelas, perut kami terasa lapar akibat sama-sama belum sarapan dirumah. Aku dan Syifa pun langsung menuju kantin untuk mengisi perut kami yang keroncongan. Saat berjalan menuju kantin, aku melihat papan mading kampus dan yang menarik perhatianku adalah di situ ada pengumuman bahwa telah dibuka pendaftaran untuk Festival Budaya Nasional yang diadakan oleh Balai Bahasa kota Pekanbaru. Terlintas di pikiranku untuk mengikuti festival ini. bukan hanya untuk menguji dan mengadu bakat tapi tujuan utamaku adalah untuk memperkenalkan dan menghidupkan lagi kesenian budaya Bermadihin bagi masyarakat banjar  yang ada di Riau.  Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung mencatat kontak yang bisa dihubungi untuk pendaftaran festival budaya nasional ini. dan kemudian kami melanjutkan acara sarapan kami yang tertunda dikantin kampus akibat pengumuman yang mengalihkan perhatianku.

Siang pun berganti dengan indahnya malam dengan rembulan yang terang menderang dilangit. Kakek dan enek pun duduk diteras sambil menyantap teh dan pisang goreng hangat buatanku dan nenek.  Aku pun ikut duduk bersama bersama mereka. Perbincangan hangat bersama mereka membuatku teringat akan Festival budaya yang tadi ku baca di papan mading kampus. “Kek, nek, aku ingin membicarakan suatu hal. Ucapku memuka pembahasan”. “Apa itu cu ? apakah kamu bermasalah dikampus ?, jawab nenek. Oh tidak nek, mana mungkin cucu nenek yang sebaik ini bermasalah dikampus” Celetukku. Kakek kemudian bertanya” Lalu apa yang ingin kamu bicarakan, sepertinya penting sekali ?”. Ia kek ini penting, tadi aku melihat pengumuman di papan mading kampus, ada acara Festival budaya nasional kek, aku ingin sekali mengajak kakek untuk ikut festival ini. Awalnya kakek ragu, Namun akhirnya ia setuju untuk ikut karena melihat cucu nya ini sangat antusias untuk mengikuti acara ini dan aku pun langsung menghubungi panitia penyelenggara dan mendaftarkan grup madihin kami. “Tapi ingat tanyakan dahulu pada Kakek ujang, apakah dia mau untuk maju bersama dalam festival ini, kau liat sendiri kami ini sudah tua begini cucu ku”. Ucap kakek. “Fisik kakek memang terlihat tua, tapi jiwa muda dan jenaka kakek masih ada, baiklah kek, besok akan aku tanyakan kepada kakek ujang”. Kakek dan nenek ku pun tertawa mendengar celotehanku itu.

Keesokan harinya, di pagi minggu yang cerah aku, kakek dan nenek berjalan santai bersama mengelilingi kampung. Namun saat kami melewati rumah kakek ujang terlihat Syifa sedang termenung di depan rumah. Lalu ku hampiri ia dan bertanya “ Kenapa syifa ? wajahmu murung sekali, kamu sendirian dirumah ?”. “Mutia kakekku baru saja dibawa kerumah sakit, kakekku terkena serangan jantung tadi setelah sholat subuh. Deggg!! Aku, kakek dan nenek sontak terkejut mendengar kabar ini. setelah mengetahui ini kami bertiga pun berpamitan pulang dan ingin langsungpergi ke Rumah sakit untuk menjenguk kakek ujang yang terbaring lemah di rumah sakit. Padahal hari ini aku ingin mengajak kakek ujang mengikuti Festival budaya, namun sepertinya ada halangan seperti ini. Padahal grup madihin kami sudah aku daftarkan di Festival.

Sesampainya di Rumah sakit aku melihat kakek Ujang memang terbaring lemah di ruangan perawatan. Setelah dua minggu kkakek ujang dirawat, kakek ujang tidak sadarkan diri selama itu, kami pun menjenguk kerumah sakit lagi. Ku lihat raut wajah kakekku yang sangat bersedih karena sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri itu lemas tidak berdaya dan tak sadarkan diri. Kemudian kakekku duduk disebelah kakek ujang dan berbisik “Semangatlah jang, bangun dan lawan penyakitmu, kami disini selalu mendoakanmu, ingatkah kau kita selalu bermadihin bersama sama”. Dan tidak terasa air mata kakek ku menetes. Aku pun ikut bersedih melihat persahabatn dua kakek kakek ini. mereka dipertemukan karena sebuah kesenian madihin yang menjadi profesi mereka berdua yaitu Seniman madihin.

Festival Budaya Nasional Tinggal  dua minggu lagi, aku dan kakek selalu berlatih berbalas pantun dan bersyair dalam bahas banjar, namun iringan gendang yang seharusnya dilakukan oleh kakek ujang tiada terdengar. Lagi lagi kakekku bersedih mengingat kakek ujang. Lalu kakekku bercerita bahwa mereka sudah lama ingin mengikuti Festival Budaya ini, karena kami rasa bermadihin ini memang sudah hampir punah dan langka di Riau ini, kami berdua hanya ingin memperkenalkan dan menghidupkan lagi kesenian yang dulu menjadi hiburan para masyarakat banjar yang ada di Riau. Mendengar semua itu aku makin bersemangat untuk terus berjuang dalam festival ini.

Tok tok tok” Assalamualaikum. “ Walaikumsalam. Sahutku. Setelah mebukakan pintu kulihat Syifa dan Ayahnya yang ingin bertamu lalu langsung kupersilahkan mereka duduk dan tak lupa pula ku panggilkan kakek dan nenek. “Wah, nak Bagas apa kabarnya ini? bagaimana keadaan bapakmu sekarang?” Ujar kakek ku. “Alhamdulillah saya baik pak, kalau Bapak saya masih belum sadarkan diri pak. Maksud saya kesini, saya ingin menanyakan kepada bapak, apa benar bapak dan cucu bapak Mutia ingin mengikuti Festival budaya nasional minggu depan ?” ucap pak Bagas.  Ia om Bagas, aku dan kakek mengikuti festival itu, namun kami tidak ada pengiring gendang dalam madihin. “Nah itu dia, saya bersedia membantu untuk itu, karena saya juga lumayan mahir memainkan gendang madihin, karena ini juga berkat ajaran bapak saya, Dan saya juga ingat, kalau festival seperti ini adalah salah satu impian bapak saya, namun mengingat keadaannya sekarang, saya akan berusaha menampilkan yang terbaik untuk bapak saya”. “Alhamdulillah”. Terucap dari mulutku dan kakek secara bersamaan. Akhirnya seniman dalam madihin kami sudah lengkap. Dengan waktu yang kurang dari seminggu kami terus berlatih untuk menampilkan yang terbaik.

Akhirnya hari yang dinanti nanti pun tiba, aku, kakek, dan om Bagas memakai baju adat Banjar, diantara mereka memang aku yang paling muda, inilah yang mebuat beda, karena biasanya penampilan bermadihin hanya ditampilkan oleh orang orang yang sudah lanjut usia. Namun sebelum berangkat ke festival, kakekku ingin menemui sahabat karibnya yang masih terbaring di Rumah Sakit. Sesampainya dirumah sakit kami membiarkan kakek berbincang dengan kakek ujang, walaupun kenyataannya kakek ujang tidak bisa merespon. Kami hanya memperhatikan dari luar, kakekku memohon restu kepada kakek ujang supaya kami bisa menang dalam festival, karena kemenangan ini di hadiahkan uang sekian juta dan yang paling penting adalah Program Tv yang akan menayangkan kesenian budaya yang di miliki oleh pemenang dalam festival ini yang akan ditayangkan pada setiap malam sabtu. Dengan berlinang air mata kakekku berbincang dengan kakek ujang. Karena waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi, akhirnya kami harus bergegas menuju festival karena 30 menit lagi giliran kami yang menampilkan kesenian budaya madihin. Namun, kami terkejut, saat kakekku beranjak pergi, tangannya terasa di genggam da ternyata kakek Ujang sadarkan diri, kemudian Ia tersenyum mengangguk seolah menyemangati kami untuk bisa memenangkan festival ini.kemudian kami langsung berangkat ke Festival dengan semangat ditambah lagi kakek ujang yang sudah sadarkan diri dari komanya.

Sesampainya disana, kami langsung dipanggil naik ketas panggung untuk menampilkan kesenian budaya banjar yaitu “Bermadihin”. Semua orang yang menonton terasa selalu tertawa dan merasa terhibur dengan syair jenaka dan bernasehat yang kami tampilkan. Kemudian tepuk tangan mereka lah yang membuat kami sedikit lega untuk menampilkan bermadihin kami ini. Setelah semua peserta tampil, tiba lah pengumuman pemenang dalam festival ini. Dan ternyata kami memenangkan Festival Budaya Nasional yang diadakan oleh balai bahasa kota Pekanbaru,. Kami sangat bersyukur dan sangat bahagia, akhirnya apa yang kami semua harapkan tercapai. Setelah pengumuman pemenang tiba –tiba nenek dan syifa datang dengan tergesa-gesa, dan pada akhirnya kami mendapatkan kabar duka, bahwa kakek ujang telah Meninggal Dunia.

 

 

Selesai ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *